Ketika Pemilik Koran Besar Berteman dengan Politisi Berpengaruh

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 30 Januari 2018
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

63.2 K Wilayah Umum
Ketika Pemilik Koran Besar Berteman dengan Politisi Berpengaruh

Ketika Pemilik Koran Besar Berteman dengan Politisi Berpengaruh

(Review Film THE POST, nominasi film terbaik Oscar 2018)

Denny JA

Sulitnya saat itu menjadi Katherine Graham. Ia wanita pertama di antara kaum lelaki yang memiliki koran sangat besar Washington Post. Suaminya baru wafat karena bunuh diri dan menjadi isu.

Hari itu ia harus membuat keputusan. Resikonya, ia masuk penjara dan korannya disalahkan pengadilan. Sudah pasti pula para investor akan meninggalkannya. Padahal Washington Post baru go public, IPO. Legacy keluarga hancur.

Namun jika ia mundur, apa yang akan dikatakan rakyat Amerika Serikat? Ia dianggap menghianati fungsi pers yang utama. Ialah melindungi hak rakyat banyak untuk tahu, bukan melindungi penguasa berbohong atas nama dokumen rahasia negara.

Lama Katherine terombang-ambing. Dipandangnya foto suami dan Ayah yang mewariskan koran ini padanya.

Selama hampir dua jam, saya pun ikut terombang ambing menonton film ini. Sambil terus saya bertanya. Jika saya menjadi Katherine Graham, apa yang saya lakukan?

Film ini sungguh pantas tak hanya menjadi nominasi Film Terbaik Oscar 2018. Marryl Streep yang memerankan Katherine Graham juga pantas ke sekian kali dinominasikan aktres terbaik oscar 2018.

Film ini dicatat pula oleh TIME dan AFI sebagai satu dari 10 film terbaik tahun 2018.

-000-

Sepanjang film saya teringat Christopher Dodd. Ujarnya, ketika hak rakyat untuk tahu terancam. Ketika hak media mempublikasikan kejujuran terancam. Maka terancam pula kebebasan sebuah bangsa. Hak rakyat untuk tahu dan hak media mempublikasikan kejujuran agar rakyat tahu adalah fondasi.

Katherine ada dalam posisi itu. Ia kini berada dalam tekanan hebat. Robert McNamara adalah teman sangat dekat. Saat peritiwa berlangsung, Ia menjadi menteri pertahanan (1961-1968) di bawah presiden Lyndan Johnson. Ketika suaminya bunuh diri, McNamara setia menemani.

McNamara sahabat yang kebetulan seorang politisi sangat berpengaruh saat itu. Tapi perkara perang
Vietnam, saat itu tengah menjadi isu hangat. Bangkit demo di aneka tempat. Rakyat amerika bergolak menentang perang.

Awalnya adalah riset. McNamara meminta team akademik mengkaji soal perang Vietnam, berikut rekomendasi. Team akademik bekerja. Kesimpulannya, mustahil Amerika Serikat menang perang.

Tapi politisi merespon kajian ilmiah dengan perspektif berbeda. Mustahil Amerika menyerah kalah. Kemana harus diletakkan martabat negara super power jika kalah dalam perang Vietnam melawan negara kecil?

Tak ada politisi yang bersedia mengambil resiko malu. Akibatnya anak muda Amerika terus dikirim. Kematian demi kematian serdadu Amerika serikat di Vietnam terus pula terjadi. Demi sebuah martabat! Kebohongan soal perang Vietnam perlu dibuat agar rakyat teryakinkan oleh kebijakan pemerintah.

Aneka studi soal masalah perang Vietnam didokumentasikan dalam files yang disebut Pantagon Papers. File ini yang bocor ke kalangan media.

Daniel Elsberg, seorang analis militer, ikut membuat studi itu. Ia membocorkan dokumen itu bertahun tahun kemudian. Awalnya kepada New York Times. Lalu dibocorkan pula kepada Washington Post.

Di tahun enam puluhan itu, Daniel mendengar sendiri ucapan McNamara di pesawat kepada sesama pejabat pemerintahan. Ujar McNamara, sesuai studi yang dibuat, tak ada harapan Amerika memenangkan perang.

Tapi turun dari pesawat, di hadapan wartawan, atas nama kepentingan negara, McNamara membuat pernyataan yang bertolak belakang. Ia berkata, perang perlu diteruskan dan dimenangkan.

