Puisi Esai : Ke Mana Sanggup Ia Berkembang?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Januari 2018
Puisi Esai : Ke Mana Sanggup Ia Berkembang?

“Puisi Esai”

Ke Mana Sanggup Ia Berkembang?

 

Beberapa tahun yang lalu, untuk pertama kali saya mendengar istilah “Puisi Esai”. Barangkali saya tidak akan terlalu mempedulikannya. Namun, “puisi esai” itu ternyata berkaitan dengan Jurnal Sajak di mana saya giat sebagai salah seorang redakturnya. Tak ada jalan lain, saya perlu memperhatikannya, apalagi setelah saya diberitahu bahwa Jurnal Sajak —mulai dengan nomor 3 tahun 2012— akan memiliki sebuah rubrik “puisi esai” dengan seorang redaktur yang secara khusus mengurus jenis sastra baru itu. Sebagai tahap awal untuk mengetahui perihal dan latar “puisi esai”, saya berkunjung ke sebuah situs internet tempat dipasangnya kumpulan puisi berjudul Atas Nama Cinta karya Denny J.A. Di situ saya baca lima buah puisi panjang bercatatan kaki yang mengangkat tema menarik dan penting, berbahasa sederhana, dan tak terlalu puitis. Kumpulan ini jelas bukan karya yang dahsyat dari segi susastra, jelas bukan karya seni bahasawi yang sesungguhnya. Saya kecewa. Bahkan istilah “puisi esai” pun tak bisa saya terima, apalagi klaim bahwa itu merupakan sebuah genre sastra yang baru. Dan sastra jenis ini akan dijadikan rubrik tetap memakan sekian halaman Jurnal Sajak? Wah …

            Pada editorial Jurnal Sajak 2/2011 berjudulkan “Merindukan Puisi yang Bukan Prosa, Merindukan Sajak” pernah saya sampaikan puisi jenis apa yang saya cintai dan puisi mana yang saya harap akan diperhatikan atau bahkan diperjuangkan oleh Jurnal Sajak. Ia tak lain tak bukan adalah puisi berbentuk sajak. „Sajak” di sini adalah pengertian sajak yang adalah “kebalikan dari prosa”. Atau —dengan mengutip editorial tersebut— adalah,

 

karya seni bahasawi yang (bahkan) memenuhi syarat untuk disebut “musik”, seni yang

menyusun nada atau suara (bunyi) atas dasar irama (metrum/matra). [Karya] yang

bahkan melebihi karya musik, karena ia juga menyampaikan pikiran atau ide, fakta

atau cerita, pendeknya segala sesuatu yang hanya dapat disampaikan melalui ba-hasa

sebagai medium yang rasional. [Karya di mana] nada dan irama (bunyi dan metrum)

sesuai dengan makna atau pesan teksnya, bahkan mendukung, memperluas,

dan mempertajam pesan rasional itu melalui rasa yang dikembangkan oleh unsurunsur

musikalitasnya.

 

Semua itu —dan saya sadari saat membaca karya Denny J.A.— bukan ciri khas “puisi esai” sebagai puisi terlibat yang mau menyampaikan pesan kepada sebanyak mungkin pembaca, termasuk mereka yang jarang membaca puisi atau bahkan kurang tertarik kepada sastra. “Puisi Esai” yang berunsurkan “pop” itu tidak dialamatkan kepada pencinta “puisi murni” atau kepada pembaca yang sudah lama berurusan dengan puisi sebagai karya seni bahasawi yang begitu saya gemari. Namun, saya menyadari juga bahwa posisi saya sebagai pembela “puisi murni” atau “puisi agung” cukup elitistis, dan bahwa saya tidak berhak untuk begitu saja menolak yang disebut “puisi esai”. Dalam diskusi-diskusi dengan teman-teman di redaksi Jurnal Sajak saya mendengarkan berbagai argumentasi pro “puisi esai”, termasuk argumentasi bahwa jenis puisi itu patut disebutkan “genre baru”.

            Pada tahun-tahun berikutnya, saya menyaksikan bahwa gagasan “puisi esai” diterima oleh kalangan luas dalam masyarakat sastra Indonesia. Cukup banyak penyair terkenal mulai menulis “puisi esai” dan ratusan penulis “awam” merasa terpanggil untuk menyampaikan pikiran dan perasaanya melalui “genre” baru itu, khususnya juga untuk membela para korban ketakadilan atau penganiayaan. Kiranya, saya sangat patut menyambut perkembangan seperti itu, bahkan patut merasa bangga bahwa Jurnal Sajak menjadi perintis sebuah gerakan sastra yang —melalui penyebaran “puisi esai”— memperjuangkan toleransi dan pluralisme, serta memerangi diskriminasi.

