(2): Yang Berkarya dan Yang Protes

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 17 Januari 2018
(2): Yang Berkarya dan Yang Protes

(2): Yang Berkarya dan Yang Protes

- Puisi Esai Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten


Denny JA

Suatu ketika Margareth Heffernen berkata. Peradaban tak akan melahirkan gagasan cemerlang dan inovasi sejati tanpa melalui pro dan konta, perdebatan dan saling ketidak setujuan. Sebuah tesis memerlukan anti-tesis agar lahir sintesis.

Itulah yang kita lihat di dunia sastra indonesia saat ini. Sebanyak 170 penulis, penyair, peneliti dan jurnalis dari Aceh hingga Papua, dari Sabang hingga Marauke di 34 propinsi, membuat gerakan yang tak biasa. Mereka memotret batin Indonesia, mimpi, luka, sejarah, memori kolektif. Mediumnya sebuah genre sastra yang juga kontroversial: Puisi Esai.

Atas gerakan nasional itu muncul reaksi yang juga nasional. Lahir beberapa petisi yang pesertanya juga dari aneka propinsi.

Sangat jarang sekali terjadi sebuah pro dan kontra puisi dan budaya yang panggungnya nasional. Pro dan kontra ini sepenuhnya berada di tataran civil society. Tak terlibat tangan pemerintah atau korporasi bisnis besar dalam gerakan nasional pro dan kontra. Itu point penting.

Kaca mata pesimis melihat dinamika itu dengan was was, penuh kuatir. Tapi mereka yang optimis, yang kuat wawasan budaya, justru akan berkata: Aha! Akhirnya datang kekuatan pro kontra. Jika berhasil, perseteruan ini menggerakan gagasan besar dan inovasi dunia budaya Indonesia.

Sayangnya memang, pro dan kontra yang terjadi baru di tahap awal. Esai ini sebuah argumen. Pro dan kontra bagaimana yang diharap? Mengapa pro dan kontra yang kini ada belum berimbang? Ibarat tinju, belum terjadi antara kelas berat versus kelas berat, tapi kelas berat versus kelas bulu.

-000-

Pro dan kontra yang kita harapkan adalah yang ada di level yang sama. Gagasan vesus gagasan. Karya versus karya. Dua alasannya.

Pertama, kita idealkan, atas gerakan puisi esai nasional, yang membuahkan 34 buku puisi di 34 propinsi, lahir tandingan yang sama. Terbit pula karya yang sama masifnya di 34 propinsi yang membawa gagasan sebaliknya.

Pro dan kontra muncul dalam wujud pro dan kontra karya. Karya versus karya. Publik indonesia akan dilezatkan batinnya, diperkaya wasasannya. Tersedia semakin banyak bacaaan dari dua sudut pandangan atau medium yang berbeda.

Yang terjadi saat ini belum di tahap itu. Yang satu melahirkan 34 buku puisi esai nasional. Yang kontra gerakan puisi esai nasional akan melahirkan apa? Yang pro mengajak dan menggerakkan penyair dan penulis daerah berkarya. Yang kontra justru mengajak penyair dan penulis memboikotnya.

Katakanlah jika gerakan memboikot ini berhasil, karya baru apa yang dihasilkan? Ia justu negatif jika berhasil karena justru menghentikan tersedianya karya tambahan.

Kita justru memberi semangat gerakan yang kontra berevolusi ke tahap lebih tinggi agar bisa mengimbangi. Ayo, buat karya alternatif di 34 propinsi, ekpresikan batin Indonesia dengan bentuk puisi yang berbeda. Atau ayo, buat karya tandingan.
Pro dan kontra akan menggerakkan peradaban jika karya versus karya, bukan karya versus seruan jangan berkarya.

Kedua, kita idealkan pro dan kontra itu juga berada pada semangat inovasi yang sama. Mereka yang bergerak membuat karya bersama 34 buku menawarkan sebuah yang baru. Mereka berikhtiar memotret batin indonesia di setiap propinsi melalui puisi esai.

Di atas 50 persen puisi dari gerakan puisi esai nasional sudah siap publikasi. Kita terpana melihat kayanya batin Indonesia. Dari aceh, terpotret luka anak bangsa akibat gerakan aceh merdeka. Atau terkatakan persepsi warga melihat tsunami yang menelan korban ratusan manusia.

