(3): Bangkitnya Civil Society di Dunia Sastra

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 22 Januari 2018
(3): Bangkitnya Civil Society di Dunia Sastra



(3): Bangkitnya  Civil Society Dunia Sasra?
(Puisi Esai Provinsi Yogyakarta dan NTB).

Sebuah bangsa modern, ujar Jean Cohen, tak hanya bisa ditopang oleh masyarakat politik. Tak peduli sekuat apapun partai politik. Sebuah bangsa tak juga hanya bisa bertumpu para masyarakat bisnis. Tak peduli sebesar apapun konglomerasi usaha yang tumbuh.

Sebuah bangsa modern juga membutuhkan hadirnya masyarakat sipil. Terminologi politik untuk itu adalah civil society. Istilah ini merujuk pada jaringan komunitas masyarakat yang menyuarakan batin, harapan, keinginan bahkan seruan keadilan dan nilai modern masyarakat.

Civil society memang tidak ditempelkan pada semua jenis komunitas. Karena fungsi positifnya pada demokrasi modern, civil society dilabekan hanya pada komunitas yang memproduksi kultur demokrasi, hak asasi dan kebebasan.

Tahun 2018 ini kita melihat lahirnya embrio satu komunitas dengan ciri civil society di dunia sastra Indonesia. Kita sebut embrio karena komunitas ini baru berkembang di tahap awal. Kita sebut membawa ciri civil society, karena ia adalah komunitas yang disatukan oleh karya, berjaringan, mampu berdiri secara mandiri, dan diikhtiarkan memproduksi nilai demokrasi.

-000-

Sebanyak 170 penulis, penulis, penyair, peneliti dan jurnalis dari 34 provinsi kini sudah berkumpul. Mereka menjelma menjadi komunitas karya. Mereka tengah berproses mengekspresikan kekayaan batin di setiap provinsi. Bentuk karya bersama yang mereka gunakan: puisi esai.

Ini puisi panjang berbabak. Hadir catatan kaki dalam puisi ini, membawa isu sosial yang nyata menjadi setting drama di puisi. Membaca puisi esai, selayaknya kita membaca cerpen dalam bentuk puisi.

Dua minggu ini, saya sungguh menikmati membaca lebih dari seratus puisi esai dari Aceh hingga Papua. Terpana saya pada beragamnya isu sosial di setiap provinsi.

Puisi esai tak hanya mengangkat problem masyarakat yang nyata. Tapi ia juga mengabarkan kisah batin yang fiktif. Isu sosial menjadi lebih hidup karena ditampilkan melalui perbenturan pelaku dan emosi.

Dalam dua tulisan sebelumnya, saya sudah mengulas total 16 provinsi yang siap terbit. Satu provinsi lima puisi esai oleh lima penulis. Sudah sekitar 80 puisi esai yang saya baca, walau tak semua ditampilkan.

Kini saya singkatkan isi sebelas puisi dari dua provinsi lain: Yogyakarta dan NTB. Total siap terbit surah 18 provinsi. Ini sudah di atas 50 persen dari 34 provinsi.

Di bawah ini isi puisi dan penulis/penyairnya.

PROV. Yogyakarta

1. Isti Nugroho: Pembayun

Sepanjang sejarah bedirinya Keraton Yogyakarta, belum pernah terjadi seorang wanita menjadi penguasa tertinggi. Raja hanya untuk lelaki.

Hamangku Buwono X, yang menjadi raja keraton masa kini, berada di persimpangan. Putrinya, pembayun, punya potensi menjadi Ratu. Ia akan membuat sejarah untuk pertama kalinya keraton Yogyakarta dipimpin wanita. Namun tradisi panjang kultur patriaki menghadang.

Ayun, seorang wanita pebisnis, ikut merenungkan pilihan dan hambatan wanita. Ini dunia yang belum sepenuhnya memberi kesempata yang sama kepada wanita.

