Puisi Esai dan Pendahulunya: Jawaban Lengkap

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 01 Februari 2018
Puisi Esai dan Pendahulunya: Jawaban Lengkap

Kisah Puisi Esai dan Para Pendahulu

- Asal usul kelahiran
- Persamaan dan Perbedaan (Alexander Pope, TS Eliot, Linus Suryadi, WS Rendra)
- Penjelasan kepada pro dan kontra

Denny JA

Quantin Tarantino berkisah soal proses kreatif. Ia termasuk satu dari orang berpengaruh di dunia versi the 100 Time Magazine tahun 2005. Pencapaian, dedikasi, penghargaan dan efek kehadirannya di dunia film saat itu sangat menonjol. Ia sutradara, aktor, juga penulis skenario.

Ia berkisah bagaimana mencipta. Ujarnya, saya tumbuh dengan melihat begitu banyak film. Ada genre ini dan itu, ada jenis kisah ini dan itu. Saya mencipta saja dengan bebas, mencampur adukkan aneka genre, aneka jenis kisah. Saya kombinasi itu dengan hal hal baru yang tak pernah saya lihat sebelumnya.

Tarantino wakil dari seniman yang tak ingin dipenjara oleh genre, konvensi atau pakem yang ada. Ia mencipta saja, sesuai dengan apa yang bergerak dalam imajinasi. Dan boooom! Jadilah itu karya. Para kritikus kemudian datang menganalisis.

Karya datang terlebih dahulu. Kritikus datang kemudian berdebat.

-000-

Sayapun mengalami proses serupa ketika menulis di tahun 2012. Jadikah karya yang kini ramai disebut genre baru puisi esai.

Di tahun 2012, usia saya menjelang 50 tahun. Saat itu saya sudah berkelana di dunia aktivis, menyelami aneka perkumpulan spritual, masuk politik praktis ikut memenangkan semua pemilu presiden langsung saat itu dan puluhan gubernur, walikota, bupati.

Sudah pula saya menjadi kolomnis yang menulis lebih dari 1000 kolom di semua media nasional. Telah pula saya tahunan menjadi host di TV dan radio. Kisah financial freedom dan dunia bisnis ikut pula menenggelamkan saya. Sudah pula saya meneliti terlibat lebih dari seribu kali riset dalam lembaga penelitian yang saya dirikan.

Aneka kitab percakapan agama, filsafat, ideologi, hingga rahasia harga saham memancing minat saya. Aneka tokoh yang menerjang konvesi, yang menyatakan tidak pada kemapanan agama, pembangkang politik hingga seni, telah pula menyelam dalam renungan. Sudah pula saya tonton hampir semua film pemenang dan nominasi oscar, festival cannes, golden globe sejak pertama diadakan.

Tibalah saatnya saya ingin menulis puisi. Kepada teman dekat, saya ceritakan saya sedang hamil tua sebuah gagasan. Bertahun saya mengandungnya dan segera saya lahirkan.

Sayapun menulis saja, tak peduli pakem dan genre, tak peduli ini jenis tulisan apa. Yang saya pentingkan adalah sekumpulan hasrat. Saya ingin mengangkat isu sosial yang menyentuh hati. Ini isu yang benar terjadi. Karena itu saya perlu catatan kaki.

Tapi karena saya sangat hobi menonton film, saya sangat ingin ada drama di dalamnya. Dengan sendirinya puisi itu harus punya plot dan babak selayaknya cerpen atau novel. Namun kisah tersebut dituliskan dalam bentuk puisi.

Mau tak mau, puisi harus panjang agar bisa seperti cerpen, novel atau film. Sungguhpun ada fakta sosial yang benar terjadi dalam sejarah, tetap fiksi yang diutamakan. Fiksi yang membuat isu sosial itu bisa dibuat personal dan dikemas seliar imajinasi.

