Ada Pelangi di Setiap Dunia, Termasuk Pada Puisi

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 18 Februari 2018
Ada Pelangi di Setiap Dunia, Termasuk Pada Puisi

 

Ada Pelangi di Setiap Dunia, Termasuk Pada Puisi

* Tanggapan Balik atas Tanggapan Saut Situmorang

Denny JA


Alam melahirkan banyak warna dalam pelangi. Tapi mengapa Ia hanya melihat satu warna? Kebun tumbuhkan banyak bunga. Tapi mengapa ia hanya melihat satu bunga?

Itulah kesan cepat saya membaca tulisan Saut Situmorang: Angkatan Puisi Esai Prabayar Denny JA. Tulisan Saut itu dibuat untuk menanggapi kolom saya sebagai bagian Polemik Koran Tempo: Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya.

Padahal saya sudah turunkan harapan untuk tidak usah berharap membaca sebuah tulisan gemilang. Tulisan yang memenuhi kaedah akademik standard saja, walau ditulis dengan gaya populer, cukuplah bagi saya pagi itu. Menemani kopi pagi, saya biasanya agak cerewet selalu ingin membaca tulisan yang spektakuler.

Apa daya tulisan Saut tak memenuhi bahkan harapan minimal itu. Kesalahan Saut khas kesalahan peneliti pemula, yang terlalu tinggi semangat partisanshipnya, mengalahkan kaedah akademik.

Ini kesalahan khas seorang aktivis yang ingin menjadi akademisi. Saya tunjukkan dimana kesalahan Saut Situmorang itu.

-000-

Ada dua pola kesalahan yang nampak. Pola pertama: generalisasi, dan kurang eksplorasi, sehingga salah dalam menarik kesimpulan yang sahih.

Saut membantah klaim saya bahwa puisi esai adalah historical fiction. Cara ia membantah dengan label bahwa saya pastilah buta soal sastra. Sautpun mendefinisikan historical fiction sebagai berikut. Saya tulisankan saja kutipan lengkapnya:

“Mungkin karena begitu awam tentang Sastra maka Denny JA tidak pernah tahu bahwa apa yang disebut sebagai “historical fiction” alias fiksi sejarah itu dalam Teori Sastra adalah fiksi yang setting ceritanya suatu masa/periode dalam sejarah yang sudah lalu dan yang berusaha sesetia dan serealistik mungkin menggambarkan kondisi sosial, semangat zaman dan adat istiadat periode sejarah tersebut sesuai dengan fakta sejarah.”

Saya tekankan kalimat: berusaha sesetia dan serealistik mungkin menggambarkan kondisi sosial.

Padahal yang Saut tulis ini hanya salah satu saja sub genre dalam genre historical fiction. Bukan satu satunya. Ia hanya satu bunga dari kebun bunga. Ia hanya satu warna dari warna warni pelangi.

Jika saja Saut lebih mengeksplorasi, ia akan sampai pada novel The Plot Against America, karya Philip Roth (tahun 2004). Karya novel ini bukan saja “tidak setia pada kisah sejarah sesuai dengan fakta sejarah.” Tapi ia membalikkan ending dari sejarah itu.

Novel itu menggambarkan calon presiden pejuang demokrasi Franklin Delano Roosevelt dikalahkan oleh Charles Lindbergh dalam pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1940. Akibatnya bukan demokrasi yang menang, tapi ideologi yang diusung Lindbergh: fasisme dan paham anti semitik. Sejarah Amerikapun berubah. Kehidupan publik luas berbeda.

Kita tahu dalam sejarah yang menang adalah Roosevelt. Tapi novel ini justru menggambarkan sesuatu yang bertentangan dengan fakta sejarah. Justu di situ asyiknya. Publik mendapat imajinasi baru. “Ya Tuhan, beginilah bentuk dunia jika bukan Roosevelt yang menang.”

Apa yang ditulis oleh Philip Roth juga historical fiction, tapi sub genre yang disebut alternate history and historical fantasy.

