Apa yang Dirimu Perjuangkan?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Januari 2018
Apa yang Dirimu Perjuangkan?



Apa  yang Sebenarnya Dirimu Perjuangkan?

Denny JA

Pernyataan John Meynard Keynes banyak dikutip. Ujarnya: para diktator yang nampak begitu berkuasa, sebenarnya hanyalah budak dari gagasan seorang pemikir. Disadari atau tidak, diktator bahkan negara yang absolut seperti komunisme atau fasisme hanyalah eksekutor dari pemikir ideologi itu.

Gagasan adalah raja. Para aktivis, intelektual publik, penulis, penyair bahkan politisi semua dapat ditanya hal yang mendasar itu. Gagasan apa yang sebenarnya dirimu perjuangkan? Di balik karya, apakah itu buku, puisi, lagu, social movement atau gerakan politik, tetap bisa dilacak lebih jauh. Gagasan apa yang sedang dirimu dakwahkan?

Pertanyaan ini sudah mengganggu saya ketika pertama kali memutuskan menjadi aktivis mahasiswa dan intelektual muda di tahun 80-an, tiga puluh tahun lalu.

Dunia modern menyediakan begitu banyak gagasan dan cita cita sosial. Gagasan mana yang lebih menumbuhkan passion, yang membuat saya merasa beharga bahkan mendedikasikan hidup seluruh?

Hampir setiap sepuluh tahun sekali saya pertanyakan lagi hal yang sama. Bertambahnya wawasan dan jam terbang, adakah pengaruh terhadap gagasan yang saya pilih?

Dalam perenungan yang dalam, seringkali seolah saya bercermin. Namun bukan cermin melihat penampilan fisik. Tapi cermin melihat wajah batin yang menjadi kawah bagi gagasan yang saya hayati.

Apa sebenarnya gagasan yang menjadi nafas saya?

-000-

Ini buku yang saya tulis ke 53 yang diterbitkan. Sejak mahasiswa saya sangat rajin menulis, menjadi kolumnis tetap aneka media. Saya pernah pula menjadi host TV nasional dan radio. Semua soal isu politik muthakhir. Sudah lebih dari 1000 kolom pernah saya tulis di semua media nasional saat itu.

Sayapun memiliki lembaga riset, LSI, yang sudah melakukan mungkin total lebih dari 1000 kali riset. Saya juga menulis puisi, pernah mencoba membuat film layar lebar, membuat lukisan digital, mencipta lagu.

Buku ini kumpulan tulisan saya tiga tahun terakhir. Sama seperti di era ketika mahasiswa, saya tertarik mendalami isu yang sangat luas, mulai dari politik, sastra, agama, peradaban hingga entrepreneurship.

Sungguhpun isunya luas, namun terasa gagasan dasar yang sama. Aneka tulisan itu datang dari batin campuran dunia timur dan barat.

Dari Barat, saya begitu terpesona oleh prinsip hak asasi manusia. Saya menganggap itu kulminasi kolektif peradaban puncak manusia. Namun pejuang hak asasi bisa berakhir dengan keyakinan pribadi yang tak meyakini apa yang disebut oleh agama dengan Allah atau Tuhan.

Sedangkan saya sebaliknya. Di usia yang menua, keyakinan saya pada prinsip Hak Asasi Manusia justru menguat. Namun pada saat yang sama, ajaran Tauhid dan ucapan La Ilaha Illallah, semakin menenggelamkan saya.

Begitu kerasnya saya bisa berdebat memperjuangkan apa yang menjadi hak asasi seseorang. Namun di saat yang sama, ucapan dan zikir La Ilaha Ilalah acap kali membuat saya meneteskan air mata.

Balik ke pertanyaan awal. Apa yang dirimu tawarkan dan perjuangkan melalui aneka tulisanmu? Jawab singkatnya: prinsip hak asasi manusia dan kesadaran La Ilaha Illallah.

Ketika kita mengikrarkan tak ada tuhan selain Allah, itu adalah negasi radikal. Tak boleh ada yang kita sembah dalam hidup ini. Tidak uang, tidak partai, tidak pemimpin, bahkan tidak juga negara. Yang disembah hanyalah yang tak terbayangkan: Allah.

Tapi apa itu Allah? Semua definisi tak berlaku. Sekali ia bisa didefinisikan, ia bukan Allah lagi. Namun untuk kepentingan praktis, Allah itu bisa dimengerti melalui proksi. Allah adalah kesempurnaan dan kebenaran.

Berjuang untuk La Ilaha Illallah saya pahami sebagai berjuang untuk membebaskan pikiran, jiwa dan mindset manusia untuk tidak menyembah dunia, tapi mengubahnya menuju kesempurnaan. Saya melihat La Ilaha Illallah itu justru muara spiritual untuk melahirkan prinsip hak asasi.

Total ada 62 esai di buku ini. Ada yang lebih soal politik, agama, sastra, peradaban bahkan soal saham dan happiness. Memang tak semua berhubungan langsung dengan isu Hak Asasi Manusia.

Sengaja esai soal “Hak Asasi Manusia Sebagai Moral Besama” menjadi judul buku. Itu yang memang menjadi gagasan paling penting dari seluruh esai yang disajikan.

Victor Hugo suatu ketika berkata: Tak ada yang lebih kuat dibandingkan sebuah gagasan yang waktunya telah tiba. Saya meyakini waktu bagi gagasan Hak Asasi Manusia telah tiba. Juga untuk Indonesia.***

5 Januari 2018

  • view 210