Bahasanya jangan pula rumit. Saya ingin kisah ini bahkan mudah dipahami anak SMA sekalipun. Saya akan letakkan opini di dalam puisi layaknya sebuah esai. Karena yang akan saya tulis soal diskriminasi dalam masyarakat, harus kental pemihakan saya kepada tumbuhnya masyarakat modern yang menghargai keberagaman.

Kebutuhan itu yang utama. Lahirlah sejenis tulisan yang kemudian saya namakan puisi esai. Penamaan ini juga berdasarkan diskusi dengan banyak teman dan penyair senior.

Sempat dipilih beberapa nama. Jreeennnng! Hati saya sreg dengan satu itu. Jadilah ia puisi esai.

Sebagai entrepreneur, aktivis, saya tak puas hanya menulis puisi. Saya mengajak komunitas lain untuk terlibat. Kepada sesama penulis, dosen, aktivis dan jurnalis, saya katakan. Ini ada cara baru menyampaikan opini. Tidak lewat kolom atau makalah. Tapi lewat puisi. Bukan puisi biasa, namun puisi panjang dengan drama dan catatan kaki.

Kepada teman penyair saya sampaikan hal yang sama. Ini cara lain menulis puisi. Namun teman teman harus terbiasa melakukan riset minimal. Harus ada isu sosial yang nyata. Jadikan isu nyata itu referensi dalam catatan kaki.

Ha? Puisi kok ada catatan kaki? Kok seperti skripisi? Itu tanya mereka. Jawab saya: Why not? Silahkan coba.

Hingga tahun 2016: sudah terbit sekitar 40 buku puisi esai. Penulisnya adalah penyair, kolomnis, jurnalis, dosen, peneliti. Yang bukan penyair boleh ambil bagian. Puisi kita kembalikan ke masyarakat luas.

-000-

Di tahun 2016, 2017 saya pertama kali diundang lembaga pemerintah sebagai sastrawan. Saya jumpa para penyair dari Aceh hingga Papua. Acara Munsi yang diselenggarakan badan bahasa cukup berkesan.

Percakapan saya dengan panitia dan peserta banyak memunculkan gagasan. Di tengah jalan pagi yang rutin, sambil berzikir, entah dari mana, Jreeeng!!! Datang gagasan itu.

Bagaimana jika para penyair, penulis, dosen, peneliti, jurnalis, aktivis di 34 provinsi berkarya bersama. Mereka menuliskan jeritan batin dan harapan, memori kolektif dan perjuangan yang khas di provinsi masing masing.

Medium yang pas untuk keperluan itu memang puisi esai. Kisah yang akan diceritakan memang kisah sebenarnya. Catatan kaki diperlukan untuk referensi pembaca mendalami kisah itu. Puisi harus panjang pula agar drama terasa.

Ini generasi besar harus pula ada ikhtiar karya yang besar. Minimal niatnya besar. Apakah nanti hasil besar atau sedang saja, itu perjuangan.

Bersama teman, saya rumuskan kisi kisi agar ini fenomenal. Dibuatlah empat patokan.

Pertama, ia harus kolosal. Tak boleh nanggung, seluruh provinsi dilibatkan. Indonesia punya 34 provinsi. Saya putuskan satu provinsi, satu buku, lima isu provinsi itu oleh lima penulis. Harus hadir serial 34 buku.

Kedua, program ini harus bangkitkan daerah. Jangan pusat menjadi determinator, tapi fasilitator saja. Isu yang ditulis harus dari provinsi itu sendiri. Para penulisnya, lahir atau tinggal di provinsi itu sendiri. Biarkan pula komunitas provinsi itu berdiskusi isu apa yang akan mereka angkat di provinsi masing masing.

Ketiga, coraknya harus civil society. Ini program dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Saya niatkan tak boleh ada uang dari pemerintah baik melalui APBN, APBD. Tak boleh ada lembaga pemerintah yang terlibat sebagai institusinya.

Jika ada politisi atau pejabat atau pegawai negri sipil terlibat, mereka harus terlibat secara individual. Dilarang melibatkan lembaga pemerintahan.