Elsberg secara sembunyi memilih memgambil resiko membocorkan Pentagon Papers kepada media. Ia tak tahan pemerintah berbohong. Ia tak tega melihat kematian sia sia tentara Amerika Serikat di Vietnam. Sekitar hampir 20 tahun kemudian, paper itu ia bocorkan.

-000-

Problemnya kemudian beralih kepada pemilik koran. Itu tahun 1996, sudah belasan tahun setelah Elsberg mendengar percakapan McNamara di pesawat, kasus dimulai. Keputusan harus diambil Katherine.

Pengacara sudah mengatakan, Katherine beresiko dibawa ke pengadilan dan masuk penjara jika mempublikasi dokumen negara dengan klasifikasi rahasia.

Katherine terdiam. Ia mengingat sahabatnya, McNamara yang justru menjadi kunci paper Pentagon. Betapa sahabatnya akan menderita akibat publikasi. McNamara sudah pula memperingati Katherine. Ujar McNamara, Presiden Nixon akan keras sekali bertindak dan menghancurkanmu.

Pernyataan bahwa “pemerintah Amerika bertahun tahun berbohong kepada rakyat soal perang Vietnam,” itu isu yang terlalu menyakitkan bagi Nixon. Berarti Nixonpun dituduh ikut berbohong karena ia juga presiden yang menyimpan rahasia.

Board of director yang mengelilingi Katherine menyatakan hal yang sama. Jangan ambil resiko. Investor akan pergi. Kau akan masuk penjara. Koran kita akan hancur. Mana tanggung jawabmu kepada para investor?

Satu satunya yang mendorong Katherine ambil resiko mempublikasi dokumen rahasia penuh kebohongan adalah Ben Bradlee. Ia sejak awal dikenal sebagai jurnalis pembela gigih kebebasan pers. Jika pengadilan mengalahkan mereka, Katherine dan Ben Bradlee masuk penjara.

Ujar Bradlee, jika kita mundur, siapa lagi yang akan memperjuangkan hak rakyat untuk tahu? Siapa lagi yang menentang kebohongan? Siapa lagi yang mengatakan bahwa pemerintah harus dikontrol.

Namun malam itu, Bradlee tak sekeras sebelumnya. Istrinya menyentak agar ia tak terlalu menekan Katherine. Beban dan resiko terbesar ada di Katherine, selaku pemilik, bukan pada Bradlee.

Kini semua di tangan Katherine. Ia yang harus memutuskan. Semua silang pendapat berhenti menunggu keputusan.

Setelah menimbang kanan dan kiri. Kadang ia ragu. Kadang ia mencoba berani. Tapi keputusan harus diambil segera.

Malam itu, Katherine Graham membuat keputusan yang kemudian mengharumkan nama. Ia ambil resiko dipenjara demi berjuang untuk kebebasan pers. Publikasi dokumen rahasia berlanjut. Washington Post menjadi medium.

Pengadilanpun dimulai. Washington Post dan New York Times menjadi tertuduh. Koran besar ini dianggap tak peduli pada keamanan negara.

Yang mengharukan, aneka media Amerika Serikat lain serempak ikut membocorkan rahasia negara sebagai solidaritas.

Bagi awak media, rahasia negara yang membohongi rakyat tak pantas dihormati. Walau rahasia negara itu diklaim dalam rangka kepentingan nasional. Mereka akan berjuang memgambil resiko bahkan masuk penjara.

Sejarahpun mencatat kemenangan kebebasan pers. Hakim dengan skor 6:3, sekali lagi menegaskan prinsip demokrasi modern. Pers harus bebas memberitakan apapun sejauh akurat, termasuk rahasia negara yang membohongi rakyat.

Katherine lepas dari segala tekanan. Para board director dan jajaran wartawan teryakinkan. Seorang wanita pertama yang memimpin koran besar, yang awalnya diragukan, ternyata menyimpan kekuatan yang sungguh.

Awak pers seluruh Amerika Serikat bersorak. Terpujilah Katherine Graham. Terpujilah mereka yang berani mengambil resiko berjuang untuk kebebasan. Terpujilah Steven Spielberg yang mendokumentasikan peristiwa penting itu dalam film yang menarik.

-000-

Sepanjang 12 jam sudah, saya lepas dari film ini. Tapi adegan demi adegannya masih memenuhi kepala. Ia seolah meronta, mengeong, minta dituliskan.

Pagi sekali setelah minum kopi, menuliskan review film ini adalah kegiatan pertama saya membuka hari.***

Jan 2018

  • view 236