Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 18 Januari 2018   09:28 WIB
Mereka Ingin Menghadang Perubahan: Polisi Sastra Jilid 3

Mereka Ingin Menghadang Perubahan
(Polisi Sastra Jilid 3)

Denny JA

Pada awalnya hanya ada satu burung.
Zaman bergerak.
Burung beranak pianak.
Kini hidup 10.000 species burung.

Kau tak bisa jadi polisi burung
Apapun kuasamu.
Tak bisa kau hadang lahir burung baru.
Burung tumbuh bersama hutan dan langit.
Ikuti hukum alam.
Tiada bisa kau sentuh.

Pada awalnya hanya ada satu bunga.
Abad datang membawa cuaca.
Dibawa pula angin dan musim.
Kini tumbuh 600 ribu species bunga.

Kau tak bisa menjadi polisi bunga.
Tak bisa kau larang warna bunga.
Tak bisa kau batasi harum bunga.
Apapun kuasamu.
Tak bisa kau hadang tumbuh bunga baru.

Bunga tumbuh bersama matahari.
Tak mampu kau kendalikan.

Pada awalnya hanya ada satu bunyi.
Tumbuh satu genre musik.
Tapi peradaban bergerak.
Manusia beranak dan berpindah.
Imajinasi mekar.

Kini genre musik, oh banyaknya.
Nama beragam.
Dari A hingga Z
Zaman yang beda ciptakan nada baru.

Kau tak bisa menjadi polisi musik.
Tak bisa kau atur itu bunyi.
Tak bisa kau hadang tumbuh musik baru.
Musik tumbuh bersama malam,
menyelinap membawa inspirasi.

Demikian Darta sang guru
Kelas itu tengah belajar peradaban.
Anwar, bersama murid lain mendengar
Darta semaikan pengetahuan.

Tapi ada perkecualian.
Ujar Darta Sang Guru.
Selalu ada yang beda.
Itulah maksud studi banding kali ini.

Kini kelas itu akan pergi bersama
Ada suku terasing di ujung dunia.
Terdengar kabar,
Mereka punya polisi sastra.
Di sana tumbuh niat membara.
Ialah menjaga kemurnian.
Motonya: dunia harus diselamatkan.
Sastra perlu disucikan.
Mereka ingin menghadang tumbuhnya jenis sastra baru.

-000-

Merekapun tiba di sana.
Mengamati itu suku itu berhari-hari
Tampak sekumpulan manusia,
Segelintir saja jumlahnya
Tapi mata mereka dari api.
Terasa bersemangat.

Oh sungguh unik.
Setiap pagi mereka berbaris,
Lakukan ritual.
Kepala suku pimpin doa

Ingat! camkan!
“Sastra adalah bla bla bla,
Yang bukan bla bla bla, BAKAR!”
motif menulis hanya boleh bla bla bla.
Yang berbeda, MURTAD!

Umatnya patuh.
Dengan dada telanjang.
Tombak di tangan kiri.
Bedil di tangan kanan.
Bersama berbaris ucapkan itu mantra.

Kar, kar, kar,
Sastra itu bla bla bla.
Yang bukan bla bla bla,
Bakar, bakar, bakar!

Tad, tad, tad.
Motif menulis bla bla bla.
Yang tidak bla bla bla,
Murtad, murtad, murtad.

Musik berbunyi.
Mereka bernyanyi.

Dari pagi hingga malam.
Doa ini mereka ulang.
Enam kali sehari.
Melebihi sholat agama Islam.

Kumpul bersama tak hanya hari minggu.
Juga senin hingga sabtu.
Melebihi kunjungan gereja agama Kristen.

Asyiiikkkkkkk.
Darta dan para murid terpesona.
Mereka berpelukan.
Oh sungguh unik.

Ujar Anwar:
Astaga, ini era digital,
Mobil listrik sudah ditemukan.
Manusia menuju planet mars.
Ada robot membuat humor,
Eh, masih hidup ini suku terasing.

Alangkah lezatnya.
Aneh tapi nyata.
Para murid puas, datang dari jauh.
Pengalaman mempesona.

-000-

Tapi terdengar kabar.
Ada anggota membelot.
Ia keluar dari suku terasing.
Pergi ke wilayah lain.

Susah payah Anwar mencari.
Aha! Ketemu ia.
Sang pembelot diwawancara
Hal ihwal pokok perkara.

Ada apa?
Mengapa membelot.

Ujarnya: Saya tak tahan, pak.
Kitab suci terlalu keras.
Kepala suku terlalu ganas.
Jaga kemurnian, walau harus intimidasi.
Jaga kemurnian, wolau harus melukai.
Saya tak bisa.

Apakah hanya itu? Tanya Darta.

Ujar sang pembelot:
Mereka juga punya aturan.
Definisi sastra tak boleh berubah.
Harus sama.
Apapun zaman.
Definisi itu keramat.
Mereka bentuk polisi sastra.
Menjaga definisi.
Menghukum siapapun pencemar definisi.

Darta dan para murid makin terpesona.
Wah, unik sekali.
Suku ini menyembah definisi.
Definisi sastra sudah mereka pertuhankan.
Ditulis di batu.

-000-

Darta dan murid pulang.
Kembali pula mereka pada peradaban.
Tapi pelajaran kelas sudah beda.

Tetap diajarkan
zaman berubah
Dari satu menjadi banyak.
Tetap ditunjukkan
Tak ada polisi bisa menghadang.
hukum evolusi terlalu perkasa.

Tapi sejak studi banding.
Kini kelas punya bab baru
Ternyata, oh ternyata
Memang ada perkecualian.
Tetap hadir suku terasing
Hidup jauh di sana.
Mimpi menjadi polisi sastra
menghadang perubahan.

****

Jan 2018

 

 

 

 

 

Karya : Denny JA