Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 10 Februari 2018
Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya?

Puisi Esai: Apa, Mengapa dan Keunggulannya

(Yang protes penyair dengan mindset zaman lama. Marketing harus hadir dalam industri seni.)

DENNY JA


Di mana keunggulan puisi esai dibandingkan jenis puisi atau genre yang sudah ada? Seorang entrepreneur sejati tentu tak sekedar bergenit-genit membuat sesuatu sekedar baru, asal beda. Hanya sekedar beda, ia tak akan survive.

Keunggulan pertama, puisi esai yang panjang, yang merupakan historical fiction, potensial diangkat ke layar lebar.

Semua sastrawan yang kaya raya di dunia, karena novelnya menjadi film laris. Ini hanya terjadi pada novel, bukan puisi.

Puisi esai adalah novel pendek yang dipuisikan. Semua plot cerita, karakter dan drama, yang ada pada novel, juga ada pada puisi esai. Dibanding semua jenis puisi yang ada, puisi esai paling potensial dibuat film layar lebar.

Dibanding semua jenis penulis puisi yang ada, penulis puisi esai paling potensial kaya raya karena puisinya.

Lima puisi esai saya dalam buku “Atas Nama Cinta” (2012), semua sudah dibuatkan filmnya oleh Hanung Bramantyo. Tapi memang film itu untuk perjuangan anti diskriminasi, panjangnya baru 40 menit. Pada waktunya menjadi layar lebar yang komersial. Ini sudah saya niatkan.

Keunggulan kedua, puisi esai sekaligus bisa menjadi esai dan isu sosial nyata yang difiksikan. Hadirnya catatan kaki tak sekedar tempelan, tapi referensi yang bisa dilacak.

Hadirnya 34 buku puisi esai di 34 provinsi adalah kerja kolosal memotret batin Indonesia. Wajah Aceh yang terkena tsunami dan riwayat Gerakan Aceh Merdeka dapat kita rasakan dramanya. Kerusuhah Mei 98 di Jakarta kita rasakan pula jeritannya. Bahkan data mengenai aneka kerusuhan yang menjadikan etnis tionghoa sebagai korban tersaji di catatan kaki.

Dibandingkan aneka jenis puisi lainnya, puisi esai lebih punya fasilitas meriwayatkan sepenggal kisah sejarah, peristiwa sosial yang nyata.

Dua keunggulan itu membuat saya dan teman-teman militan memperjuangkan hadirnya dan meluasnya puisi esai.
******

Apakah puisi esai ini baru? Di mana barunya dibandingkan dengan yang lama? Apa buktinya ia sebuah genre, sebuah angkatan?

Ketika saya masuk lagi menjadi penulis, justru saya mulai dari niat itu. Harus ada yang baru saya sumbangkan untuk ikut memperkaya dunia sastra. Teknik ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) sejak awal saya terapkan. Teknik diferensiasi, harus ada yang beda, sejak awal saya niatkan.

Puisi panjang Alexander Pope (An Essay on Man), dan TS Eliot (The Waste Land), adalah esai filsafat soal siapa manusia, apa itu penderitaan, manusia yang menjadi Tuhan. Sedangkan puisi esai adalah historical fiction. Ia bukan esai filsafat tapi kisah sejarah, true story yang difiksikan. Di situ bedanya.

Puisi Panjang Linus Suryadi (Pengakuan Pariyem) dan sajak balada Rendra yang panjang (Nyanyian Angsa, Khotbah, dan lain-lain) adalah puisi liris atau puisi naratif. Tak ada catatan kaki dalam puisi mereka, kecuali untuk Linus ada dua buah lampiran penjelas kosa kata Jawa.
Puisi esai punya catatan kaki yang menghadirkan fakta dalam puisi.

Dalam puisi saya Sapu Tangan Fang Yin, pembaca mendapatkan data berapa banyak korban yang mati dalam kerusuhan. Dalam sejarah kerusuhan serupa pernah terjadi di mana dan kapan? Di sini bedanya.

Apakah sah puisi esai sebagai genre baru? Sah dan valid berdasarkan sebuah teori genre. Saya gunakan teori ahli genre: David Fishelov.

Dua syarat yang ia formulakan bagi keabsahan sebuah genre dipenuhi. Syarat pertama: the moment of birth, dan syarat kedua; the second form of generic production.

Bahkan saya tambahkan variabel ketiga dari Thomas Kuhn. Thomas Kuhn menyatakan: sebuah paradigma hadir bukan hanya ia punya sisi beda. Namun ada komunitas yang hidup dalam paradigma itu. Puisi esai punya komunitasnya.

Lalu muncul kritik. Gerakan puisi esai ini tidak alami. Ia muncul karena “dipimpin,” direkayasa, ada honor besar di sana. Ada team marketing. Ada organisasi di baliknya.

Jawab saya: Aha! Itu justru sisi barunya. Justru di sana pula letak inovasi dari puisi esai sebagai sebuah gerakan.

Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan produksi. Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan estetika. Dalam dunia industri, sebuah film yang sangat bagus tapi tak laku dan rugi, tak lagi cukup. Marketing harus hadir dalam industri seni.

Umumnya penandatangan petisi yang protes adalah penyair dengan mindset zaman lama. Saya seorang entreprenuer, pengusaha, hidup di era ketika marketing menjadi pangeran.

Gerakan puisi esai justru harus menggunakan fasilitas yang sudah hadir di zamannya. Gunakan aneka teknik marketing agar karyamu dilihat orang. Jika tidak, kau akan tenggelam. Menjadi masa silam.
*****

Saya sadar corak kontroversi atas puisi esai. Ini harus dilihat positif sebagai sebuah ikhtiar budaya. Kadang diperlukan seorang yang urakan, yang kurang ajar kepada konvensi, yang berani ambil resiko, tapi punya visi ke depan, yang harus tampil ke depan.

Dalam kasus puisi esai, secara sadar saya memilih menjadi orang urakan itu.

Hanya tiga kisi-kisi yang saya terapkan agar sisi moral publik dari gerakan ini terasa. Pertama, tak boleh menggunakan dana pemerintah dan asing. Juga tidak menggunakan lembaga pemerintah sedikitpun.

Kedua, jangan ada hukum yang dilanggar.
Ketiga, ini yang paling penting, buatlah diferensiasi sekecil apa pun. Berani ambil resiko. Namun lihat batasnya. Apa batas kreativitas? Batasnya adalah langit yang biru, yang tak berbatas.

Maka lahirlah gerakan puisi esai. Sisanya adalah perjuangan.***

 

  • view 159