Dari Papua, ada kisah suku Konawai yang terasing dari peradaban. Seorang ayah berjalan kaki 10 jam melintasi hutan agar anaknya dapat berjumpa dokter terdekat. Atau kisah pesta adat yang meminta mahar mas kawin tinggi.

Dari kalimantan dan sulawesi, ada kisah sulitnya sebuah keluarga. Mereka yang terbiasa hidup di rumah apung bersama suasana laut, kini harus beradaptasi hidup di darat. Program pemerintah yang menertibkan rumah apung ternyata tak sederhana efeknya pada masyarakat lokal.

Atau dari Jawa tengah, terpotret sisi batin keluarga keraton surakata. Kakak adik lain ibu bertarung berebut tahta. Terjadi intrik antara keluarga besar yang berbeda dengan sistem demokrasi Indonesia. Terpotret juga kisah anak bangsa yang tahunan hidup di bawah jembatan layang.

Ini contoh aneka potret batin yang akan diceritakan gerakan puisi esai nasional. Mereka menawarkan sebuah ikhtiar. Isu sosial di Indonesia bisa dikisahkan lewat puisi, bernama puisi esai. Ada catatan kaki di sana sebagai referensi isu sosial itu nyata, bisa dilacak sumbernya. Puisi teramat panjang di atas 2000 kata, berkisah layaknya cerpen.

Suka atau tidak, berhasil atau tidak, gerakan puisi esai ini sebuah ikhtiar menawarkan cara baru berpuisi, cara baru berekspresi.

Saya pribadi sudah tahu 70 persen dari 170 isu sosial yang sudah, tengah dan akan ditulis. Tapi melalui puisi esai, isu sosial itu tampil lebih hidup lewat jeritan batin dan subyektivitas pelaku.

Mereka yang menentang, menawarkan inovasi apa? Sisi baru apa yang ingin ditawarkan oleh kelompok kontra?

Kita justru mendorong. Ayo yang kontra. Naik lebih tinggi. Membumbung lebih jauh. Tawarkan sesuatu yang baru. Zaman baru perlu cara bertutur baru.

Akan tak seimbang pro dan kontra jika levelnya berbeda. Yang satu menawarkan sebuah ikhtiar. Yang kontra hanya reaksioner menolak sebuah ikhtiar.

Katakanlah jika gerakan yang menolak berhasil, sisi baru apa yang akan dihasilkan? Sintesis apa yang didorong atas tesis puisi esai?

-000-

Perbedaan level pro dan kontra atas gerakan puisi esai nasional, jika dilacak lebih jauh, berakar dari perbedaan sumber daya para pelaku.

Dari kubu gerakan pro puisi esai, terasa mereka sudah lengkap memiliki semua atribut untuk gerakan yang punya magnet. Mereka punya gagasan baru, ada jaringan nasional, ada organisasi yang rapih dan profesional, dan tersedia dana mandiri. Gerakan ini tak bergantung dana pada pemerintah, lembaga asing ataupun konglomerat besar. Ini point penting.

Sementara gerakan yang kontra, sumber daya manusia belum lengkap. Mereka punya juga jaringan. Bahkan mereka punya militansi. Ada api yan kuat. Tapi dua hal penting yang belum mereka miliki untuk menjelma menjadi sebuah gerakan nasional yang juga menghasilkan karya.

Mereka belum punya dana. Tapi dana bisa dicari. Kekurangan utama kelompok yang kontra adalah absennya gagasan yang segar. Gagasan apa yang mereka tawarkan kecuali menolak ini, menolak itu, bukan ini, bukan itu.

Kita mendorong gerakan nasional kontra puisi esai berevolusi ke tahap lebih tinggi. Jangan berhenti hanya menjadi gerakan petisi “jangan ini jangan itu, hati hati ini, hati hati itu.” Tapi temukan gagasan. Lawan karya dengan karya.

Ayo berlomba lomba dalam karya. Bukan berlomba lomba melarang orang berkarya. Lawan gagasan dengan gagasan. Bukan lawan gagasan semata dengan petisi.

-000-

Sebanyak 16 peristiwa sosial di tiga propinsi besar telah memperkaya pengetahuan saya. Ternyata seperti itu sisi batin sebuah problem sosial. Isu puisi esai tiga propinsi itu saya ringkaskan di bawah ini.


PROV. Jawa Tengah

1. Handry TM: Kidung Kelam Kasunanan.

Surakarta termasuk sedikit wilayah di Indonesia yang masih memiliki raja. Apa yang terjadi jika dua kakak adik yang berlainan ibu berebut kuasa gelar raja? Puisi ini merekam suasana batin di dalam keraton yang luka. Betapa demokrasi yang tengah berjalan di ruang besar Indonesia tidak tercermin dalam politik keraton kasunanan Surakarta.