Di sinilah kesalahan fatal Saut. Ia berhenti membaca hanya pada genre historical fiction abad 19. Jika saja ia mengupdate pengetahuan pada apa yang terjadi di tahun 2004. Ia akan tahu telah lahir pula sub genre historical fiction yang beda, bahkan membalikkan pengertian sebelumnya.

-000-

Pola ini juga terulang kembali ketika ia menjelaskan arti kata entrepreneurship. Ini memang menjadi pokok argumen. Tulis saya, saatnya teknik marketing diterapkan dalam dunia puisi.

Zaman sudah berubah. Kini marketing sama pentingnya dengan estetika. Saya selaku entrepreneur justru harus memanfaatkan apa yang diberikan oleh peradaban baru, juga untuk dunia satra.

Lalu Saut Situmorang sibuk membuka kamus apa itu entrepreneur. Iapun mendefinisikan sebagai orang yang hanya ingin memetik keuntungan finansial dan seorang promotor industri hiburan.

Berhamburlah ucapnya bersandar pada definisi itu. Ini lengkapnya.

“Bagaimana mungkin bisa mengharapkan sebuah esei yang penuh dengan kesadaran sejarah dan teori Sastra dari seseorang yang cuma tertarik dengan dunia bisnis demi mengeruk keuntungan finansial! Bagaimana mungkin bisa mengharapkan seseorang yang cuma promotor industri hiburan untuk paham apa itu Seni, apa itu Sastra! “

Sekali lagi Saut mengulang pola yang sama. Senja menyajikan warna warni pelangi. Kok ia hanya ingin satu warna merah dan mengharuskan warna kuning, hijau menjadi warna merah juga.

Padahal jika lebih rajin mengeksplor soal entrepreneurship, apalagi jika ia hidup di dalamnya, akan dilihatnya pelangi. Ia akan temukan bahwa entrepreneurship itu sebuah payung besar untuk sebuah spirit.

Itu adalah spirit yang berangkat dari “apa yang ada” dikelola secara profesional, menggunakan semua manajemen modern, untuk dapatkan benefit sebesar besarnya.

kesalahan Pertama Saut soal entrepreneurship, ia mengira semua benefit dalam entrepreneurship itu hanyalah keuntungan finansial.

Padahal ada istilah Charity Enterpreneurship. Benefit yang dimaksud dalam istilah ini adalah public service yang maksimal. Public service itu jelaslah bukan keuntungan finansial. Ia bahkan secara finansial itu sengaja merugi.

Modal uang untuk charity bukan dalam rangka mendapatkan modal lebih besar, bukan dalam rangka profit, tapi dalam rangka pelayanan yang lebih maksimal. Katakanlah tanpa entrpreneursip, dari sumber daya yang ada hanya bisa melayani 1000 orang. Tapi dengan entrepreneurship, yang bisa dilayani ternyata bertambah menjadi 5000 orang.

Bahkan kapitalis besar seperti Bill Gates tidak 24 jam mencari untung. Ia juga dikenal sebagai pemberi charity terbesar. Namun dalam kerja charity Bill Gates juga diterapkan aneka prinsip entrepeneur.

Kesalahan kedua Saut soal entrepreneurship, Ia mengartikan seolah kualitas karya dan keuntungan finansial itu zero sum game. Seolah “semakin bagus karyamu, semakin tidak untung.” Atau “semakin untung, semakin buruk karyamu.”

Seolah mereka yang punya motif ingin kelimpahan finansial, pasti, sekali lagi PASTI, tak akan sampai pada pencapaian estetik. Seolah mereka yang ingin pencapaian estetik, harus ikhlas merana secara finansial.

Apa salahnya jika seseorang mengupayakan karya yang bagus secara sastra, tapi juga memberikan kelimpahan finansial kepada penulisnya? Why NOT?

Mengapa pula alergi dengan keuntungan finansial sebuah karya? Mengapa harus batuk batuk jika ada movif mendapatkan kelimpahan ekonomi dalam karya?