2. Dhenok Kristianti: Dalam Belitan Selendang

Kini kota Yogyakarta tak hanya menjadi kota pelajar. Tumbuh pula problem baru akibat modernisasi dan hidup bebas.

Yogyapun dikenal sebagai surga untuk aborsi. Ia juga peringkat atas penyalah gunaan obat terlarang. Meluas pula kultur kumpul kebo tinggal bersama tanpa nikah. Puisi ini mengkisahkan seorang wanita. Ia merenungkan kultur lama dan kultur baru yang tak sejalan.

3. Listyaning Aryanti: Bisikan dari Pantai Selatan

Ada kejadian unik pada masyarakat Gunung Kidul. Sudah menjadi mitos kadang terjadi apa yang disebut Pulung Gantung. Itu peristiwa penampakan bola api di malam hari.

Rumah yang terkena Pulung Gantung akan dapat musibah. Satu keluarganya akan bunuh diri. Mitos ini digunakan menjelaskan banyaknya perbuatan bunuh diri di sana. Ada yang terjun ke laut, terjun ke gua tanah, hingga gantung diri.

4. Ana Ratri Wahyuni: Kudengar Kota Itu Terpelajar.

Puisi ini mengkisahkan rakyat kecil yang menjadi buruh Pasar Beringharjo. Ini pasar tertua di kota Yogya. Untuk bertahan hidup, buruh di pasar itu kadang harus pinjam pada tengkulak dengan bunga yang sangat tinggi.

Ini kisah rakyat dari kelas sosial paling bawah. Ia melihat kota ini dikenang sebagai Kota pelajar. Berdiri banyak sekolah dan kampus. Tapi ia tak merasakan kultur kota pelajar itu dalam kehidupan sehari -harinya yang terjerat hutang. Setiap hari hutangnya beranak pianak.

5. Otto Sukatno CR: Sanimin, Lelaki yang Menghardik Waktu

Di tahun 90an, Yogya memiliki gelandangan yang ikonik. Rakyat banyak menyebut namanya Sanimin. Nama sebenarnya tak diketahui. Ia berkeliaran di jalan raya tanpa pakaian sedikitpun. Kadang ia terlihat di bagian barat kota. Kadang di bagian timur.

Puisi itu mengeksplorasi siapa Sanimin sebenarnya. Peristiwa sosial apa yang menimpa sehingga ia dianggap orang gila yang hidup di jalan. Termasuk apa yang terjadi dengan istrinya.

6. Genthong HSA: Begjo, Pasir Berlimpah, Pasir Bertuah

Begjo, rakyat kecil hidup menambang pasir. Ia tinggal di sekitar gunung Merapi. Ia hidup akrab dengan lingkungan. Warga di sana harus tunduk pada gunung yang disebut Eyang merapi.

Pasir tempat mereka menambang diyakini sebagai tumpahan letusan Merapi berskala raksasa. Namun situasi berbeda ketika bos dan cukong ikut mengeruk pasir. Mereka punya teknologi raksasa. Para gali-gali dikerahkan untuk mengawal.

Begjo dan rakyat kecil lain terpaksa harus tawuran mempertahankan nafkah dan keyakinannya. Ia membayar pertaruhan itu dengan nyawa.

PROV. Nusa Tenggara Barat

1. Muhammad Tahir Alwi: Maja Labo Dahu

Bahkan di tahun 1951, masyarakat di Kampung Ria berani melepas ratusan kerbau mereka di gunung Sambu. Jarak gunung dengan kampung sekitar 14 kilo meter. Merekq tak takut kerbau dicuri. Memang tak ada pula yang mencuri satu kerbaupun.

Kultur untuk saling menjaga dan saling percaya, berbuat baik ini disebut Maja Labo Dahu. Dunia modern saat ini mengistilahkannya dengan social trust.

Tapi Kota Bima kini sudah berubah. Bahkan motor yang diparkir di halaman rumah banyak dicuri. Puisi ini mengeksplorasi kemana perginya kultur lama nan agung?

