Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Enterpreneurship 10 Maret 2018   09:50 WIB
Ketika Teknologi, Politik, Bisnis dan Media Berubah, Bagaimana dengan Puisi?

Ketika teknologi, politik, bisnis, dan media berubah, bagaimana dengan puisi?

Denny JA

(Catatan dari diskusi Pro Kontra Puisi Esai Jilid 2).

Ini era datangnya revolusi industri ke empat. Banyak hal sudah berubah. Ini era IOI atau Internet of Things. Segala hal semakin terkoneksi dengan internet.

Berkembang kecerdasan baru dalam artificial inteligence. Komputer mengalahkan juara dunia catur. Robot bisa bicara, membuat humor. Satu dari robot cerdas itu, bernama Sophie, sudah pula pertama kalinya diberi status sebagai warga negara.

Media berubah. Surving di internet mengalahkan waktu mendengar radio, baca koran bahkan menonton TV di ruang tamu. Semakin banyak generasi milineal mencari berita dan hiburan dari internet.

Calon presiden di Amerika Serikat menyatakan diri maju tak lagi lewat konferensi pers. Kini cukup lewat akun twitter, Capres itu mengupload satu tweet: “Saya menyatakan diri siap menjadi presiden berikutnya.” Dunia langsung mengutip.

Cara publik menonton film semakin banyak lewat internet. Bioskop semakin pindah ke dunia virtual. Juga perpustakaan. Juga industri musik.

Penjualan di toko online mengalahkan toko konvensional. Manusia paling kaya saat ini bukan pemilik tambang, tapi pemilik toko online Amazon.Com.

Berbahagialah mereka yang hidup dalam era ini. Telah datang generasi yang besar.

-000-

Namun ketika semua dimensi masyarakat berubah, bagaimana dengan dunia puisi? Adakah generasi ini juga melahirkan cara baru penulisan puisi? Ataukah ketika dimensi lain berubah, puisi tetap sama sama seperti dulu?

Sekelompok intelektual, penulis, aktivis, jurnalis dan dosen di Indonesia, membuat sebuah ikhtiar. Mereka tak ingin dunia puisi seperti itu itu saja ketika bidang hidup lain mengalami revolusi perubahan.

Mereka bereksperimen membuat genre baru penulisan puisi yang disebut puisi esai. Tentu saja genre ini tetap berinduk pada puisi, dan prosa lirik. Namun ditemukan sisi baru di sana.

Puisi esai itu sangat panjang. Hadir drama di sana layaknya cerpen. Bahasanya mudah, bisa dipahami awam, tak eksklusif hanya dimengerti kaum elit sastra. Puisi esai ini tak hanya berkisah soal anggur dan rembulan, namun ada peristiwa sosial nyata yang menjadi latarnya.

Dalam dunia novel, genre historical fiction itu biasa. Puisi esai memgambil pula unsur itu, dengan modifikasi, sebagai latar puisi. Ketika puisi esai bercerita soal anggur dan rembulan, misalnya, anggur dan rembulan itu diletakkan dalam konteks sebuah peristiwa sosial yang memang pernah terjadi dalam sejarah.

Tak nanggung, genre baru ini mereka eksperimenkan dalam penulisan 34 buku dari 34 provinsi. Semua menggunakan genre puisi esai yang sama, memotret batin Indonesia.

Sebanyak 170-175 penyair plus 34 akademisi sastra pemberi kata pengantar terlibat. Tersaji sudah 170-174 isu sosial dari seluruh Indonesia dalam puisi.

Ada kasus keluarga yang pecah karena konflik gerakan Aceh Merdeka. Ada kisah seorang Ayah di Papua mengendong anaknya melintasi hutan selama 10 jam untuk sampai pada klinik terdekat.

Ada kisah sebuah kota yang bangga warganya menjadi pencopet yang sukses di luar negeri. Ada masyatakat yang percaya sebuah bintang akan jatuh di sebuah rumah sebagai tanda giliran anggota keluarga itu untuk bunuh diri. Dan banyak lagi lainnya.

Itulah ragam budaya indonesia. Untuk tahu 170 isu sosial di Indonesia, kita tak perlu membaca 170 buku riset. Tapi cukup membaca 170 puisi esai. Kisah itu ada di sana dan dituliskan secara puitis, lengkap dengan catatan kaki sebagai sumber informasi.

Dalam program puisi esai itu, tak ada dana pemerintah dan campur tangan lembaga negara manapun. Ini gerakan murni civil society: dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Mereka membiayai sendiri gerakan kultural ini.

Kemarin, 9 Maret 2018, untuk kedua kalinya, komunitas puisi esai melakukan temu darat.

-000-

Ini ringkasan dari kopi darat puisi esai yang kedua. Saya kutip isi diskusi itu dari aneka berita.

Berbeda dengan puisi biasa, puisi esai memperkaya studi tentang Indonesia. Ia dapat memberikan data sekunder mengenai sisi kultural, psikologis dan antropologis untuk memahami masyarakat Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Puisi jenis lain tidak memberikan hal itu karena bahasanya terlalu ekslusif. Sedangkan bidang non-sastra kurang mengekspresikan sisi batin sebuah isu sosial.

Demikian disampaikan Dr Rasiah M. Hum, akademisi, dosen dan kritikus sastra asal Sulawesi Tenggara. Ia bicara dalam diskusi soal pro konta puisi esai ke 2, di Yayasan Budaya Guntur, Jumat 9 Maret 2018.

Dhenok Kristianti, guru bahasa dan penulis puisi esai juga menceritakan pengalamannya. Menurut Dhenok, puisi esai mendekatkan puisi kembali kepada masyarakat. Isu yang diangkat puisi esai umumnya isu sosial yang memang sudah dikenal penduduk setempat.

Apalagi yang istimewa, penulis puisi esai tak harus penyair. Sekitar 50 persen penulis puisi esai adalah dosen, jurnalis, aktivis, guru, bahkan ibu rumah tangga. Puisi tak lagi elitis namun kembali menjadi milik masyarakat.

Moderator diskusi Sastri Sunarti Sweeney dan stand up komedian Mo Sidik meramaikan acara. Isti Nugroho selaku tuan rumah Yayasan Budaya Guntur 49 mengatakan bahwa acara diskusi ini sengaja dikemas serius tapi santai. Ada akademisi, pembaca puisi dan juga komedian yang membuat tertawa.

Acara pro kontra puisi esai ini sangat diminati. Peserta berdiri hingga di luar pagar. Denny JA yang dianggap penggagas puisi esai memilih tak hadir dalam diskusi. Menurut Denny, biarlah publik yang bicara. Justru pembicaraan lebih apa adanya jika saya tak hadir.

Ujar Denny, segera terbit 34 buku puisi esai di 34 provinsi yang melibatatkan 170 penyair dan penulis. Mereka bersama memotret batin Indonesia.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, pembicara dalam diskusi mengamini telah lahir genre baru sastra Indonesia: Angkatan Puisi Esai.***

Karya : Denny JA