2. Gunato Saparie: Dan Darahpun menetes di Kebonharjo.

Kebonharjo nama desa di Jawa Tengah. Desa ini merekam bagaimana modernisasi memakan korban. Kasusnya adalah pembangunan rel kereta api yang menggusur rumah di sepanjang jalan kereta. Banyak pemilih tanah itu sudah turun temurun di sana, memiliki sertikat yang sah.

Derap pembangunan menjadi kompleks ketika melahirkan konflik, yang tak hanya meneteskan air mata. Menetes pula darah.

3. Anggoro Suprapto: Balada Jembatan Layang Cakrawala.

Apa rasanya bertahun tahun hidup di bawah jembatan layang Cakrawala? Awalnya terhampar tanah luas terbengkalai di kota semarang. Penduduk miskin usia 50- 60 tahun, menempatinya.

Datang pemilik modal besar. Dibantu aparat pemerintah berdasarkan hukum, rakyat miskin ini tergusur. Sebagian bertahun tahun melanjutkan hidup di bawah jembatan dengan aneka drama.

4. Roso Titi Sarkoro: Luka Lama Kabut Sindoro Sumbing

Di kabupaten Temanggung, pilkada tak hanya pesta rakyat. Namun berujung pada pemakzulan Bupati dari jabatannya. Puisi ini memotret konflik kekuasaan yang berakibat pada buruknya kehidupan masyarakat di sana.

5. Kamerad Kanjeng: Ngerunkepi Ibu Bumi.

Apa rasanya jika kaki dicor di semen? Ibu padmi melakukan aksi protes mengecor kakinya di semen. Ia pun tewas.

Puisi ini terinspirasi oleh kisah ibu Padmi. Di Gunung Kendeng, kabupaten Rembang, berdiri penambangan bahan semen. Ekologi rusak. Rakyat kecil bergejolak. Namun jeritan rakyat kecil itu tiada daya melawan tangan kekuasaan yang perkasa.

6. Sulis Bambang: Kisah Miliarder Korban Projek Jalan Tol.

Ternyata korban penggusuran projek bisa pula menjadi miliarder. Ini yang terjadi pada penduduk di sekitar jalan tol Semarang-Batang. Mereka tak punya uang. Namun prioyek penggusuran cukup ramah mengganti tanahnya dengan nilai uang berlipat lipat.

Mereka menjadi orang kaya baru. Bahkan sebagian menjadi miliarder. Namun kekayaan ternyata mengubah prilaku. Bagi yang tak siap, menjadi orang kaya baru justru pembuka menuju penderitaan jenis baru.

PROV Jawa Timur

1. Agoez Harystz: Sri, Mengeja Sunyi Dalam Senyuman

Puisi ini tentang kisah mencengangkan Immatul Maisaroh. Ia lahir di desa Kanigaro, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lepas dari pernikahan yang dipaksa, ia menjadi TKW.

Tak diduga, ia pun menjadi korban perdagangan manusia. Selayaknya komoditi, ia “dijual” ke banyak tempat di aneka negara. Nasib datang tak terduga. Ia tumbuh, belajar dan diangkat menjadi penasehat khusus Gedung Putih, Amerika Serikat, di bawah Presiden Obama.

2. Itonk Mulyadi: Lelaki Kuning dari Lembah Lompongan.

Pantai wisata Pulau Merah, Banyuwangi Selatan, tak hanya memberi keindahan pandangan. Datang pula bencana Tsunami.

Puisi ini mengeksplorasi efek bencana itu pada seorang rakyat kecil. Aneka luka batin dan rugi materi akibat bencana meninggalkan jejak panjang bagi hidup selanjutnya. Ia tumbuh melakukan banyak hal untuk survive hingga dituduh teroris.

3. Viddy Ad Daery: Lapindo, Alam yang Membalas Dendam

Tiada terbayang kehancuran alam yang dibawa bencana lumpur Lapindo. Banyak keluarga luluh lantak. Ia menjadi berita nasional karena massifnya dan panjangnya pergolakan rakyat.

Puisi ini mengeksplorasi ketidak- pedulian manusia pada alam. Bukit dibotaki. Hutan dibakar. Pada gilirannya, ibu alam marah dan membalas dengan bah luapan lumpur raksasa.

