33 Tokoh Sastra, Hak Beropini, Hujan Gerimis

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 04 Februari 2018
33 Tokoh Sastra, Hak Beropini, Hujan Gerimis

33 Tokoh Sastra, Hak Beropini, Hujan Gerimis dan Menggoda Maman S Mahayana

Hujan gerimis bisa menentukan apa yang kita tulis. Itulah yang terjadi pada saya pagi ini.

Saya sudah siap dengan pakaian Jogging. Jalan pagi sambil berzikir di taman menjadi hobi yang sangat saya nikmati. Apalag ketika usia paska 50-an.

Tiba tiba hujan gerimis dan membesar. Tak kunjung berhenti. Saya menunggu hujan berhenti sambil membuka handphone. Sampailah saya ke Facebook Soni Farid Maulana.

Itu yang sering terjadi. Walau saya mulai menulis hal kecil dan lokal, saya membawanya ke isu yang lebih besar, di ujung tulisan.

Soni bercerita soal catatan kaki dalam puisi esa yang sedang heboh. Ia menelusuri hingga terbitnya buku 33 Tokoh Sastra yang Paling bepengaruh di Indonesia yang juga heboh. Sangat sangat heboh. Dalam sejarah sasta indonesia, mungkin hanya beberapa event saja yang seheboh buku 33 Tokoh itu.

Di salah satu kalimatnya, Soni menulis. Maman S Mahayana, salah satu juri Team 8, yang memilih 33 tokoh sastra paling berpengaruh mengundurkan diri. Maman sudah pula mengembalikan honor yang sudah ia terima. Terkesan Maman menyesal terlibat menjadi juri yang memilih 33 Tokoh Sastra.

Saya biasanya tak ingin terlibat diskusi ringan di Facebook. Tapi itu hujan gerimis tak kunjung henti. Sayapun membuat klarifikasi.

Terjadilah percakapan di bawah ini, yang melibatkan Soni, Maman S Mahayana, Saya dan Ahmadi Syarif.

Percakapan di FB Soni itu di ruang publik, bukan ruang pribadi. Tentu Saya bebas pula menuangkannya lagi di catatan.

Hujan yang gerimis sungguh ikut menentukan. Jika tak hujan, saat itu saya sudah jogging. Tapi karena hujan, menggantikan kaki saya, tangan saya yang “jogging” di Facebook.

-000-


Denny JA:

Setahu saya maman s mahayana tak pernah memulangkan honor penulisannya.

Mhn ditanya pada kang maman, ia pulangkan dananya 25 juta itu kepada siapa?????

Soni FM:

oh begitu. Kang Maman S Mahayana katanya belum memulangkan honor Rp 25 juta, wah polemik baru nih

Denny JA:

Saya sebenarnya tak ingin bicara. Namun kata guru agama: katakanlah yang benar walau pahit.

Saya tak tahu mengapa kang maman tak pernah jujur berkata bahwa honor itu aman di sakunya.

Tak apa kang maman. Itu halal kok:):)

Maman S Mahayana:

Terima kasih, Bung Denny JA sudah mengingatkan. Saya tentu tidak perlu beralasan, kenapa uang itu belum saya kembalikan. Dalam salah satu bagian Pernyataan Sikap saya mengundurkan diri dari Tim Penyusun Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh, saya nyatakan begini:

“Sebagai konsekuensi pernyataan ini, saya minta agar Jamal D Rahman sebagai Ketua Tim 8, mencabut lima esai saya tentang (1) Marah Rusli, (2) Muhammad Yamin, (3) Armijn Pane, (4) Sutan Takdir Alisjahbana, dan (5) Achdiat Karta Mihardja dari buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Honorarium sebesar Rp 25 juta sebagai pembayaran kelima esai saya itu, akan saya kembalikan segera setelah kelima esai itu dicabut dari buku tersebut."

Ternyata sampai sekarang, saya belum membaca pernyataan yang disampaikan Jamal D. Rahman. Jadi, saya masih menunggu pernyataan itu.

Meskipun demikian, biar segalanya dapat diselesaikan dengan baik, mohon kirim nomor rekening Anda lewat inboks atau WhatsApp, sebagaimana Anda pernah mengirim pesan say hello, lewat WhatsApp. Terima kasih


Ahmadi Syarif:

Sebenarnya pernyataan Kang Denny JA di komentar ini kan menjawab/atau klarifikasi poin status Kang Soni Farid Maulana, bahwa menurut Kang Soni Kang Maman telah mengundurkan diri dari Tim 8 dan telah mengembalikan honorariumnya. Seharusnya Kang Maman menanyakan pada kang Soni, darimana Kang Soni dapat info itu?