Kita bisa meluaskan pandangan pada dunia film. Ada dua jenis film pemenang oscar. Satu yang sangat laku secara finansial. Satu lagi yang tidak laku. Dua duanya secara artistik sangat dahsyat jika kriterianya menang film terbaik oscar pada zamannya. Namun efek finansial karya itu berbeda.

Yang paling laku: film Titanic. Ia menghasilkan $ 2, 187,463,944. Yang paling tak laku: Hurt Locker. Ia hanya mendapatkan $ 17,000.000. Kedua film itu sama sama menang Oscar. Tapi yang satu mendapatkan penjualan finansial lebih dari seratus kali lipat dibanding lainnya.

Film yang menang oscar juga bisa sangat laku dipasar. Buktinya, Titanic, film berkualitas. Ia pemenang Oscar tahun 1998, memperoleh 12 piala oscar terbanyak dalam sejarah (bersama Ben-Hur). Sekaligus, Titanic juga film terlaris bahkan rangking kedua paling laris dalam sejarah, paling menghasilkan uang.

Tak ada yang salah dengan motif inginkan kelimpahan finansial atas karya. Peradaban menunjukkan yang berkualitas bisa juga yang laku.

Mengidealkan penyair harus miskin, jangan peduli pada sisi finansial karya, alergi dengan kontrak tertulis, seenaknya secara sepihak membatalkan kontrak yang sudah ditanda tangani, itu yang saya sebut penyair dengan mindset lama. Ialah penyair yang tak punya spirit entrepreneur.

-000-

Pola kedua kesalahan Saut Situmorang adalah bias. Ia mengukur keberagaman dan perbedaan dengan apa yang ada sebatas isi kepalanya. Ibarat ia ingin mengukur banyaknya air samudera hanya dengan centongan. Itu semata karena centongan tersebut satu satunya yang ia punya.

Itu terlihat ketika ia menilai puisi esai. Apakah karya puisi esai Denny JA sudah bernilai puisi dan bernilai esai? Dalam bahasanya sendiri:

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah tulisan yang disebut "puisi-esai" [sic] oleh Denny JA itu memang Puisi-Esei? Apakah sudah ada yang membuktikan bahwa Puisi memang sudah berhasil dituliskan dalam "puisi-esai" dan isinya memang merupakan Esei analitis, interpretatif dan kritis tentang suatu topik? “

Apa itu puisi? Sudah bernilai puisikah? Apa itu esai? Sudah bernilai Esaikah? Apa itu Islam? Sudah murnikah Islamnya?

Apa itu Tuhan, apa itu ideologi, apa itu cinta, apa itu saya? Siapakah saya?

Semua kata kunci, istilah besar dan definisi realita selalu bergerak dan beragam. Siapa pula yang merasa mendapatkan wahyu untuk merasa paling berhak mendefinisikannya.

Kesalahan Saut, ia merasa definisi yang ia yakini harus menjadi panduan bagi yang lain. Di luar itu, murtad dan haram belaka.

Saya pernah menulis soal definisi puisi itu. Agar tak menulis ulang, saya sertakan saja di sini.

Robert Frost adalah penyair legenda. Tiga puluh satu kali Ia dinominasikan untuk Nobel Sastra. Ia menerima empat kali pulitzer prize untuk sastra dan Congressional Gold Medal dari pemerintah Amerika Serikat karena karya sastra.

Apa itu puisi menurut Robert Frost? Menurutnya puisi itu adalah gairah yang dirumuskan menjadi pikiran, dan pikiran itu kemudian menemukan kata. Itulah puisi. Tak kurang dan tak lebih.

Dalam de nisi Frost, puisi itu teramat luas. Penulis puisi, yaitu penyair, bisa siapa saja yang mengekspresikan geloranya dalam pikiran dan kemudian menjadi kata.

Ketika Bob Dylan menulis lagu, ia tak berpikir akan menjadi penyair atau tokoh utama sastrawan. Ia berkarya saja, mengekspresikan kegelisahannya. Ujar Dylan, saya hanya membayangkan alangkan asyiknya jika lagu ini bisa dinyanyikan di kafe apalagi di Carnegie Hall.

