Petisi Sastra 0,001 Persen

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 21 Januari 2018
Petisi Sastra 0,001 Persen


Petisi Sastra 0,001 Persen

Denny JA

Di sebuah negeri, di tahun politik,
Tersiar kabar muncul petisi.
Tuntatan tak biasa.
Mereka menyebutnya
Petisi sastra 0,001 persen.

Sederhana itu nama,
tapi rumit riwayat.
Unik itu kasus
Tapi kompleks tuntutan.

Para hulu balang menghadap Raja.
Memberi laporan hal ihwal.
Menunggu petunjuk dan titah
Bagaimanakah petisi harus direspon.

“lapor,” ujar hulu balang.
“Di sela kita sibuk bangun infrastruktur,
Ketika jalan layang melintang,
Ketika air muncrat, sumur digali,
dan waduk dibangun,
Ketika ratusan tetua desa akan dipilih,
ada petisi, petisi tak biasa.
Ialah petisi sastra.”

Terdiam raja.
Ini keluarga
Sudah tujuh turunan menjadi raja.
Baru kali ini ada petisi soal sastra.
Oh uniknya.

Apa tuntutan mereka?, tanya raja
Mereka minta raja turun ke bawah.
Menyetop penyair berkarya?
Di 34 desa, wilayah seluruh kerajaan,
penyair kena wabah.
Menulis puisi palsu,
Dengan judul karya bersama seluruh kerajaan.

“ha?,” terkaget raja.
Mereka minta aku ikut menyetop penyair berkarya???
Bukankah baru kemarin mereka berontak.
Protes aku yang bredel buku ini.
Tak setuju aku larang buku itu.
Aku sudah mengalah.

Lha, kok sekarang aku diminta menghambat orang berkarya?
Mau balik ke masa silam?

Ampun paduka.
Tapi itu bunyi petisi.
Raja terdiam. Tapi ia mulai tertarik.
Alangkah uniknya.

Oke, kita dalami, ujar Raja.
-Siapa dalangnya?
Namanya Togog, paduka.
-Apakah ia seorang kriminal?
Tidak paduka.
-Apakah ada aturan dilanggar.
Tidak paduka.
-Apakah pakai uang kerajaan?
Tidak paduka
-apakah ia memaksa dengan kekerasan?
Tidak paduka.
-Apakah ia melanggar kontraknya?
Tidak paduka.

-Lha? Atas dasar apa aku ikut campur?
Tapi memang itu petisinya, paduka.
Hm, Raja terdiam.
Semakin ia terpesona.
Alangkah ajaib.

Maaf paduka.
Ini alasannya.
Si Togog tukang klaim.
Ia merasa penemu aliran baru.
Ia merekayasa tokoh berpengaruh.
Ia mengklaim banyak pengikut.
Ini sesat.
Racun kotori pernafasan.

Raja menyanggah.
lha? Kemarin mereka minta kebebasan
Sekarang sudah tersedia.

Dalam kebebasan,
Kan orang boleh jual kecap.
Dalam kebebasan,
Orang boleh buat klaim.
Dalam kebebasan,
Orang boleh mencari pengaruh.
Kan semua begitu!
Kan iklan dibolehkan.
Biarkan rakyat percaya yang mana.

Yang penting tak ada hukum dilanggar.
- Apakah ada hukum dilanggar?
Tak ada paduka.
- Lha? Atas dasar apa mereka minta aku terlibat?
Ini sesat, paduka.
Lha, kan semua aliran memang beda.
Di bidang apapun.
Sejak era kuda gigit besi.

Kok dibilang sesat?
Kok sastra seperti agama?
Ada yang sesat?
Ada yang diridhoi?

Oh uniknya, ujar Raja.
Semakin ia tertarik.

Hulu Balang, seru Raja mulai penasaran.
Katakan yang sebenarnya.
- Mengapa kau bawa petisi itu menghadapku?
Ini tak ada kasusnya. Aku banyak urusan.

Hulu balang menimpali.
Jumlah pengikutnya banyak paduka.
-Ha? Raja melompat dari kursi.
Nah, itu penting!
-Berapa?
-Apakah rakyatku di belakang ini petisi?

Ada 1000 rakyat lebih yang sudah tanda tangan, paduka.
Seribu? Tanya raja.
Kan pendudukku 250 juta.
Raja minta ahli matematika membuat hitungan.

Ahli matematika melapor
Raja, jika yang tanda tangan 2,5 juta,
Itu baru 1 persen.
Jika yang tanda tangan 250 ribu, itu 0,1 persen.
Jika 25 ribu, itu 0,01 persen.
Jika 2500, itu 0,001 persen.
Petisi ini didukung oleh kurang dari 0,001 persen rakyat, paduka.

Ampuuun, raja mengeluh.
Dihardiknya itu hulu balang.
Ini petisi hanya didukung 0,001 persen rakyatku.
Artinya rakyatku tidak anggap ini petisi penting.
Buuuaanyaaaknya itu dimana???
Mengapa kau bawa ini petisi?
Jangan kau permainkan aku!!
Raja mulai naik pitam.

Ampun, raja.
Boleh hamba mendekat?
Seseorang sesepuh ambil alih perkara.
Ia mendekat ke telinga raja.
Maaf paduka.
Ini kan tahun politik.
Mungkin perlu kita beri gula gula.
Buat semua riang.
Tahun politik, tahun orang senang.

Aha!
Raja baru mengerti.
Itu ide yang bagus.
Raja mengangguk-angguk,
Sambil ia belai ia punya jenggot.

Hari itu Raja buatkan perintah.
Minggu depan akan ada upacara.
Petisi sastra itu diberi pujian.
Ialah sebuah nama:
Petisi Sastra 0,001 persen.

Nama petisi dibuat,
sesuai dengan jumlah pendukungnya.
Petisi ini menjadi unik,
Justru karena sangat sedikit pendukung.

Semua senang.
Petisi Sastra 0,001 persen resmi sudah.
Raja semakin dicintai.***

Jan 2018

  • view 306