Petisi Sastra dan Matematika Elementer

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 21 Januari 2018
Petisi Sastra dan Matematika Elementer



Sebuah Petisi Sastra dan
Matematika Elementer

Denny JA.

Seorang anak muda dengan semangat memberi kabar. Teman teman. Petisi sastra kita didukung rakyat banyak. Bukti apa yang kita gelisahkan itu gema suara publik Indonesia.

Horeeeee. Asyiiiik. Segerombol komunitas itu luapkan rasa senang. Kopi dipesan. Tahu dan singkong disiapkan. Harus dirayakan.

Lanjut anak muda itu: Siapapun yang ikut barisan si Togog adalah penghianat. Yang lain menimpali: penyeleweng! Budak pra bayar! Penjilat!

Tak ada itu puisi bla bla bla. Kesucian sastra harus ditegakkan. Terus rapatkan barisan. Jaga kemurnian. Ini petisi zamannya.

Aha! Si Togog pasti kecing di celana. Ujar yang lain. Kerumunan terpingkal. Ada yang berpelukan. Puas kali.

Bayangkan, ujarnya, kini petisi kita sudah ditangan tangani oleh 1000 orang. Amazing. Wonderful. Hanya satu kata: Wow. Yang lain menimpali: Lanjut! Hancurkan!

-000-

Namun ada Anwar di kumpulan itu. Sederhana ucapannya. Bro, penduduk Indonesia itu 250 juta orang. Bagaimana kita bisa mengklaim didukung rakyat?

Jika yg tanda tangan 2,5 juta orang, itu baru 1 persen. Jika 250 ribu orang, itu baru 0, 1 persen. Jika 25 ribu orang, itu baru 0,01 persen. Jika baru 2500 orang, itu baru 0,001 persen. Yang dukung kita per hari ini bahkan belum sampai 0,001 persen.

Dalam statistik, 0,001 persen itu terlalu kecil. Itu bisa diabaikan. Bahkan 1 persen saja bisa dianggap tidak signifikan. Apalagi hanya 0,001 persen.

Kita justru harus sedih bro. Berarti petisi kita tak dianggap penting oleh rakyat Indonesia. Si Togog menang lagi. Kacau!!!

Harus kita cari cara lain. Klaim didukung publik luas, tak kena. Angka dan data itu justru memukul kita. Sebaliknya, kita harus malu. Mereka akan bilang. Bahkan yang dukung kita tak sampai 0,001 persen. Cabut petisi itu. Lebih cepat lebih baik.

Komunitas itu langsung marah. Anwar dianggap tak punya komitmen. Mereka teror Anwar. Gelar sastra yang ia dapat akan dicabut. Ia akan dipermalukan di social media. Itu terlalu beresiko bagi Anwar.

Terdiam Anwar. “Siap,” ujar Anwar. Ia mengubah posisi. “OK, maaf tadi aku keliru. Aku segera umumkan yang sebenarnya. Angka tanda tangan 0,001 persen bisa dianggap besar. Sangat besar.

Ujar Anwar: Bisa kok kita klaim, itu bukti rakyat Indonesia di belakang petisi sastra kita. “Benarkah itu? ,” tanya yang lain ragu. “Benar, ujar Anwar. Ini teori baru. Setidaknya teoriku. Persetan dengan teori orang orang bule itu.”

Komunitaspun bersorak. Kembali mereka tepuk tangan. Semua senang. Yang mereka butuh sekarang memang militansi. Serbu! Terjang! Bakar!

Anwar terdiam. Dalam hati, ia merenung. Teman temannya ini sedang butuh makna bahwa mereka penting. Ilusi pun diciptakan.

Apa yang salah dengan masyarakat kita? Keluh Anwar, mengapa teman temanku menjadi anonim dan butuh ilusi?

Mengapa mereka tak ikhlas orang lain berkreasi? Toh tak ada uang negara di sana. Tak ada Hukum yang dilanggar. Bahwa pandangan si Togog salah, biarkan publik yang menilai. Bahwa itu definisi sastra yang sesat, biarkan sejarah menghakimi. Bahwa ada uang besar, toh itu uangnya pribadi.

Soal agama saja orang bisa beda pendapat. Ada banyak interpretasi. Soal ilmu ekonomi dan aneka jenis ilmu saja ada banyak aliran. Ini ada apa teman temanku? Kok merasa benar sendiri? Kok paham dan definisi sastra saja perlu sama? Kok motif orang menulis saja harus sama?

Kok marah dengan orang yang beda?

Ampuuun, keluh Anwar. Tapi ini celaka, ujar Anwar. Kok Aku yang tahu juga ikut-ikutan buta?

Anwar nyalakan handphone, seperti akan berfoto Selfie. Ia lihat wajahnya di handpone. Wajah seorang yang selalu goyah.

Dalam hati Anwar bergumam. Mampuslah aku. Inilah yang terjadi. Aku selalu ragu.

Sementara komunitas itu terus pesta pora. Merayakan suksesnya petisi sastra yang hanya didukung oleh 0,001 persen rakyat Indonesia.

Inilah kisah sebuah komunitas. Ialah ketika militansi mengalahkan prinsip matematika elementer.***

Jan 2018
(Diinspirasi oleh kisah sejati????????????????)

- [ ]

  • view 453