            Menurut definisi Denny J.A. sendiri[1], “puisi esai” adalah puisi yang panjang yang dibagikan dalam berbagai bab; ditulis dalam bahasa puitis tapi sederhana/komunikatif; temanya adalah sebuah masalah dalam masyarakat (faktum) yang disampaikan melalui perspektif mereka yang telah menjadi korban ketakadilan atau diskriminasi. Masalah, dalam puisi esai, disampaikan kepada pembaca melalui narasi fiktif yang mengharukan, yang kaitannya dengan realitas perlu dibuktikan melalui catatan kaki yang wajib hukumnya. Catatan kaki itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari “puisi esai”. Melalui catatatan kaki itulah, penulis harus memberi keterangan memadai tentang latar nyata narasi yang fiktif.

Dengan demikian fiksi dilengkapi dengan faktum.

            Timbullah pertanyaan mengenai apakah istilah “puisi esai” tepat untuk menggambarkan ciri-ciri khas jenis puisi yang ditemukan Denny J.A. tersebut. Kiranya, istilah itu perlu dimaknai sebagai “puisi esaistis” atau semacam “gabungan” antara puisi dan esai. Apakah meyakinkan menggunakan istilah “esai”? Tepatkah untuk menerangkan bahwa dalam “puisi esai” mesti terdapat keterkaitan dengan fakta seperti juga terjadi pada esai? Kiranya, tak akan ada pembaca yang pada pandangan pertama punya bayangan bahwa puisi Denny J.A. merupakan esai atau bersifat esaistis. Bagi pembaca, karya-karya itu tampil sebagai puisi naratif yang bercatatan kaki.

            Dalam editorial di Jurnal Sajak 3/2012, Agus R. Sarjono menulis, bahwa ia tidak merasa perlu “mempermasalahkan keketatan istilah puisi esai”, dan bahwa ia “lebih tertarik pada spirit yang dibawa oleh puisi esai”.[2] Saya kira itu pendapat yang patut diterima. Ilmu kesastraan menggunakan demikian banyak istilah —bahkan nama genre— yang kurang meyakinkan, misalnya saja noveau roman (“novel baru”) atau “sastra kontekstual”. Tentu saja akan selalu ada novel baru bergaya baru, dan jelas tak ada karya sastra di luar konteks. Lagipula, “kata bagaikan sapu tangan, apa saja dapat dimasukkan ke dalamnya” (Friedrich Nietzsche). Akhirnya, bahasa dan peristilahan berdasar pada konvensi. Adalah sedikit genit, jika kita terlalu kaku dan kritis terhadap istilah yang sudah mulai diterima secara luas. Maka, dengan besar hati, berikutnya saya tidak lagi akan menggunakan tanda petik kalau menyebutkan puisi esai. Bahkan, saya sudi menyebutkannya genre, bukan “genre”.

            Puisi esai, dalam definisi Denny J.A. —pencetus genre itu— memiliki berbagai ciri khas atau keunikan yang —bukan saja dan apalagi sebagai kombinasi— membedakannya dari genre

sastra apapun, yaitu:

 

            - Kewajiban untuk menggunakan bahasa yang mudah dipahami;

            - Kewajiban untuk memilih tema tertentu;

            - Kewajiban untuk menggunakan catatan kaki.

 

Di antara ketiga kewajiban itu, perihal bahasa (yang mudah dipahami) bukan faktor yang terlalu istimewa. Bahasa “puisi murni” pun diharapkan menggunakan bahasa yang terpahami. Tiap teks pada dasarnya diharapkan merupakan teks komunikatif. Bentuk komunikasi dalam puisi memang terjadi di berbagai strata, yang mungkin menggunakan logikanya sendiri, logika yang barangkali belum diakrabi oleh setiap pembaca. Kiranya, dengan diwajibkannya penulis puisi esai untuk menggunakan “bahasa yang mudah dipahami”, penulis puisi esai diperingatkan untuk tidak melalukan eksperimen bahasawi, melainkan menyampaikan narasi yang konvensional. Yang penting: bahasa sederhana tidak menutup kemungkinan untuk menghasilkan teks puitis.

            Perihal „kewajiban untuk memilih tema tertentu” jauh lebih relevan. Seperti disebut di atas, tema puisi esai mesti merupakan masalah dalam masyarakat (faktum) yang disampaikan melalui perspektif mereka yang telah menjadi korban ketakadilan atau diskriminasi. Dengan kewajiban itu, puisi esai jelas merupakan puisi terlibat, puisi yang melibatkan diri dalam permasalahan masyarakat dengan berpihak kepada para korban.