Keempat, harus ada karakter yang sama dalam karya 170 puisi itu. Walau jumlahnya 34 buku, tetap perlu terasa benang merah. Walau diekspresikan 170 isu sosial, tetap terlihat nada dasarnya.

Ini generasi besar. Jangan hanya menjadi pengikut raksasa masa silam. Harus ada genre baru yang lahir dari generasi ini. Puisi esaipun dikemas kembali. Sejak awal memang diniatkan puisi esai menjadi genre baru. Sejak awal dimaksudkan puisi esai menjadi angkatan baru.

Why Not? Kita hidup di era perubahan. Ini era ketika history in the making. Peradaban ditulis ulang. Perubahan mendasar terjadi dunia bisnis, jurnalisme, politik. Dunia puisi jangan ketinggalan. Ciptakan juga yang baru.

Tak ada yang salah dengan niat besar. Mereka yang terbiasa di dunia inovasi, akan selalu berhadapan dengan pertanyaan itu. Apa yang baru dari yang akan kau buat? Dimana diferensiasi karyamu dengan yang sudah ada?

Saya menolak menjadi generasi yang jumud dan pasif, hanya mengerjakan apa yang sudah orang lain kerjakan.

Saya beri semangat teman-teman. Ayo kita buat ikhtiar sesuatu yang baru. Berhasil atau tidak, itu perjuangan. Namun ikhtiarnya harus menyala.

Jreeeeeeeng! Jadilah program ini. Jadilah ijtihad budaya ini. Jadilah pula kontroversi yang melibatkan pro dan kontra.

-000-

Saya membaca semua pro dan kontra. Saya klasifikasikan isunya dan saya jawab.

PERTAMA, puisi esai ini bukan hal baru. Sudah ada puisi esai. Lihatlah karya Alexander Pope “An essay of man,” karya TS Eliot “The Waste Land,” karya Linus Suryadi AG “Pengakuan Pariyem,” karya Rendra “Potret Pembangunan dalam Puisi.”

Di era Om Google dan Amazon.com, dalam satu klik, semua karya itu ada di hadapan saya. Di antara kesibukan lain, seminggu ini saya baca karya itu, berikut pandangan kritikus atasnya.

Ini jawaban saya. Ada persamaan puisi esai dengan para pendahulunya. Tapi sangat terasa pula perbedaannya. Sama halnya, ada persamaan Ayam goreng Kentucky Fried Chicken dengan ratusan ayam goreng sebelummya. Tapi sangat terasa pula perbedaannya.

Saya mulai dulu dengan karya Alexander Pope dan TS Eliot.

Dari segi isi: baik “An Essay on Man” atau “The Waste Land,” keduanya esei renungan filsafat dalam bentuk puisi.

An Essay on Man berkisah soal bagaimana manusia tumbuh. Mekarnya ilmu pengetahuan membuat manusia memahami hukum yang mengatur alam semesta dan hati nurani. Manusia kemudian menjadi angkuh dan merasa seperti Tuhan.

The Waste Land berkisah tentang satu dimensi penting manusia: kekecewaan dan keputus asaan serta makna dari kematian. Banyak renungan yang bersumber dari Hindu dan Budha.

Dari sisi Isi, puisi di atas dibandingkan dengan puisi esai jelas berbeda. Puisi esai bukan puisi renungan filosofis. Puisi esai bukan perspektif spekulatif mengenai apa itu hidup dan sebagainya.

Puisi esai adalah puisi peristiwa sosial yang kongkret terjadi dalam sejarah. Titik. Peristiwa itu dipotret melalui drama manusia.

Dari segi isi, sudah terasa beda. Yang satu: puisi sebagai esai filosofis. Yang lain: puisi sebagai esai atas peristiwa sosial yang true story.

Dari segi bentuk, benar puisi Pope dan Eliot sama dengan puisi esai. Ia sama sama panjang lebih dari 2000 kata.

Namun sangat jelas pula perbedaannya. Memang ada sejenis catatan, agar mudahnya kita sebut saja catatan kaki dalam puisi Pope dan Eliot. Pada Pope, catatan itu diletakkan di awal chapter sebagai summary atau abtraksi tema. Pada Eliot, catatan kaki itu berfungsi menjelaskan istilah atau pengertian kata dalam teks.

