Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 26 Januari 2018   09:05 WIB
(4) Lahirnya Sebuah Genre Baru? Angkatan Puisi Esai

(4): LAHIRNYA SEBUAH GENRE BARU? ANGKATAN PUISI ESAI?

- Puisi Esai Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Kalimantan Timur

Denny JA

Di dunia seni, sebagaimana di dunia politik, sebagaimana peradaban umumnya, sebagaimana peristiwa alam, kita melihat siklus itu. Matahari terbit, bersinar di puncak, matahari tenggelam.

Profesor David Fishelov, seorang akademisi bidang comparative literature menulis hasil risetnya soal kelahiran sebuah genre dalam sastra. Makalahnya berjudul: the Birth of a Genre, dimuat dalam European Jurnal of English Studies, April 1999.

Merenungkan teori kelahiran sebuah genre dalam sastra, kitapun mengelaborasi. Apakah kini kita di Indonesia tengah menyaksikan lahirnya genre Puisi Esai? Apakah tahun 2018 menjadi tonggak lahirnya Angkatan Puisi Esai dalam dunia puisi?

Ujar Fishelov, sebuah genre itu tumbuh seperti mahluk hidup. Ia lahir, mencapai kematangan, dan mati. Dua penanda mencirikan lahirnya sebuah genre baru dalam sastra.

Pertama terjadinya momen of birth. Muncul karya “moment of birth” yang bentuk, gaya atau isinya tak lagi bisa sepenuhnya dijelaskan oleh genre zamannya.

Tentu saja tak ada yang 100 persen sama sekali baru. Selalu ada jejak masa silam atas apapun. Selalu ada elemen lama dalam apapun yang baru. Namun komposisi keseluruhan karya itu membutuhkan klasifikasi baru.

Tapi hanya semata lahirnya sebuah karya yang agak lain belum banyak arti. Yang membuat genre baru lahir jika terjadi apa yang disebut secondary forms of generic productivity. Ini istilah untuk memggambarkan lahirnya aneka karya lain yang sifnifikan, yang isi atau gaya atau bentuknya satu kategori dengan karya “moment of birth.”

Jumlah karya yang signifikan, cukup banyak, yang mencirikan satu bentuk atau satu gaya atau satu isi menjadi fakta budaya. Mereka punya komunitas penghasil karya.

Dua penanda itu menjadi tahapan tumbuh dan berkembangnya sebuah genre dunia sastra. Bahkan kita dapat memperluas, dua penanda itu diterapkan untuk dunia seni lain, seperti musik, lukisan, patung, dan sebagainya.

-000-

Bagaimana menjelaskan munculnya puisi esai saat ini?

Segera terbit 34 buku dari 34 provinsi seluruh Indonesia, berisi 170 puisi oleh 170 penyair, penulis, peneliti, jurnalis, dengan ciri karya tertentu. Sebanyak 170 puisi itu memunculkan lima ciri yang sama.

Pertama, semua 170 puisi ini menghadirkan fakta dan puisi. Ada satu peristiwa sosial yang nyata di dalamnya. Namun dalam puisi ini tetap kisah fiksi yang utama.

Kedua, semua 170 puisi ini panjang minimal 2000 kata. Umumnya puisi di zaman ini bisa ditulis cukup satu atau dua halaman. Tapi 170 puisi ini memakan hingga 10 halaman bahkan lebih.

Ketiga, semua 170 puisi memiliki minimal 10 catatan kaki. Seperti makalah ilmiah, hadir catatan kaki yang menunjukkan peristiwa sosial di dalam puisi adalah nyata. Ada sumber informasi yang bisa dilacak. Ada riset minimal dalam puisi ini.

Keempat, semua 170 puisi memiliki drama. Ada hubungan pribadi yang berkembang dalam puisi. Ini layaknya cerita pendek yang dipuisikan.

Kelima, ini tambahan, semua 170 puisi lahir di momen yang sama. Ia menjadi penanda sebuah masa. Ia menjadi karya sebuah generasi.

Mengikuti kerangka yang dibuat oleh David Fishelov, syarat kelahiran sebuah genre dalam dunia sastra terpenuhi. Tentu kelima ciri puisi di atas bukan sama sekali baru. Masing masing ciri sudah pernah ada.

Tak ada apapun di masa kini yang 100 persen baru. Namun kombinasi lima karya itu dalam satu kesatuan, itu yang membuat memberi corak baru. Lima ciri itu tak bisa dimasukkan lagi dalam kerangka genre sebelumnya.

Sebanyak 170 puisi esai itu bisa disebut the secondary forms of genre productivity. Aneka sejumlah karya yang jumlahnya signifikan dengan corak yang sama. Pada 170 puisi esai itu ditemukan lima ciri itu.