            Dalam rangka perkembangan puisi berlabel puisi esai, kentara bahwa berbagai penulis puisi esai telah keluar dari rel. Salah satu contohnya adalah puisi penyair muda berbakat Mahwi Air Tawar yang berjudul “Saini KM”.[3]  Puisi esai itu bertemakan kehidupan dan prestasi seorang sastrawan, tidak mengangkat masalah sosial yang sesungguhnya. Memang, puisi esai, kalau dimaknai sebagai puisi naratif panjang bercatatan kaki, pada dasarnya memungkinkan semua tema. Namun, menurut saya karakter puisi esai sebagai puisi terlibat atau puisi humanistis sebaiknya tidak dikorbankan. Bukan saja karena itulah pesan penting pencetusnya.

            Ciri khas paling penting dari puisi esai adalah catatan kaki. Perihal itu telah menimbulkan berbagai salah tafsir —termasuk di kalangan pengeritik puisi esai sebagai genre baru— yang berpendapat bahwa puisi esai bukan sesuatu yang baru karena sejak dulu ada puisi naratif bercatatan kaki. Hal yang dilupakan adalah bahwa kekhasan puisi esai justru pada kewajiban untuk menggunakan catatan kaki. Bahwa catatan kaki justru merupakan hakekat puisi esai yang membedakannya dari semua genre puisi, bahkan dari genre sastra pada umumnya.

            Di bagian akhir tulisan ini, saya secara khusus —walaupun singkat— akan membicarakan perihal catatan kaki puisi esai. Alasan untuk mengangkat tema itu berkaitan dengan sebuah kenyataan yang disampaikan kepada saya oleh teman-teman redaktur Jurnal Sajak. Beberapa minggu yang lalu, kami sempat mendiskusikan persoalan bahwa kelemahan banyak puisi-puisi esai yang dikirim ke redaksi Jurnal Sajak justru dalam penggunaan catatan kaki. Sepertinya, belum semua penulis puisi esai menyadari fungsi dan peranan catatan kaki dalam genre itu. Ada, misalnya, catatan kaki yang menerangkan singkatan NU (=Nahdatul Ulama). Tentu bukan itu fungsi catatan kaki dalam puisi esai. Atau, ada yang menulis puisi naratif yang panjang, kemudian memuatkan sejumlah catatan kaki supaya puisinya dianggap puisi esai. Sikap seperti itu sesungguhnya merupakan kendala bagi perkembangan puisi esai selanjutnya. Catatan kaki pada puisi esai sebenarnya semacam metateks (meta dalam arti: “bersama” atau “di samping”) yang pada dasarnya otonom atau relatif otonom. Ia pendamping dan pelengkap teks puitis berbentuk narasi fiktif. Ia adalah faktum yang menerangkan latar fiksi. Ia merupakan segi ilmiah sebuah puisi esai, dan karena itu patut ditulis berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Karena masalah sosial (diskriminasi dan sebagainya) merupakan titik tolak sebuah puisi esai, penulisan puisi esai mesti berawal dengan penelitian tentang sebuah masalah sosial. Dalam puisi esai, fakta, baru fiksi, alias fakta  mendahului fiksi. Dari hasil penelitian itu, terdapat bahan untuk catatan kaki, tentu juga untuk penulisan sebuah narasi fiktif mengenai sebuah masalah. Di bagian puisi itu (narasi), masalah (umum) tersebut diindividukan melalui tokoh-tokoh fiktif (para korban). Sebenarnya teks puitis dan catatan kaki saling mendampingi, dua-duanya otonom tapi terkait. Pada  dasarnya tak ada hubungan hierarkis antara mereka, walau dari segi saat mulainya proses kreatif, penelitian bahan (untuk catakan kaki) bahkan dapat dikatakan lebih awal. Catatan kaki sebagai metateks (dapat juga disebut “parateks”)[4] kiranya sesuai dengan ide Denny J.A. sebagai pencetus genre puisi esai.

            Merenungkan hakekat puisi esai itu, timbullah pikiran saya bahwa sebenarnya ada kemungkinan untuk mengembangkan ide itu. Yaitu, perkembangan metateks menjadi hiperteks (hiper dalam arti: “di atas” dan/atau “menyeberang”). Apa maksudnya?