2. Rahim Eltara: Potret Cinta Lalu Dia dengan Lala Jinis

Di kabupaten Sumbawa, berdiri Istana Bala Putih. Kini istana itu digunakan untuk menjamu tamu istimewa pemerintah.

Puisi ini melakukan napak tilas riwayat istana Bala Putih. Terkuak kisah asmara yang mendalam. Betapa istana itu ternyata mahar dan ekspresi cinta Sultan Sumbawa kepada putri Sultan Bima Paduka Siti Hadijah.

3. Firtiatunnisa AW: Mimpi Mimpi Murni

Di kabupaten Bima, terdapat antara lain, dua desa: Desa Ngali dan Desa Renda. Hanya karena main sepakbola, atau bising suara motor, bahkan sekedar tatapan mata, penduduk dua desa ini sering tawuran dan perang.

Akar konflik dua desa itu sudah panjang sejak zaman Belanda dan diwariskan turun temurun. Sawah Desa ngali dijadikan pampasan perang dan diserahkan kepada penduduk Desa Renda. Pada gilirannya penduduk Desa Ngali kembali merebut sawah.

Terebutlah seorang gadis, bernama Murni. Orangtuanya terbunuh karena konflik dua desa itu. Murni mengembangkan mimpi dan harapannya.

4. Purna Aprianti: Bara Cinta

Etnis Bali merupakan pendatang di Kota Sumbawa. Namun banyak pendatang ini hidupnya secara ekonomi lebih baik ketimbang penduduk asli. Tapi dua suku itu tetap harmonis.

Sampai suatu ketika datang kisah cinta. Merari itu budaya kawin lari dari Bali. Menjadi masalah ketika pemuda asal Bali mengajak gadis Sumbawa untuk merari (kawin lari).

Bara cinta dari dua kultur yang berbeda berujung pada konflik sosial dan kekacauan.

5. Aries Zulkarnaen: Balada Tana Intan Bulaeng

Tau Sumawa itu sebutan untuk penduduk Kabupaten Sumbawa. Mereka pemeluk Islam yang sangat taat, bahkan fanatik. Kini di sana hidup 52 etnik dari seluruh nusantara. Beragam pula agamanya.

Puisi ini mengeksplor bagimana kultur yang dikembangkan Tau Sumawa mampu menjaga damai, menghindari konflik horisontal

-000-

Mayoritas dari 170 penulis, penyair, peneliti dan jurnalis ini setiap hari berkomunikasi. Teknologi sudah sampai di tahap ini. Grup WA mayoritas penulis itu sudah tercipta.

Dari hanphone, saya diundang ikut hampir 300 grup WA. Mungkin grup puisi esai ini adalah komunitas yang paling lengkap dilihat dari jumlah provinsi yang diwakili. Mereka berkumpul juga disatukan oleh hal yang agung: karya. Ini komunitas berkarya.

Mereka saling mengingatkan. Saling menumbuhkan nilai demokrasi, hak asasi, kebebasan juga persahabatan. Betapa dalam jaringan ini sangat dihargai tradisi untuk tetap berkawan walau beda soal sikap atas puisi.

Tumbuh pula inisiatif karya lanjutan. Sebagian mengusulkan membawa puisi esai ke tahap audio visual hingga layar lebar. Sebagian mengusulkan perkuat basis ilmiah agar puisi esai semakin solid sebagai cata bertutur tambahan.

Komunitas ini jika terus tumbuh dapat memperkaya satu segmen dari civil society Indonesia. Banyak perbedaan di sana tentunya. Tapi ada yang lebih besar yang menyatukannya.

Itu harapan membuat karya kolosal bersama. Itu ikhtiar untuk ikut memperkaya sastra dengan cara bertutur baru.

Segala hal memang dimulai oleh niat dan ikhtiar. Sisanya adalah perjuangan.

Jan 2018






  • view 414