Hadirnya 170 puisi esai oleh 170 penyair, penulis, dari 34 provinsi dalam 34 buku segera menjadi fakta. Sekali lagi: Fakta! Nyata!

-000-

Kitapun bisa menambahkan unsur ketiga yang tidak dicantumkan oleh Fishelov. Kemunculan sejumlah karya ini menjadi magnet komunitas. Lahir pro dan kontra. Kritikus, komentator dan analis datang untuk memberikan review. Ada yang mendukung. Ada yang menolak.

Saya tampilkan beberapa komentar yang dianggap dedengkot sastra soal puisi esai. Sapardi Djoko Damono (2012) misalnya menulis “Ini sejenis karangan yang belum pernah saya dapati dalam kesusastraan Indonesia sebelumnya. Ia menyebutnya puisi esai.”

Sutarji Calzoum Bachry menulis: “bagi saya puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi bisa memberikan kepintaran bagi pembaca untuk memahami... dst.

Belasan pro dan kontra para pakar soal puisi esai sudah dibukukan dalam buku “Puisi Esai, Kemungkinan Baru Puisi Indonesia,” dengan editor Acep Zamzam Noor. Dalam buku ini terdapat tulisan Ignes Kleden, Leon Agusta, Maman S Mahayana, Jamal D Rahman, Agus Sarjono, dan sebagainya.

Bahkan puisi esai sudah pula menjadi seminar internasional di Sabah Malaysia. Kritrikus dan sastrawan Asia Tenggara secara khusus membahas 22 buku puisi esai Denny JA. Itupun sudah dibukukan dalam “Temu Sastrawan Asia Tenggara: Isu Sosial Dalam Puisi.”

Tak kurang gegap gempita pro dan kontra di media, berita online bahkan social media. Dalam 10 tahun terakhir, bahkan mungkin 30 terakhir, tak ada gegap gempita dalam dunia sastra sebagaimana yang dialami oleh pro dan kontra puisi esai. Ini sendiri sebuah penanda bahwa puisi esai berhasil menjadi magnet zamannya.

Tak bisa dibantah fakta budaya sudah hadir. Sebanyak 170 puisi esai telah dilahirkan. Pro dan kontra para intelektual tak lagi penting. Semua genre di masa awalnya selalu terjadi pro dan kontra. Tak hanya di bidang sastra. Bahkan agama yang diyakini sebagai wahyu Tuhan tetap menghasilkan pro dan kontra yang sama.

-000-

Saya sudah mengulas 90 puisi esai yang siap terbit dari 18 provinsi. Kali in saya mengulas 10 puisi esai lain dari Provinsi Jawa Barat dan Kalimantan Timur. Sudah 20 provinsi yang siap menerbitkan serial buku puisi esai. Artinya sudah 60 persen dari seluruh provinsi Indonesia sudah rapih dengan masing masing lima atau enam puisi esai.

PROV Jawa Barat

1. Peri Sandi Huizche: Mata Luka Sengkon Karta.

Puisi esai ini mengangkat kisah yang menjadi legenda di Jawa Barat. Di Bekasi tahun 1974, terjadi pembunuhan. Dua rakyat kecil, Sengkon dan Karta, diputus bersalah oleh pengadilan dan dihukum.

Bertahun- tahun kemudian terkuak bukti bahwa bukan mereka pelaku pembunuhan. Mereka tak berdosa. Kasus ini bahkan ikut mendorong pembaharuan di bidang hukum: peninjauan kembali. Terbuka mata betapa pengadilan bisa menghukum mereka tak bersalah.

2. Ahmad Gaus: Kutunggu Kamu di Cisadane

Festival sungai Cisadane punya riwayat panjang. Di sungai itu terjadi pertikaian politik masa silam, yang berujung seorang pejabat yang bersih dan jujur bunuh diri.

Puisi ini mengangkat kembali kisah Festival Sungai Cisadane namun melalui kisah cinta sejoli yang beda agama serta etnis.

3. M. Jojo Rahardjo: Laylis Istri Kontrak

Di Cisarua, marak kultur yang disebut kawin kontrak. Gadis belia dinikahkan oleh orangtuanya hanya untuk satu waktu pendek. Suami kontrak mereka umumnya warga Asing dari Timur Tengah.

Puisi ini mengangkat drama dan perdebatan hukum agama di balik kisah kawin kontrak itu.

4. Hilyatussaidah Annajiyah: Bulan Rebah di Kandang Ayam

Di Kecamatan Setu, kabupaten Bekasi, terdapat wilayah yang disebut kandang ayam. Itu wilayah kumuh praktek prostitusi bagi masyarakat kalangan bawah.

Puisi ini berkisah drama keluarga penuh penuh kejutan yang terjadi dengan latar wilayah kandang ayam.