4. Suyanto Garuda: Salim Kancil Tumbal Tambang Pasir

Di desa Selok kabupaten Lumajang dikenal dengan budaya yang santun. Tinggi nilai kekeluargaannya. Desa itu memiliki pula pasir anugrah Tuhan yang tinggi nilai ekonominya.

Tak terduga pasir itu justru datangkan bencana kepada sosok petani kecil. Datang penambang pasir besar. Seorang team sukses kepala desa tengah berkuasa. Sang petani melawan hingga hilang nyawa.

5. Endah Pusporini: Kelud Gugat

Rakyat yang tinggal di lereng Gunung Kelud banyak yang Muslim Kejawen. Mereka beragama Islam namun kental bercampur dengan kultur lokal. Turun temurun mereka hidup selaras dengan alam.

Namun zaman berubah. Fenomena tak pernah terjadi sebelumnya: banyak sumur ambles. Warna air menjadi keruh. Gunung Kelud sepertinya marah. Apa sebabnya?

PROV Banten

1. Jodhi Yudono: Baduy, Apa yang Terjadi?

Suku badui di Banten sejak dulu dikenal dengan dengan kultur yang khas. Mereka umumnya penganut sunda wiwitan. Namun zaman mulai mengubahnya. Mereka menjadi seperti orang kota biasa.

Apa yang terjadi dengan suku badui? Mungkinkah suku itu kembali ke akar budaya mereka sendiri?

2. D Pebrian: Seribu Industri di Tanah Benteng.

Puisi ini memotret satu wilayah di Tanggerang. Pembangunan tengah semarak. Aneka pabrik berdiri. Namun terasa ada kesenjangan antara penduduk asli dengan pendatang. Kecemburuan membuat penduduk asli acap berulah.

Suatu ketika seorang muda penduduk asli ditolak bekerja di pabrik, semata karena ia penduduk asli , yang dikenal kurang pendidikan dan tumbuh dalam kultur serba kekurangan. Ia pun pergi ke kota menimba ilmu. Pulang ke Tanggerang, ia memimpin penduduk asli mengubah situasi.

3. Fachrudin Salim: Balada Cinta Perawan Desa

Ini kisah sepotong cinta di desa ujung selatan banten. Generasi baru meninggalkan desa. Pekerjaan tani tak lagi diminati. Banyak yang keluar kota.

Terkisahlah sepasang muda mudi. Di desak oleh kemiskinan, dan kondisi desa yang ditinggalkan, sang gadispun memilih pergi ke kota. Ditinggalkannya pria yang merindu.

4. Saefullah: Keraton Banten

Di kota serang tersimpan kenangan masa silam. Begitu banyak situs sejarah. Ada mesjid putri Ong Tin, keturunan kaisar Tiongkok. Ada Vihara. Ada keraton Kaibon, keraton Surosowan.

Seorang penduduk menyesali perubahan. Situs sejarah semakin lenyap tak terurus. Berganti hadir di Serang aneka mall. Berdiri banyak perumahan.

5. Laura Arkeman: Multatuli

Tanah lebak Banten menjadi terkenal ke seluruh dunia. Kisah wilayah itu direkam dalam karya sastra Max Havelaar, oleh Douwes Dekker. Multatuli nama samarannya.

Puisi ini merekonstruksi kisah cinta Saijah dan Adinda karya Multatuli di sana. Tergambar pula keserakan bupati lebak. Termasuk kisah seorang belanda yang membela rakyat melawan bupati pribumi.

-000-

Sebanyak 34 buku puisi esai akan merekam batin dan peristiwa di 34 propinsi. Ini kerja kolosal yang kelak akan menjadi bahan studi. Serial 34 buku ini bukan saja menjadi bahan peminat sastra mendalami satu jenis puisi, puisi esai.

Tapi dalam serial 34 buku itu, puisi esai membawa puisi melampuai peran tradisionalnya. Puisi juga menyampaikan isu sosial yang nyata. Ia bisa menjadi kajian sosiologis, kajian sejarah, kajian anthropologi.

Berbeda dengan puisi biasa, puisi esai ini juga ada drama. Asyik sekali jika puisi esai ini menjadi film layar lebar. Puisi esai saya Atas Nama Cinta di tahun 2014 juga dibuatkan lima film @40 menit oleh Hanung Bramantyo.

Tak sabar saya menanti kiriman puisi esai dari sisa propinsi.****

Januari 2018

 

 

  • view 418