Catatan kaki dalam puisi esai sangat beda fungsinya. Puisi esai memang mencampurkan fakta dan fiksi. Catatan kaki tak sekedar penjelas, ia menjadi sumber kisah sebuah peristiwa sosial. Ada sumber bacaan yang bisa dilacak selayaknya referensi.

Baik dari isi ataupun bentuk, sangat jelas persamaan dan juga perbedaanya.

Sekarang kita periksa karya Linus Suryadi dan Rendra. Dimana perbedaan dan persamaannya dari sisi isi dan bentuk?

Dari sisi isi, baik Pengakuan Pariyem dan Potret Pembangunan mengeksplorasi soal budaya, dunia batin, dan untuk Rendra kental isu sosial politiknya.

Soal isi, puisi esai juga serupa. Namun terasa sangat beda soal bentuk puisi. Pada Pengakuan Pariyem, puisinya memang panjang, lebih dari 2000 kata. Dalam buku, disediakan dua lampiran soal arti kata Jawa.

Tak ada catatan kaki dalam pengakuan pariyem, selayaknya puisi esai. Tak ada pula catatan kaki dalam potret pembangunan Rendra. Bahkan dalam puisi balada. Rendra lainnya yang panjang, khotbah, tak ada pula catatan kaki seperti puisi esai.

Tentu catatan kaki yang dimaksud bukan semata hal teknis menuliskan info dalam puisi. Catatan kaki dalam puisi esai adalah perwakilan dunia nyata. Ia masuk, menyatu dengan puisi.

Sangatlah jelas, ada persamaan, tapi juga ada perbedaan puisi esai dengan para pendahulunya. Kombinasi 4 elemen utama puisi esai memang lama tapi ia menjadi satu entitas baru.

Hal yang sama dengan ayam goreng KFC (Kentucky Fried Chicken). Sejak dulu sudah ada ayam goreng. Sejak dulu sudah ada garam yang digunakan. Sejak dulu sudah ada bumbu lain yang dipakai. Sejak dulu sudah ada kentang sebagai pelengkap. Sejak dulu sudah ada pula penjualan ayam goreng.

Namun oleh KFC semua yang lama itu dikemas menjadi sosok yang berbeda. Sah sudah KFC mendapatkan copy rights yang berbeda dengan ayam goreng sebelum dan setelahnya.

Analogi puisi esai ini terhadap para pendahulunya juga sama. Semua elemen pada puisi esai pastilah ada jejak di masa silam. Namun aneka elemen lama itu terkombinasi menjadi sosok baru. Sah sudah ia menjadi cara ekspresi puisi yang baru.

Sah pula ia diklaim sebagai genre baru, angkatan baru. Apalagi sudah dan akan ada 70 buku yang ditulis oleh 250 penyair dan Aceh hingga Papua. Puisi esai punya komunitas penulis.

Bahwa ada yang tak setuju ini dan itu, segala hal di dunia itu demikianlah adanya. Setuju atau tidak atas apapun, itu seperti udara. Ia hadir dimana mana. Kita terima pro dan kontra sebagaimana kita menerima sanak saudara.

-000-

KEDUA, isu honor 5 juta per puisi dan kontrak tertulis.

Ini isu yang beredar pada kelompok sastrawan penentang puisi esai. Itu kok puisi diberi honor 5 juta? Bukanlah umumnya honor puisi hanya ratusan ribu?

Mengapa pula ada kontrak tertulis menulis puisi? Mengapa pula penulis yang sudah menerima honor dan menyerahkan puisi tak boleh menarik kembali karyanya?

Di titik ini saya sedih. Kultur industri yang sudah lama menyentuh kesenian terutama di dunia barat sungguh masih asing di kalangan banyak penyair.

Betapa karya puisi begitu tak dihargai secara ekonomi saat ini. Bahkan angka 5 juta dianggap keanehan. Prasangka yang muncul: money politics! Penyair dibeli.