Soni FM:

Kang Maman nuhun infonya. Akan saya masukan ke catatan di atas. Saya dapat info itu dari ramainya kasus buku 33

Denny JA:

Uang honor anda menulis sebagian buku 33 tokoh sastra, halal kok kang Maman. Simpan saja.

Toh anda sudah menyimpannya sejak buku itu terbit, 4 tahun sudah.

Jika bisa bercerita, uang itu sudah betah berdiam di rekening anda, rumahnya yg asri.

Hanya saja opini publik mengesankan uang itu sudah anda kembalikan. Dan tak ada bantahan sedikitpun dari pihak anda.

Saya tergerak saja menyatakan apa yang benar.

Bagaimana pula buku itu harus mencabut tulisan anda? Kan ia sudah diluncurkan? Bahkan ketika diluncurkan anda juga membuat tulisan yang bersemangat atasnya.

Sudah 4 tahun sudah buku ini mewarnai hiruk pikir sastra. Biarlah ia menjadi sejarah di sana.

Soni FM:

Sesungguhnya bisa dicabut dengan cetak ulang dan menyatakan bahwa buku cetak ulang adalah buku resmi hahahaha

Denny JA:

Silahkan saja jika ada yg mau cetak ulang tanpa menghadirkan karya maman S Mahayana.

Itu solusinya. Silahkan Maman S Mahayana

Soni FM:

Kayaknya itu urusan Tim 7 karena Kang Maman S Mahayana kan sudah keluar.

Denny JA:

Untuk cetak ulang hanya sebagian, itu pelanggaran hak cipta, karena buku tak utuh lagi.

Judulnya 33 tokoh, tapi kok yg ada kisahnya dikurangi 5 tokoh (karya Kang Maman):))) hanya 28 tokoh.

Ingin mengubah judul dari 33 tokoh menjadi 28 tokoh saja (karena kang maman mencabut lima), kang maman harus hadirkan lagi para juri team 8.

Jika memang itu niatnya, silahkan.

Saya tag Jamal D. Rahman II dan Berthold Damshäuser.

Atau, biarkan saja honor 25 juta itu tetap berdiam di rumah yang asri, rekening bank kang maman sendiri.

Bukankah ia betah selama 4 tahun sudah di sana, walau digosipkan seolah olah sudah dikembalikan.

Anehnya kang maman menikmati gosip yang salah itu. Tak ada niat mengkoreksinya sama sekali.

Ketika team 8 oleh kang maman dianggap salah, cepat kang maman mengoreksi.

Tapi ketika gosip yg menyatakan kang maman sudah kembalikan honor, dan kang maman tahu itu gosip yg salah, kok sudah 4 tahun kang maman tidak koreksi.

Lalu sebagai ilmuwan, patutlah si Badu dan si Ani bertanya: apakah semangat mengoreksi kang maman itu original, untuk semua kasus? Atau hanya untuk kasus yang diseleksi saja.
Itukah spirit ilmuwan?

Denny JA:

Soni Farid Maulana team 7 tak berminat mengoreksi apa yang sudah terbit. Mereka jauh lebih jantan dan mengerti aspek hukum

Juga lebih betina (karena ada wanita juga di team 8):):)

Soni FM:

Hahahahahaha

Ahmadi Syarif:

Cetak ulang karena mundurnya salah satu dari team 8???? Wahhh... kok rasanya logika yg jungkir balik.

Denny JA:

Ahmadi Syarif sampaikan pada kang Maman S Mahayana. Jika tindakannya di dunia nyata terasa terbulak balik

(Tak mengoreksi anggapan umum selama 4 tahun bahwa sebenarnya honor masih ia simpan. Mintabmencabut tulisan padahal ketika buku diluncurkan dan ada tulisannya, ia suka cita menyambut membuat makalah)

Jangan jangan spirit bulak balik yg sama mewarnai tulisannya :))

Denny JA:

Dari kasus itu saja sudah nampak apa benar kita ini punya semangat mengoreksi jika kasus itu terkena pada diri kita sendiri.

Pertanyaan itu celakanya berlaku pula pada mereka yang mengesankan ilmuwan ataupun kritikus.

(Anggap saja ini catatan kaki untuk celotehan di facebook, yg sama pentingnya dgn catatan kaki di puisi esai :))

Denny JA:

Mengapa pula saya agak jahil memberi komentar?

Alasannya karena pagi ini hujan padahal saya sudah lengkap siap jogging.

