Mengapa Puisi Esai Kontroversi Sastra Paling Heboh Sejak Era Kemerdekaan?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 16 Februari 2018
Mengapa Puisi Esai Kontroversi Sastra Paling Heboh Sejak Era Kemerdekaan?


MENGAPA PUISI ESAI Menjadi Kontroversi Sastra Paling Heboh Sejak Era Kemerdekaan?

(Menyambut Debat Pro Kontra Puisi Esai: Narudin vs Saut Situmorang, Krt Agus Nagoro vs Eko Tunas HARI INI)

Denny JA

Menyambut debat pertama dari enam serial debat pro kontra puisi esai yang diselenggarakan Yayasan Budaya Guntur, seorang wartawan bertanya: “Mas Denny JA, mohon komen dong. Mengapa kontroversi puisi esai ini paling heboh sejak era kemerdekaan?”

Saya merenung. Tak terpikir oleh saya apa ukuran akurat “heboh dan paling heboh, untuk dunia sastra.” Tak terpikir pula oleh saya apakah data kontroversi sastra sejak kemerdekaan bisa saya cari cepat melalui “Om Google?”

Tanpa dua hal: alat ukur untuk perbandingan, dan data akurat, sulit saya menjawab dengan pasti.

Sebagai peneliti yang terbiasa memprediksi siapa yang akan menang dalam pilpres dan pilkada, dua hal di atas mutlak. Sudah puluhan prediksi saya lakukan soal pilpres dan pilkada berdasarkan pada dua hal itu. Sejak 2004, di atas 90 persen prediksi saya terbukti.

Saya minta waktu dan berjanji menjawab. Sekaligus menyambut debat pertama pro dan kontra puisi esai Yayasan Budaya Guntur, saya tuliskan saja secara cepat argumen ini.

-000-

Empat pujangga sastra hari ini akan berdebat. Kritikus Sastra Narudin Pituin yang pro gerakan puisi esai akan berhadapan dengan pihak yang kontra: Saut Situmorang. Debat juga diramaikan oleh Eko Tunas yang kritis atas puisi esai versus penulis puisi esai: Krt. Agus Nagoro.

Yayasan Budaya Guntur penyelenggara debat ini. Yayasan itu dikomandani oleh Isti Nugroho, seorang aktivis yang pernah dipenjara Orde Baru karena aktivitas intelektualnya. Ia dipenjara lebih dari lima tahun. Isti juga seorang penulis dan sutradara teater.

Istipun dalam rencana akan membuka kafe aktivis dan seniman di area itu. Tak nanggung, nama menu makanan yang akan disajikan. Ada Sop Iga Reformasi. Opor Ayam Tritura. Bahkan Kopi Puisi Esai.

Dalam narasi debat yang disebar di social media, saya baca, ditanyakan juga topik itu. Benarkah dan mengapa puisi esai menjadi kontroversi sastra yang paling heboh.

Saya tak punya ukuran untuk perbandingan aneka kontroversi sastra itu. Saya lihat di google, tak ada data yang memadai untuk era tahun 60an ke bawah.

Namun saya bisa klaim di atas 90 persen benar. Kontroversi puisi esai paling heboh, karena setidaknya, ia terjadi di era social media. Sudah pasti lebih banyak orang bisa menuliskan sikapnya dan menyebarkan pandangannya soal puisi esai, karena hadirnya social media.

Kontroversi sastra sebelum datangnya sosial media, sebelum tahun 95, pastilah tak menikmati itu. Tak ada sahut menyahut di facebook, twitter, WA dan seluruh para keponakan medium soc med. Sebelum tahun 95, tak ada komen kontroversi sastra yang melibatkan mereka yang paling awam sekalipun soal puisi.

Saya susun lebih sistematis. Ada lima hal mengapa kontroversi puisi esai itu paling heboh sejak era kemerdekaan (bahkan sebelumnya).

Pertama dari sisi kuantitas karya: genre baru Puisi Esai ini ditulis oleh 250 penyair dan penulis dari 34 provinsi, Aceh hingga Papua. Sudah terbit 40 buku puisi esai lebih dan segera menjadi lebih dari 70 buku.

Tak pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia, deklarasi sebuah angkatan atau genre baru sastra, sebuah kredo, yang disertai begitu massif, sistemik dan terstruktur, bukti 70 buku puisi sekaligus. Dan ini ditulis di seluruh provinsi, Aceh hingga Papua. Sebanyak 70 buku puisi esai sebagai data pendukung itu sebagian sudah pula ada onlinenya untuk dibaca.

Kedua, tak pernah pula terjadi yang bukan penyair karir, bersama sama menulis puisi dalam jumlah yang begitu banyak. Slogan yang “bukan penyair boleh ambil bagian” menjadi nyata dalam gerakan puisi esai.

Dari 250 penulis puisi esai, sekitar 50 persen adalah mereka yang tak dikenal sebagai penyair. Bahkan banyak pula yang menulis puisi esai sebagai puisi pertama yang dipublikasi dalam bentuk buku. Mereka adalah penulis, peneliti, dosen atau jurnalis.

Heboh puisi esai secara otomatis juga meluas ke luar batas komunitas penyair. Yang bukan penyair, terlibat pula dalam kontroversi itu karena karya mereka ada di sana.

