Kisah Pro dan Kontra Gerakan Puisi Esai Nasional: Memotret Batin Indonesia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Januari 2018
Kisah Pro dan Kontra Gerakan Puisi Esai Nasional: Memotret Batin Indonesia

Kisah Pro dan Kontra Gerakan Puisi Esai Nasional

(Gagasan Memotret Batin Indonesia)

Denny JA

Suatu ketika Margareth Heffernen berkata. Peradaban tak akan melahirkan gagasan cemerlang dan inovasi sejati tanpa melalui pro dan konta, perdebatan dan saling ketidak setujuan. Sebuah tesis memerlukan anti-tesis agar lahir sintesis.

Itulah yang kita lihat di dunia sastra indonesia saat ini. Sebanyak 170 penulis, penyair, peneliti dan jurnalis dari Aceh hingga Papua, dari Sabang hingga Marauke di 34 propinsi, membuat gerakan yang tak biasa. Mereka memotret batin Indonesia, mimpi, luka, sejarah, memori kolektif. Mediumnya sebuah genre sastra yang juga kontroversial: Puisi Esai.

Atas gerakan nasional itu muncul reaksi yang juga nasional. Lahir beberapa petisi yang pesertanya juga dari aneka propinsi.

Sangat jarang sekali terjadi sebuah pro dan kontra puisi dan budaya yang panggungnya nasional. Pro dan kontra ini sepenuhnya berada di tataran civil society. Tak terlibat tangan pemerintah atau korporasi bisnis besar dalam gerakan nasional pro dan kontra. Itu point penting.

Kaca mata pesimis melihat dinamika itu dengan was was, penuh kuatir. Tapi mereka yang optimis, yang kuat wawasan budaya, justru akan berkata: Aha! Akhirnya datang kekuatan pro kontra. Jika berhasil, perseteruan ini menggerakan gagasan besar dan inovasi dunia budaya Indonesia.

Sayangnya memang, pro dan kontra yang terjadi baru di tahap awal. Esai ini sebuah argumen. Pro dan kontra bagaimana yang diharap? Mengapa pro dan kontra yang kini ada belum berimbang? Ibarat tinju, belum terjadi antara kelas berat versus kelas berat, tapi kelas berat versus kelas bulu.

-000-

Pro dan kontra yang kita harapkan adalah yang ada di level yang sama. Gagasan vesus gagasan. Karya versus karya. Dua alasannya.

Pertama, kita idealkan, atas gerakan puisi esai nasional, yang membuahkan 34 buku puisi di 34 propinsi, lahir tandingan yang sama. Terbit pula karya yang sama masifnya di 34 propinsi yang membawa gagasan sebaliknya.

Pro dan kontra muncul dalam wujud pro dan kontra karya. Karya versus karya. Publik indonesia akan dilezatkan batinnya, diperkaya wasasannya. Tersedia semakin banyak bacaaan dari dua sudut pandangan atau medium yang berbeda.

Yang terjadi saat ini belum di tahap itu. Yang satu melahirkan 34 buku puisi esai nasional. Yang kontra gerakan puisi esai nasional akan melahirkan apa? Yang pro mengajak dan menggerakkan penyair dan penulis daerah berkarya. Yang kontra justru mengajak penyair dan penulis memboikotnya.

Katakanlah jika gerakan memboikot ini berhasil, karya baru apa yang dihasilkan? Ia justu negatif jika berhasil karena justru menghentikan tersedianya karya tambahan.

Kita justru memberi semangat gerakan yang kontra berevolusi ke tahap lebih tinggi agar bisa mengimbangi. Ayo, buat karya alternatif di 34 propinsi, ekpresikan batin Indonesia dengan bentuk puisi yang berbeda. Atau ayo, buat karya tandingan.
Pro dan kontra akan menggerakkan peradaban jika karya versus karya, bukan karya versus seruan jangan berkarya.

Kedua, kita idealkan pro dan kontra itu juga berada pada semangat inovasi yang sama. Mereka yang bergerak membuat karya bersama 34 buku menawarkan sebuah yang baru. Mereka berikhtiar memotret batin indonesia di setiap propinsi melalui puisi esai.