            Saya melihat kemungkinan bahwa peranan teks pada catatan kaki sebuah puisi esai dapat ditingkatkan menjadi sebuah teks yang fungsinya tidak terbatasi sebagai penyaji fakta secara ilmiah melainkan sebagai sebuah teks yang dapat dipandang berada „di atas” teks puisi naratif tersebut. Catatan kaki dapat ditempatkan di sebuah dimensi yang lebih tinggi. Ini dapat dicapai dengan fungsi tambahan yang jenisnya tergantung dari kreativitas penulis. Dalam catatan kaki bersifat “hiperteks”, sebagai contoh, penulis dapat menyampaikan alasan atau penyebab mengapa ia memilih tema tertentu atau memaparkan proses kreatifnya. Dengan itu, penulis akan menampilkan diri sebagai “aku liris”. Ia boleh juga melakukan dialog dengan diri sendiri, atau juga dengan tokoh narasi fiktifnya. Bahkan, tokoh-tokoh itu boleh tampil pada hiperteks, bukan saja korban, tetapi juga pelaku. Masing-masing diberi kesempatan untuk menyampaikan sikapnya dengan mengomentari peristiwa pada narasi fiktif dalam puisi esai bersangkutan. Dengan demikian, puisi esai sebagai keseluruhan menjadi dialektis, mengandung tesis dan antitesis. Maka, sama sekali tak tertutup kemungkinan bagi catatan kaki dalam puisi esai untuk berironi (diri), berparodi, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat terjadi dialog antara dua teks. Yang pasti, catatan kaki bersifat hiperteks akan menjadi teks susastra juga. Puisi Esai akan menjadi karya sastra yang multidimensional. Segala sesuatu dimungkinkan,  tergantung fantasi, imajinasi, dan kreativitas penulis. Sila dicoba!

            Bagaimanapun, catatan kaki (yang sesuai dengan tujuan) sebagai bagian yang tak terpisahkan dari narasi fiktif  kini pun sudah menjadikan puisi esai sebuah genre sui generis. Andai puisi esai menjadi makhluk berjiwa yang sanggup merefleksikan diri, mungkin ia akan bahagia punya orang tua. Tidak seperti kebanyakan rekannya, genre-genre lain seperti balada atau pantun, yang tak jelas siapa orang tuanya, tak jelas juga hari lahirnya. Mungkin pula ia akan senang bahwa ia termasuk kelompok genre yang tidak sekedar lahir tapi dicetuskan. Pasti ia akan bangga bahwa ia menjadi terkenal dan disukai dalam waktu begitu cepat, karena itu pun jarang terjadi pada genre baru lainnya. Pasti ia kaget saat ia ditolak dengan kejam, dan tersenyum saat ia dicuekkan dengan sengaja. Masa depannya tidak pasti. Mungkin ia akan dilupakan, mungkin pula ia akan berkembang gemilang, mungkin juga ia akan mengalami perubahan dalam proses menjadi dewasa. Pencetusnya bagaimana? Kiranya, nasib anaknya di masa depan takkan sanggup dikendalikannya. Anak itu akan berjalan sendiri di rimba sastra. Mirip karya sastra. Sekali ditulis ia berada di tangan pembaca, di tangan khayalak. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa “pengarang telah mati”. Nasib pencetus barangkali tak terlalu berbeda dari nasib pengarang.

 

(Jurnal Sajak 12-2015, hal. 68-74)

 

                                     

[1] Denny JA: „Puisi Esei. Apa dan Mengapa”, di Jurnal Sajak 3/2012, hal. 68-75.

[2] Agus R. Sarjono. 2012. “Puisi Esei. Sebuah Kemungkin-an, Sebuah Tantangan”, dalam Jurnal Sajak edisi 3, hal. 4-21.

[3] Dimuat di Jurnal Sajak 11/2015, hal. 70-76.

[4] Saya memilih istilah “metateks” dan “hiperteks”. Ini cuma satu kemungkinan peristilahan, dan bukan pilihan yang optimal. Saya harapkan para ahli sastra tertarik untuk mengeritik dan mempertajam paparan singkat saya tentang catatan kaki pada puisi esai. Barangkali bermanfaat jika bertolak dari buku terkenal Gérard Genette Palimpsests: Literature in the Second Degree, Paris 1982. Buku itu mengandung teori intertekstualitas dan mengkaji hubungan antarteks, termasuk hubungan antara teks dan komentar, dengan menyarankan terminologi khusus. Misalnya perikeks, epiteks, paratekstualitas dll. Buku lain yang menarik dalam kaitan ini adalah: Gunnar Liestøl. 1994. “Wittgenstein, Genette, and the Reader’s Narrative in Hypertext”, dalam George P. Landow, Hyper/Text/Theory. Johns Hopkins UP. p. 97.



This is a translation  of Berthold Damshäuser's essay in Indonesian language with the title "Puisi Esai" - Kemana Sanggup Ia Berkembang,   published in Damshäuser's book Ini dan Itu Indonesia. Pandangan Seorang Jerman,   Komodo Books 2015. 


This is the original Indonesian version.

 

  • view 139