5. Denis Hilmawati: Yang Tertinggal di Gedung Juang

Di Bekasi sejak tahun 1906 berdiri bangunan yang disebut gedung juang. Gedung ini menjadi saksi perubahan masyarakat dan kisah mulai dari era kolonial, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan.

PROV Kalimantan Timur

1. Yudianti Herawati: Gadis Dayak Dalam Tradisi

Di kampung Benuaq, Kutai Barat, masih hidup suku yang unik dan langka. Mereka menyebutnya suku dayak benuaq.

Puisi ini mengkisahkan perjumpaan gadis modern dengan kultur dayak. Betapa sang gadis terpana menyaksikan pawang buaya memanggil buaya yang memangsa penduduk. Hingga acara ritual memanggil roh.

2. Rahmi Namirotulmina: Cagar Alam Abu-Abu

Desa Pondong Baru di Kabupaten Paser ditetapkan sebagai wilayah cagar alam. Wilayah itu difokuskan pemerintah untuk menjaga keaslian dan kemurnian alam.

Akibatnya pembangunan sangat terbatas di wilayah itu. Puisi ini mengeksplor sisi lain dari niat baik Cagar Alam. Betapa niat baik itu berbuah sulitnya kehidupan nelayan setempat. Bahkan kepastian hidup juga teganggu karena hak kepemilikan atas tanah yang sudah dimiliki sejak zaman nenek moyang menjadi tak pasti.

3. Karyani Tri Tialani: Labuan Cermin Mendendangkan Luka

Dunia usaha pesat di Kabupaten Berau. Ekspansi besar besaran kebun kelapa sawit dan pabrik semen terjadi di sana.

Namun warga melakukan penolakan besar besaran. Demo acapkali terjadi. Keindahan wisata Labuan terganggu. Masyarakat tak kuasa melawan kekuatan modal. Merekapun melawan dengan menggelar zikir dan doa

4. Yustinus Sapto Hardjanto: Dari Gumus ke Mumus

Sungai Karang Mumus mengaliri Samarinda. Awalnya penduduk nyaman menjadikan tepian sungai itu sebagai beranda. Namun zaman berubah.

Sejak tahun 1967-1970an begitu banyak perusahaan mendapat izin menebang pohon. Banyak batang pohon yang ditebang mengalir di sungai Mumus.

Puisi ini memotret upaya penduduk mengembalikan kebersihan lingkungan. Muncul aneka LSM mengugat pemerintah.

5. Agus Dwi Utomo: Tangis Ibu Masih Basah di Pusara.

Tragedi tambang di Kaltim meminta korban 27 jiwa. Seorang ibu menangisi kematian anaknya. Batu bara yang dulu dirayakan karena memakmurkan wilayah, kini meninggalkan lubang. Bocah tergelincir dan tewas dalam lubang itu.

-000-

Telah lahirkah genre baru puisi esai? Tepatkah dikatakan tahun 2018 menjadi penanda lahirnya angkatan puis esai? sejak tahun 2012 sampai 2017, sudah terbit sekitar 40 buku puisi esai. Ia juga ditulis oleh lebih dari 100 penyair, penulis, aktivis, peneliti dan jurnalis dari Aceh hingga Papua.

Namun tahun 2018 ini, gerakan puisi esai memang terasa lebih sistematik dan nasional. Akan terbit 34 buku di 34 provinsi. Digabung dengan periode sebelumnya, tahun 2018 akan ditutup dengan hadirnya total lebih dari 70 buku puisi esai. Ia ditulis oleh lebih dari total 250 penulis dari Aceh hingga Papua, dari Sabang hingga Merauke.

Suka atau tak suka, ini fakta budaya. Di zaman internet, lebih dari 70 buku, lebih dari 240 penulisnya, di 34 provinsi, tinggal dilacak saja.

Jarang ada sebuah genre puisi baru di Indonesia, dalam tujuh tahun, serentak menerbitkan buku hingga sebanyak itu (lebih 70 buku). Lalu genre baru itu ditulis oleh penulis dan penyair sebanyak itu (lebih dari 250 penulis). Lalu genre baru itu hadir di seluruh provinsi Indonesia (34 buku).

Mengikuti terminologi dalam politik, gerakan puisi esai ini, “sistematis, terstruktur dan masif.”

Tapi, soal puisi esai genre baru atau bukan. Namun, soal telah lahir sebuah angkatan puisi esai atau tidak. Biarlah sejarah yang memutuskan. Pro dan kontra itu hukum besi yang hadir sebagaimana hadirnya udara.

Jokowi punya prinsip kerja, kerja, kerja. Para kreator sebaiknya punya prinsip itu saja: karya, karya, karya!***

Jan 2018

Karya : Denny JA