Ketiga, kontroversi puisi esai sebagai puisi juga diwarnai oleh kontroversi metode gerakannya. Tak pernah terjadi, tokoh partikelir, pihak swasta non pemerintah, tanpa dana pemerintah, tanpa dana pabrik rokok, tanpa dana asing, berhasil menghimpun 170 penulis, penyair melalui “teknik marketing.”

Ada mobilisasi, ada honor besar, ada panitia, ada rencana sistematis, ada strategi publikasi yang mewarnai gerakan puisi esai. Kebetulan saya penggeraknya, yang sudah terbiasa membuat gerakan sehingga berhasil ikut memenangkan seluruh pemilu presiden langsung sejak reformasi, 32 gubernur dan 87 walikota, serta bupati.

Ini pola gerakan yang biasa di dunia politik dan bisnis. Namun masih asing untuk dunia sastra. Metode tak biasa ini pasti tak pernah dilakukan dalam kontroversi sastra sebelumnya. Metode baru ini tak kalah menambah kontroversi.

Keempat, klaim yang dibuat gerakan puisi esai cukup besar dan kontroversial. Klaimnya, puisi esai adalah genre baru, dan angkatan baru. Plus klaim ini gerakan civil society, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Plus ada pula kajian akademik mengutip ahli genre David Fishelov memperkuat puisi esai sah sebagai genre baru.

Semua klaim akademik, apapun selalu ada kontra, yang juga tak kalah akademiknya. Itulah sebabnya selalu ada madzab dalam dunia ilmu.

Dalam ilmu sosial ada pendekatan ilmiah “metodelogical individualism.” Sehebat apapun argumen dan data untuk mendukungnya, tetap ada lawan sebanding, seperti pendekatan strukturalis dan Marxis.

Dalam ilmu ekonomi, ada madzab yang kemudian disebut pendekatan ekonomi klasik “konservatif.” Sehebat apapun argumen dan data yang ia punya, tetap ada lawan akademik yang tak kalah tangguhnya: madzab ekonomi liberal. Clash of mind dua pendekatan itu terus hidup sejak zaman Adam Smith hingga Milton Friedman.

Tak heran pendekatan akademik apapun di dunia sosial selalu potensial melahirkan pro kontra. Beragamnya fundamen akademik dunia puisi, ikut pula menambah ramai pro dan kontra puisi esai sebagai genre baru. Masing masing yang pro dan kontra merasa punya dukungan akademik.

Kelima, ini era social media menjadi raja. Alasan ini sudah disinggung di awal tulisan. Ini era kultur selfie, hoax dan “klik-isme.” Era ini khas dunia pasca 1995.

Budaya selfie dimungkinkan oleh social media. Siapapun yang ingin selfie, memberi komentar, dapat melakukan secara bebas tanpa editing, pihak manapun.

Kultur hoax, sebar berita yang tak benar, menambah fasilitas membuat pernyataan sensasional. Bohong jadi. Fitnah oke. Yang penting tersebar.

Sedangkan “Klik-isme,” cukup dengan satu klik, sudah terbantu pula tersebar satu berita meluas ke aneka jaringan.

Hadirnya dunia social media membuat kontroversi puisi esai paling heboh sepanjang era kemerdekaan, bahkan sebelum Indonesia merdeka sekalipun.

Lima variabel di atas yang membuat puisi esai akan dikenang sebagai perdebatan puisi paling heboh di Indonesia hingga tahun 2018. Sulit membantah kombinasi lima variabel di atas.

-000-

Dan meriam tidak ditembakkan untuk membunuh seekor nyamuk. Jika meriam berbunyi, bisa dipastikan ada lawan yang punya kekuatan layak ditembak dengan meriam. Ada lawan tangguh, heboh, berpengaruh di seberang sana.

Hebohnya kontra puisi esai itu terkena pula hukum itu. Mustahil ada gerakan melawan sangat heboh jika puisi esai itu sendiri memang tidak heboh. Kehebohan hanya hadir karena melawan kehebohan lain.

Yang bisa membuat heboh pastilah hanya peristiwa atau tokoh yang punya pengaruh. Mustahil ada kehebohan tanpa peristiwa berpengaruh, atau tokoh berpengaruh.

Kehebohan puisi esai itu tak lain adalah bukti benarnya buku 33 tokoh sastra paling berpengaruh itu, yang menurut buku itu salah satunya karena hadirnya puisi esai.

Tanpa disadari, mereka yang terlibat dalam kontra puisi esai, ikut menyumbang kehebohan itu. Tanpa disadari kehebohan pihak yang kontra puisi esai ikut menegaskan. Betapa benarnya pengaruh yang ditulis buku 33 tokoh itu.

Puisi esai memang heboh. Memang berpengaruh, karenanya ia heboh.

Di situlah sisi Ironisnya pihak yang kontra puisi esai. Mereka tanpa sadar ikut menjadi agen marketing gratisan bagi hebohnya puisi esai. Mereka ikut menjadi pion, kuda, gajah, benteng, bahkan raja, dalam permainan catur, celakanya bagi penegasan betapa benarnya pengaruh puisi esai. ***

Feb 2018

  • view 329