Akibatnya bukan kaki yg bergerak, tapi jari saya jogging menulis di FB bro sonny:)))

Soni FM:

saya kira tidak jahil. Itu pertanyaan saya belum dijawab atas pemintaan Remy Sylado dan Goenawan Mohamad yang minta dikeluarkan dari buku 33. Oh ya satu lagi, atas gagasan siapa dibuatnya buku 33?

Denny JA:

Anda harus bertindak menjadi jurnalis investigatif.

Ketika itu anda lacak, baru terasa pentingnya catatan kaki memberi keterangan sumber info anda:)))

Tapi apapun, team 8 berhak punya opini. Dijamin konstitusi. Toh mereka tak memaksa opini itu harus diyakini.

Sistem demokrasi, punya hak sama kepada pihak lain yg punya opini beda.

Apakah nabi Isa (yesus) disalib? Bahkan agama islam dan kristen menjawab berbeda. Toh keduanya kini bisa berdamai. Boleh beda opini kok::)))

Soni FM:

soal catatan kaki akan saya urai dalam tulisan saya, dan itu tulisan belum selesai. Bahwa beda pendapat dan keyakinan boleh-boleh saja, tak ada yang melarang. Dalam dunia demokratis semuanya bisa terjadi, ada yang pro dan kontra

Denny JA:

Agama saja boleh beda. Apalagi soal puisi esai.

-000-

Empat tahun sudah buku 33 Tokoh Sastra itu terbit. Tapi masih saja publik memprotes buku itu. Bahkan pernah ada gerakan kepada pemerintah untuk mencabut buku itu.

Lama saya merenungi gejala itu. Mengapa sebagian para satrawan tak bisa rileks dengan perbedaan opini.

Saya ketik di google untuk tahu keragaman opini hal apapun. Siapa pemain bola terbesar dunia? Ada yang menjawab Pele. Ada yang menjawab Maradona. Ada yang menjawab Messi.

Siapa petinju terbesar sepanjang sejarah? Ada yang mejawab Muhammad Ali. Ada yang menjadi Sugar Ray Robinson. Ada yang menjawab Floyd Mayweather.

Apa film terbesar yang pernah dibuat? Ada yang menjawab Trilogi God Father. Ada yang menjawab Gone With The Wind. Ada pula yang menjawab Citizen Kane.

Siapa penyair terbesar sepanjang zaman? Ada yang menjawab Shakespeare. Ada yang menjawab Pablo Neruda. Dan banyak lagi versi lain.

Begitulah sejarah menunjukkan. Opini boleh berbeda. Dan demokrasi membolehkan hak orang beropini. Kita tak perlu setuju atas opini mereka. Buat apa pula membuat petisi menggugat opini orang yang berbeda dengan kita.

Alangkah lucunya jika atas list tokoh tinju terbesar yang dipilih oleh majalah sport dibuatkan petisi oleh penggemar tinju karena mereka merasa ada tokoh lain yang lebih besar? Apalagi meminta pemerintah membredel sementara majalah itu, misalnya.

Team 8 sudah beropini tentang 33 Tokoh Sastra paling berpengaruh. Mereka sudah pertanggung jawabkan dalam buku riset setebal lebih 600 halaman. Tak ada dana pemerintah yang digunakan.

Saya ikut dipilih sebagai salah satu tokoh 33 sastra paling berpengaruh karena puisi esai yang saya temukan. Alhamdulilah.

Hal yang sama ketika TIME Magazine memilih saya 30 tokoh paling berpengaruh sosial media tingkat dunia bersama Obama, PM India, Presiden Argentina dan Justin Bieber. Saya ucapkan juga alhamdulilah.

Hal yang sama ketika Twitter memilih tweet saya sebagai tweet paling banyak di RT sepanjang sejarah dunia, bersama tweet Obama, Hilarry Clinton, dan selebriti dunia. Saya katakan pula alhamdulilah.

Mengapa pula kita tak bisa menerima opini mereka secara rileks? Tak ada paksaan untuk setuju. Yang tak setuju juga dibolehkan membuat listnya sendiri. Tiada pula yang melarang.

Apalagi sastrawan. Mereka mendambakan kebebasan untuk berkarya. Tapi buah kebebasan itu adalah keberagaman opini.

Hujan masih gerimis. Saya hentikan dulu menulis ini. Anak saya dari tadi memanggil mengajak main catur. Itu tantangan yang mustahil saya lewatkan.

Saya akan rileks saja main catur walau semangat anak saya untuk kalahkan saya pertama sepanjang hidupnya begitu menggebu. Saya rileks saja bermain catur sebagimana rileks dengan perbedaan opini. ***

Feb 2018

  • view 197