Padahal cukup cari di Om Google. Berita itu segera nampak. Sastrawan ternama banyak berpenghasilan ratusan milyar bahkan melampaui satu trilyun rupiah setahun. Alangkah sedihnya jika seseorang menghargai satu puisi lima juta rupiah dianggap berlebihan. Jika bisa satu puisi itu dihargai sepuluh juta. Dua puluh juta. Why not?

Mereka tak terbiasa pula dengan sisi hukum sebuah karya. Kontrak tertulis di dunia seni itu justru penting melindungi kepentingan dua belah pihak. Jika ada di dunia profesi memulai kerja tanpa kontrak tertulis, apa yang akan dijadikan pegangan jika terjadi kasus?

Setelah kontrak dijalankan, honor sudah penuh diterima, dan karya sudah diserahkan, selesai pula kontrak Itu. Tak bisa pula kontrak diputus sepihak. Jika bisa, hancur semua industri. Tak ada lagi yang mau bekerja karena tak ada kepastian.

Bisakah kontrak dibatalkan? Tentu bisa. Hukum sudah mengatur. Hanya pihak ketiga yang memutuskan: pengadilan.

Di indonesia, prosesnya ada pengadilan negri, naik ke pengadilan tinggi, naik ke mahkamah agung. Putusan final memakan waktu 1-3 tahun tergantung kasus. Sebelum ada putusan final, isi kontrak tetap sah dijalankan.

Seniman dan penyairpun harus tunduk pada hukum. Tak bisa menyatakan karena saya penyair saya tak terkena aturan hukum.

Protes karena isu kedua itu justru membuat prihatin. Betapa kultur industri, lengkap dengan kontrak dan sisi hukumnya, masih asing di kalangan para penyair yang protes.

-000-

KETIGA, isu petisi yang meminta menghentikan karya.

Ini jauh lebih menyedihkan lagi. Muncul petisi yang meminta saya menghentikan program puisi esai nasional. Padahal program ini pada dasarnya mengajak orang berkarya.

Dulu di era Orde Baru para pejuang kebebasan berontak ketika pemerintah membatasi orang berkarya. Reformasi pun tiba. Kebebasan datang.

Lho kok kini malah ada kelompok masyarakat yang negatif terhadap mereka yang berkarya. Bukankah berkarya itu buah kebebasan? Indonesia kekurangan orang berkarya. Jumlah buku yang terbit terlalu sedikit.

Lho? Menghadapi situasi ini justru kita harus mendorong orang berkarya. Bukan membatasinya.

Apalagi, untuk kasus gerakan puisi esai nasional! Tak ada dana pemerintah atau dana asing di sana. Tak ada dana pabrik rokok rokok dianggap merusak kesehatan. Tak ada lembaga negara yang dilibatkan. Tak ada hukum yang dilanggar.

Apa pula pasalnya negatif terhadap orang berkarya. Penyair Malaysia Dr. Rem Dambul bahkan memberi komentar. Protes atas puisi esai ini kecemburuan sosial yang melanda kaum yang jumud dan pasif. Mereka ingin semua menjadi sama jumud dan pasif. Yang ingin berbeda ciptakan sesuatu yang baru justru dimusuhi.

Alasannya karena terjadi penggelapan sejarah puisi. Itu yang ditulis bukan jenis puisi esai. Pencipta puisi esai itu bukan Denny JA tapi orang lain.

Sejak kapan ada otoritas sastra yang merasa punya atas definisi? Siapa pula yang memberikan hak itu? Mengapa pula ia merasa berkuasa melarang definisi orang lain?

Padahal Om google ada di sana. Definisi apa itu sastra, politik, bisnis, agama, hidup sangat beragam. Setiap orang dan pakar dibolehkan oleh hukum untuk mendefinisikan bagi komunitasnya.

Ada argumen di sana. Setuju atau tak setuju, apa pula urusannya. Biarkan publik menilai. Mengapa melarang?

