Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 20 Januari 2018   12:18 WIB
Sore Itu, Catatan Kaki Mengeluh Padaku



Sore itu, Catatan Kaki Mengeluh Padaku
Denny JA

Siapakah pertama kali dalam sejarah yang menggunakan catatan kaki pada naskah tertulis? Bagaimana catatan kaki lahir dalam peradaban? Bagaimana pula catatan kaki berevolusi?

Bertambahnya pengetahuan kadang datang dengan cara tak terduga. Sore itu, tengah Januari 2018, saya tengah mendalami lebih dari seratus puisi esai yang datang dari aneka provinsi. Meja saya penuh dengan naskah, yang datang dari provinsi mulai dari Aceh hingga Papua.

Akan terbit 34 buku ditulis 170 penyair, penulis, peneliti, jurnalis, mengekspresikan batin Indonesia melalui puisi esai. Saya terpana dengan kekayaan jeritan batin. Indonesia begitu beragam.

Satu puisi panjangnya minimal 2000 ribu kata. Yang unik, memang kehadiran catatan kaki pada puisi esai itu. Satu puisi minimal hadir 10 catatan kaki.

Sambil minum kopi, tiba tiba tergerak hati saya ingin mendalami riwayat catatan kaki. Saya ajukan pertanyaan itu. Seolah catatan kaki saya ajak berdialog. Wahai catatan kaki, ceritakan riwayatmu? Siapakah ibu kandung yang pertama kali menggunakanmu?

-000-

Tiga jam saya hilang dalam riset. Membaca ini dan itu. Dari Om Google, ternyata soal lahirnya catatan kaki juga menjadi kajian sejarah. Dari beberapa buku yang mengeksplorasi catatan kaki, saya beli satu buku berjudul: A Devils’ Detail: A History of Footnotes, karangan Chuck Zerby, 2002.

Peradaban online sungguh luar biasa. Cukup dengan satu klik di Amazon. Com, segera buku itu masuk ke handphone saya melalui Kindle. Detik itu juga buku yang datang dari jauh sana, sampai pada saya lewat handphone. Saya lahap buku itu.

Tak saya duga, catatan kaki pertama yang hadir dalam peradaban digunakan oleh terjemahan injil yang disebut Bishop Bible, tahun 1568. Ini terjemahan injil yang mendahului injil king James (1611) yang kemudian menjadi mainstream di dunia.

Bapak kandung catatan kaki ternyata bukan seorang filsuf. Bukan pula ia seorang penulis. Bapak kandung catatan kaki yang pertama adalah tukang cetak. Ia benama Richard Juddge. Kapan ia lahir tak diketahui. Tapi ia wafat tahun 1577.

juddge seorang penganut agama yang taat. Ia tumbuh ketika Inggris dan Eropa diramaikan oleh konflik interpretasi agama. Kaum Lutherian dan Calvinis mengembangkan pemahaman kristen sendiri, lengkap dengan injilnya.

Gereja Bishop meminta Juddge mencetak injil untuk komunitas. Juddge menggunakan catatan kaki pertama tama hanya untuk memberi keterangan bagaimana cara ia menempatkan huruf dan kata dalam layout injil.

Catatan kakipun lahir. Dunia percetakan semakin menyebar. Semakin muncul kebutuhan adanya keterangan tambahan di luar teks utama. Catatan di luar tekspun semakin sering digunakan oleh banyak pencetak dan juga kemudian penulis.

Namun sebagaimana apapun di era awal, ketika menjamur sebuah gagasan, belum terjadi standarisasi. Keterangan tambahan untuk teks utama, bisa berbeda dari sisi lokasi. Ada yang meletakkan di bawah. Ada yang meletakkan di samping. Ada yang meletakkan di akhir karangan. Ada yang meletakkan bahkan juga di dalam teks.

Namapun diberikan sebagai pembeda. Ada footnote, endnote, marginnote, in-textnote. Penulis dan pencetak bebas memakainya. Catatan awal yang memang disebut catatan kaki semakin menjamur.

-000-

Asosiasi profesipun datang mengatur. Modern Language Association (MLA) lahir di Amerika serikat tahun 1883. Ini organisasi yang menghimpun ahli bahasa seluruh dunia. Hingga masa kini, asosiasi ini beranggota 25 ribu ahli bahasa dari 100 negara.

Muncullah kebutuhan standarisasi penulisan catatan kaki. Seperti semua gagasan dan cara, segala hal berevolusi. Adalah MLA yang pertama kali membuat standard cara menulis catatan kaki. Angka bukan huruf dipilih mewakili catatan kaki. Angka itu dimasukkan ke dalam teks utama.

Tapi angka yang mewakili catatan kaki harus hadir dalam posisi spasi yang sedikit lebih tinggi dari huruf atau angka dalam teks utama. Dengan perbedaan lokasi angka, pembaca cepat tahu itu adalah catatan tambahan.

MLA metakkan posisi catatan itu bisa di bawah halaman, atau di akhir karangan. Catatan di pinggir halaman atau di dalam halaman tidak dianjurkan.

Bentuk catatan kaki yang kita kenal sekarang baru datang setelah standarisasi oleh MLA. Tentu saja Richard Judgge dan penulis sebelum standarisasi MLA tidak menggunakannya sebagai aturan.

Namun aneka profesi lain mengembangkan pula cara menulis catatan kaki yang lebih detail. APA (American Psychological Association), US Govermental Printing Office, American Legal Community memiliki aturan detail yang berbeda.

Saya terpana. Begitu jauh perjalanan catatan kaki ini. Apa yang berkembang abad 21 sudah sangat berbeda dibandingkan ketika catatan kaki pertama digunakan oleh Richard Judgge, 1568.

Dunia sastrawan tak pula ketinggalan menggunakan catatan kaki. Novelis mulai dari James Joyce dalam Finnegans Wake hingga Ernest Hemmingway dalam Natural History of the Dead, juga menggunakan catatan kaki.

Dunia puisi juga demikian. Mulai dari Alexander Pope hingga Aneka  penulis puisi esai  menulis puisi juga menggunakan catatan kaki. Namun tentu saja, Alexander Pope lahir sebelum standarisasi catatan kaki MLA ditemukan. Iapun banyak meletakkan catatan itu di awal chapter, di tengah buku.

-000-

Sore itu catatan kaki dari 100 puisi esai dari aneka provinsi hadir di meja saya. Seolah saya terus berdialog dengan catatan kaki.

Saya bayangkan catatan kaki itu mengeluh. Ujarnya, “mengapa aku tak banyak digunakan dalam karya sastra sebanyak digunakan dalam dunia makalah ilmiah? Mengapa aku dianak-tirikan oleh sastra?

Sambil menghirup kopi, saya hibur catatan kaki itu. Saya katakan dunia imajinasi sastra memang berbeda dengan dunia makalah ilmiah. Terimalah nasibmu di dunia sastra.

Tapi saya yakinkan itu catatan kaki. “Kau lihat. Kau sangat disayang oleh puisi esai. Di dunia sastra lain kau dihadirkan sebagai tamu dan sambil lalu. Tapi dalam puisi esai, kau hadir sebagai fondasi dan tuan rumah.”

“Lihatlah. Semua puisi esai ini menghadirkanmu. Kau mewakili dunia nyata masuk ke dalam puisi.”

Saya membayangkan, catatan kaki tak lagi mengeluh. Ia tersenyum.***

Januari 2018

Karya : Denny JA