Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 19 Januari 2018   15:50 WIB
Masuknya Peristiwa Sosial ke Tubuh Puisi

Masuknya Peristiwa Sosial ke dalam Puisi

(Kisah Catatan Kaki dari Alexender Pope Hingga Puisi Esai)

Denny JA

Peristiwa sosial sebuah bangsa dapat direkam dan dikisahkan kembali melalui banyak medium. Antara lain melalui makalah ilmiah, reportase dan film. Tapi kini sebanyak 170 penulis, penyair, peneliti dan jurnalis berikhtiar merekam dan mengkisahkan peristiwa sosial melalui medium puisi, yang disebut puisi esai.

Kitapun dihidangkan 170 puisi esai, puisi panjang, layaknya membaca cerpen dalam bentuk puisi. Aneka peristiwa sosial dari Aceh hingga Papua sampai pada kita lebih ringkas dibandingkan melalui novel. Mimpi, luka, jeritan, harapan, emosi manusia lebih pula dapat kita rasakan dalam puisi ketimbang membaca makalah.

Yang menarik dari puisi esai itu adalah hadirnya catatan kaki. Fenomena catatan kaki ini membuat puisi esai berbeda dibandingkan prosa liris atau puisi sosial panjang lainnya.

Tapi barukah kehadiran catatan kaki dalam puisi? Apakah sah menyatakan puisi esai genre baru semata karena kehadiran catatan kaki? Apa filosofi di balik catatan kaki di dalam tubuh puisi esai?

-000-

Sebuah puisi yang ditulis sekitar 300 tahun lalu (Tahun 1734), sudah pula menghadirkan catatan kaki. Penulisnya: Alexander Pope dengan puisi berjudul An Essay on Man. Namun catatan kaki di puisi ini memiliki filosofi dan fungsi yang beda dibanding ketika digunakan oleh puisi esai.

Secara khusus saya mengeksplor puisi Alexander Pope. Saya beli buku online. Saya ikuti reviewnya. Pemikir raksasa seperti Voltaire, Rosseau, Immanuel Kant memberikan komentar yang serius atas puisi ini. Essay on Man dianggap fenomenal.

Puisi Pope pada dasarnya puisi filsafat. Dalam puisi itu, tulis Pope manusia belajar tentang alam dan Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Begitu terpukau manusia pada ilmu, hingga ia merasa berkuasa seperti Tuhan. Padahal apa yang manusia tahu melalui ilmu pengetahuan hanyalah bagian sangat kecil dari yang tak ia ketahui.

Pope memang menggunakan catatan kaki. Namun fungsi catatan kaki dalam puisi Pope sangat instrumental. Ia hanya menjadikan catatan kaki sebagai penjelas hal yang diulasnya sepintas di tubuh puisi. Atau sebagai pengantar pendek kisah kemudian.

Posisi catatan kaki pada puisi Alexander Pope tidak pula menjadi perhatian kritikus ataupun pengulas puisi pada umumnya. Hadir atau tidak catatan kaki pada puisi Pope itu, tidaklah dianggap penting.

Tentu tak hanya Alexander Pope yang menggunakan catatan kaki. Banyak pula penyair lain juga sudah menggunakan catatan kaki. Tapi fungsi catatan kaki dalam puisi mereka berbeda dan mengalami lompatan dibandingkan dalam puisi esai. Perbedaan itu berakar dari filosofi puisi esai sendiri.

Adalah Sapardi Djoko Damono (2012) yang memberi perhatian khusus. Ketika ia mengantar buku Atas Nama Cinta (Denny JA), yang dianggap buku pertama puisi esai, Sapardi mengulas. Sapardi mengeksplor khusus catatan kaki saja, dalam sejarah perpuisian.

Sapardi juga mencatat puisi Mao Tse Tung yang diterjemahkan: Salju dan Nyanyian Bulan Mei. Ujar Sapardi, catatan kaki diberikan di sana sini untuk menjelaskan peristiwa sejarah dalam puisi. Catatan kaki itu agar pembaca memahami konteks.

Puisi penyair Indonesia juga ada yang diberi catatan kaki, terutama sebagai penjelas teknis istilah pada tubuh puisi.

Namun dalam puisi esai Denny JA, ujar Sapardi, fungsi catatan kaki sudah berbeda karena katakter puisi esai sendiri. Ini puisi yang menyatukan puisi dan esai, fakta dan fiksi. Posisi catatan kaki menjadi sangat sentral sebagai perwakilan fakta dalam tubuh fiksi puisi.

Menyatunya catatan kaki dalam puisi esai membuat puisi esai berbeda. Dalam bahasa Sapardi sendiri, dengan kutipan langsung, puisi ini menjadi “suatu jenis karangan yang belum pernah saya dapati dalam perkembangan kesusastraan kita. Ia (Denny JA, tambahan penulis) menamakannya puisi esai.”

Sapardi juga membedakan puisi esai dengan aneka puisi sosial lain. Indonesia juga kaya dengan puisi sosial. Antara lain ditulis oleh Lekra, Rendra atau F Rahadi. Dalam puisi penyair sebelumnya, tulis Sapardi, catatan kaki (sebagai wakil fakta dan peristiwa sosial) tak hadir.

Demikianlah memang catatan kaki yang sama, namun berbeda fungsi dan filosofinya. Bisa dikatakan, puisi esai membawa catatan kaki berevolusi. Kini catatan kali dalam puisi (puisi esai) menempati posisi sentral.

-000-

Tapi sahkah puisi esai dianggap baru? Peradaban baca tulis dalam sejarah manusia sudah berusia 10 ribu tahun. Sudah puluhan miliar manusia berkarya. Tentu saja tak ada yang 100 persen baru, yang sama sekali tak ada jejak masa silam.

Tak ada yang baru di bawah matahari. Terminologi baru atau inovasi di bidang apapun memang tak pernah dan tak bisa diberikan pada satu gagasan yang 100 persen tak ada jejak di masa silam.

Namun ia sudah dianggap baru atau inovasi jika ia membuat hal yang lama itu muncul dalam bentuk sosok yang berbeda. Karl Popper menyebutnya “piecemeal approach.” Peradaban bergerak karena kebaruan “sedikit-sedikit,” perubahan pelan pelan. Ada unsur yang walau banyak elemen lama tapi sedikit saja sisi baru. Itu sudah lebih dari cukup.

Demikianlah kita melihat riwayat catatan dalam puisi. Ia hadir sejak 300 tahun lalu melalui puisi Alexander Pope dan lainnya, terus berevolusi hingga masuk ke puisi esai.

Kini 170 penulis dari Aceh hingga Papua juga menggunakan catatan kaki. Sosok catatan kaki itu hadir dalam puisi sebagai wakil fakta sosial untuk melukis batin Indonesia.***

Jan 2018

* Terminologi catatan kaki ini dalam esai ini saya gunakan untuk semua jenis catatan, baik yang ditulis di kaki halaman (footnote), di akhir karangan (endnote), di pinggir halaman (marginnote), ataupun deskripsi di awal chapter.

Bentuk footnote yang dikenal sekarang belum lazim digunakan dalam sastra 300 tahun lalu. Apa yang dilakukan oleh Alexander Pope sebenarnya lebih tepat disebab catatan tengah. Catatan itu lebih banyak ia tuliskan di awal chapter (di tengah buku), untuk menunjukan alur kisah, dan semacam abstraksi.

Namun dalam rangka perbandingan dengan bentuk sastra masa kini, saya gunakan saja satu istilah yang populer footnote untuk segala jenis note itu (di bawah, di pinggir, di akhir atau di tengah buku).

Karya : Denny JA