Ternyata lirik lagu Bob Dylan dinilai sebagai puisi. Dan ia pun diberikan Nobel Sastra 2016. Oh, ujar Bob Dylan, saya tak menyangka dianggap menulis sastra, bahkan mendapatkan hadiah sastra tertinggi.

“Membayangkan bahkan selintas saja saya akan mendapatkan Nobel Sastra sama anehnya dengan membayangkan saya berdiri di bulan, sambung Dylan.

Hal yang sama terjadi pada mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill. Ia hanya berpidato tentang nilai kemanusiaan yang dirumuskannya seindah mungkin.

Kumpulan pidato itu kemudian ia bukukan. Ia juga menuliskan biografi dan pengalamannya selaku saksi sejarah dalam serial buku non-fiksi.

Ketika berpidato atau menulis buku non- ksi itu ia tidak berpikir sebagai sastrawan. Namun karya itu dianggap bernilai sastra. Bahkan iapun dianugerahi Nobel Sastra tahun 1953.

Apa itu puisi dan bukan puisi? Apa kategori penyair dan bukan penyair? Mengikuti kutipan Robert Frost dan kisah Winston Churchill serta Bob Dylan, itu kategori yang longgar saja.

Sayapun memilih kategori yang longgar tersebut. Penyair selama ini dikategorikan hanya kepada “penyair karir,” mereka yang berprofesi penulis puisi atau yang sebagian besar hidupnya fokus menulis puisi.

Bagi saya semua yang pernah merumuskan gelora hatinya dalam bentuk pikiran dan mewujudkannya dalam kata adalah penyair. Yang membedakannya kemudian hanyalah kedalaman dan produktivitas.

Itulah sebabnya secara sengaja dalam gerakan puisi esai, saya mengajak sebanyak mungkin mereka yang selama ini tidak dikategorikan penyair menulis puisi. Mereka: aktivis, pengajar, wartawan, dan sebagainya, terpanggil menulis puisi dan menerbitkannya dalam buku.

Jika dulu Chairil Anwar menyatakan: “Yang bukan penyair, tidak ambil bagian.” Gerakan puisi esai justru sebaliknya; “Yang bukan penyair (de nisi penyair karir), boleh ambil bagian. Agar puisi hidup, jangan diasingkan hanya untuk para penyair karir saja.

Saut Situmorang mengira puisi atau esai hanya sah jika sesuai dengan apa yang ia mau. Celakanya yang ia mau itu berangkat dari dirinya yang memiliki sebuah centongan saja. Sementara semesta menyediakan air lebih luas dibandingkan samudera.

Banyak lagi kesalahan elementer dalam tulisan Saut itu. Tapi akan terlalu panjang jika diulas satu persatu. Dua pola kesalahan di atas sudah cukup sebagai contoh.

-000-

Upaya yang bagus. Tapi perbaik lagi. Kira kira itulah yang akan saya katakan jika saya dosen dan Saut Situmorang mahasiswa saya.

Bagaimanapun saya milihat ada passion, ada api dalam tulisan Saut. Itu hal yang bagus. Ia memang seorang aktivis sastra.

Namun jika ia berpretensi ingin menulis dengan kaedah akademik, dunia akademik punya hukum yang berbeda.

Ibarat dosen, saya melihat apa yang belum Saut lihat. Ini kesalahan khas penulis skripsi di masa awal: generalisasi yang berlebihan dan partisanship. Khas ciri seorang aktivis yang sedang belajar membuat skripsi.

Tapi Saut bukan mahasiswa saya. Sayapun bukan dosen Saut. Hubungan kami sejajar belaka sebagai pencari kebenaran.

Tulisan Saut jika terus dikembangkan punya potensi mendapatkan nilai A. Namun per hari ini, jika kesalahan elemeter tak diperbaiki, nilai D minus sudah termasuk tinggi. Teruslah perbaiki, Dik Saut! Jangan patah semangat, Dik.

Febuari 2018

 

  • view 382