Di atas 50 persen puisi dari gerakan puisi esai nasional sudah siap publikasi. Kita terpana melihat kayanya batin Indonesia. Dari aceh, terpotret luka anak bangsa akibat konflik berkepanjangan pemerintah indonesia versus   gerakan aceh merdeka. Atau terkatakan persepsi warga melihat tsunami yang menelan korban ratusan manusia.

Dari Papua, ada kisah suku Konawai yang terasing dari peradaban. Seorang ayah berjalan kaki 10 jam melintasi hutan agar anaknya dapat berjumpa dokter terdekat. Atau kisah pesta adat yang meminta mahar mas kawin tinggi.

Dari kalimantan dan sulawesi, ada kisah sulitnya sebuah keluarga. Mereka yang terbiasa hidup di rumah apung bersama suasana laut, kini harus beradaptasi hidup di darat. Program pemerintah yang menertibkan rumah apung ternyata tak sederhana efeknya pada masyarakat lokal.

Atau dari Jawa tengah, terpotret sisi batin keluarga keraton surakata. Kakak adik lain ibu bertarung berebut tahta. Terjadi intrik antara keluarga besar yang berbeda dengan sistem demokrasi Indonesia. Terpotret juga kisah anak bangsa yang tahunan hidup di bawah jembatan layang.

Ini contoh aneka potret batin yang akan diceritakan gerakan puisi esai nasional. Mereka menawarkan sebuah ikhtiar. Isu sosial di Indonesia bisa dikisahkan lewat puisi, bernama puisi esai. Ada catatan kaki di sana sebagai referensi isu sosial itu nyata, bisa dilacak sumbernya. Puisi teramat panjang di atas 2000 kata, berkisah layaknya cerpen.

Suka atau tidak, berhasil atau tidak, gerakan puisi esai ini sebuah ikhtiar menawarkan cara baru berpuisi, cara baru berekspresi.

Saya pribadi sudah tahu 70 persen dari 170 isu sosial yang sudah, tengah dan akan ditulis. Tapi melalui puisi esai, isu sosial itu tampil lebih hidup lewat jeritan batin dan subyektivitas pelaku.

Mereka yang menentang, menawarkan inovasi apa? Sisi baru apa yang ingin ditawarkan oleh kelompok kontra?

Kita justru mendorong. Ayo yang kontra. Naik lebih tinggi. Membumbung lebih jauh. Tawarkan sesuatu yang baru. Zaman baru perlu cara bertutur baru.

Akan tak seimbang pro dan kontra jika levelnya berbeda. Yang satu menawarkan sebuah ikhtiar. Yang kontra hanya reaksioner menolak sebuah ikhtiar.

Katakanlah jika gerakan yang menolak berhasil, sisi baru apa yang akan dihasilkan? Sintesis apa yang didorong atas tesis puisi esai?

-000-

Perbedaan level pro dan kontra atas gerakan puisi esai nasional, jika dilacak lebih jauh, berakar dari perbedaan sumber daya para pelaku.

Dari kubu gerakan pro puisi esai, terasa mereka sudah lengkap memiliki semua atribut untuk gerakan yang punya magnet. Mereka punya gagasan baru, ada jaringan nasional, ada organisasi yang rapih dan profesional, dan tersedia dana mandiri. Gerakan ini tak bergantung dana pada pemerintah, lembaga asing ataupun konglomerat besar. Ini point penting.

Sementara gerakan yang kontra, sumber daya manusia belum lengkap. Mereka punya juga jaringan. Bahkan mereka punya militansi. Ada api yan kuat. Tapi dua hal penting yang belum mereka miliki untuk menjelma menjadi sebuah gerakan nasional yang juga menghasilkan karya.

Mereka belum punya dana. Tapi dana bisa dicari. Kekurangan utama kelompok yang kontra adalah absennya gagasan yang segar. Gagasan apa yang mereka tawarkan kecuali menolak ini, menolak itu, bukan ini, bukan itu.

Kita mendorong gerakan nasional kontra puisi esai berevolusi ke tahap lebih tinggi. Jangan berhenti hanya menjadi gerakan petisi “jangan ini jangan itu, hati hati ini, hati hati itu.” Tapi temukan gagasan. Lawan karya dengan karya.

Ayo berlomba lomba dalam karya. Bukan berlomba lomba melarang orang berkarya. Lawan gagasan dengan gagasan. Bukan lawan gagasan semata dengan petisi.

Januari 2018

  • view 432