Saya menerima petisi kontra puisi esai. Sayapun tahu ia tak mewakili seniman modern yang terbiasa berkarya dan berinovasi.

Apakah petisinya didukung rakyat? Per hari ini, ketika petisi itu dilempar ke publik luas untuk minta dukungan, yang ikut tanda tangan masih di bawah 5000 penduduk. Karena jumlah penduduk Indonesia ada 250 juta, yang ikut tanda tangan berarti di bawah 0, 002 persen saja.

Sejarah akan mengenang petisi itu sebagai semangat melawan kebebasan berkarya. Ia bisa dinamakan petisi NOL KOMA, karena pendukungnya di bawah 0,00 (bahkan nol di belakang koma sebanyak dua kali).

Tapi bisa juga sejarah akan mengenang petisi ini dengan nama “Petisi Ada dan Tiada.” Mengapa? Justru karena yang mendukung hanya nol koma, ada atau tak ada petisi, tak ada pengaruh. Petisi ini justru bisa masuk rekor karena sangat minimnya pendukung.

-000-

KEEMPAT: Perlu Debat Publik

Ini isu berikutnya. Sebagian mengusulkan pemerintah (lembaga bahasa) menyelenggarakan debat publik soal pro dan kontra soal puisi esai.

Saya membaca seruan ini mesem mesem sendiri. Saya sekolah S2 bidang public policy dan S3 soal comparative politics and business history. Saya tentu sangat akrab dengan istilah debat publik dan fungsinya.

Apa faedahnya bagi masyarakat luas jika pemerintah cawe cawe menggunakan dana rakyat mengurus sekelompok kecil, sangat kecil, segelintir penyair yang gelisah karena orang berkarya? Justru pemerintah bisa dituntut menyalah gunakan uang rakyat.

Dalam demokrasi, silahkan saja masyarakat itu sendiri menyelenggarakan debat. Tak usah libatkan pemerintah. Tak usah gunakan uang rakyat.

Apa pula yang mau didebatkan? Namun jika mereka yang protes bersikeras, silahkan saja buat itu debat publik. Saya justru senang karya dan pemikiran saya didebatkan.

Apakah saya akan hadir? Gagasan saya yang akan hadir di sana. Bukankah gagasan itu yang didebatkan?

Mengapa saya memilih tak hadir secara fisik berdebat tatap muka di sebuah ruangan? Saya sudah tuliskan segala hal terang benderang. Justru saya memulai perdebatan itu dengan karya dan gagasan.

Bedanya, bagi saya ruang berdebat itu adalah ruang publik ini. Ruangan itu jangan dibatasi dikecilkan dalam ruang tertutup yang dihadiri segelintir orang. Debat di ruang publik lewat soc med, koran, dll, justru menghadirkan jumlah audience tak terbatas.

Bukankah justru saya memulai perdebatan itu? Bukankah saya sudah hadir sejak hari pertama?


Lamanya debat juga jangan dibatasi sehari atau tiga hari. Justru karena arenanya ruang publik, debat berlangsung sepanjang sejarah sejauh dianggap relevan.

Itulah perdebatan gagasan yang sebenarnya. Semua tulisan, puisi dan gerak yang saya buat, ia bagian perdebatan itu. Tulisan ini yang anda baca, juga bagian perdebatan.

Justru saya merasa belum mendapat lawan debat yang tangguh. Yang ada hanya celotehan level facebook. Kekasaran bahasa celakanya dijadikan gaya. Seolah motonya: semakin kasar semakin bermutu.

-000-

Cukup sudah saya menuliskan hal ihwal. Saya hentikan sampai di sini. Mengapa? Karena ayam goreng dan kentangnya sudah tersaji, di atas meja.

Apa yang harus saya katakan jika tiba tiba pembuat ayam goreng itu berkata bahwa yang ia sajikan adalah ayam goreng genre baru? Saya kira saya tak akan mendebatnya. Tapi segera melahap ayam goreng itu.***

Jan 2018

 

 

 

  • view 496