Pengkhianatan Intelektual

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 23 Januari 2016
Pengkhianatan Intelektual

Pengkhianatan Intelektual?


Berkhianatkah kaum terpelajar yang memilih masuk dan membantu kekuasaan? atau memilih jalur akademik dan menghindari public opinion?

Jumat kemarin, 22 Januari 2016, di Ciputat School, Saya menikmati presentasi Bung Airlangga pribadi, tentang intelektual dan penguasa lokal. Temuannya, untuk kasus Jawa Timur paska reformasi, cukup menarik. Betapa intelektual tidak berperan bagi agen pemerintahan yang baik. Sebaliknya, mereka menjadi bagian kekuatan predator yang membajak demokrasi.

Saya ingin memperkaya diskusi soal intelektual itu dengan cakupan yang lebih makro.

Kita teringat karya Julian Benda, di tahun 20an: hampir seratus tahun lalu. Bukunya tentang penghianatan Intelektual, yang dalam bahasa aslinya: La Trahison des Clercs (The Betrayal of the Intellectuals).

Menurut Benda, intelektual telah berkhianat di Eropa dan banyak belahan dunia. Para intelektual itu kini banyak mengabdi kepada banyak kelompok kepentingan dan ideologi yang lebih parsial.

Benda mengidealkan: intelektual itu adalah figur moral zamannya yang hanya menyuarakan humanisme universal dan kepentingan publik.

Benda punya tipe intelektual yg ideal. Di luar itu, intelektual dianggap berhianat.

Masalahnya sejarah berjalan berbeda dengan yang diidealkan Julien Benda.
Public interest itu tidak tunggal. Ia terpecah ke aneka ideologi. Humanisme universal juga tidak tunggal. Ia terpecah juga ke aneka kubu pemikiran.

Ada Pertarungan kapitalisme vs komunisme. Terjadi pula pertarungan facisme vs demokrasi. Di balik semua pertarungan itu adalah pertarungan intelektual juga. Aneka ideologi besar itu karya para raksasa pemikir.

Intelektual tak bisa lagi dipaksakan di satu kubu. Dunia sudah begitu berwarna-warni.

Bahkan di balik keputusan besar pemimpin dunia, yang baik ataupun buruk, di belakangnya ada aktor intelektualnya.

Hitler membunuh lebih dari 3 juta Yahudi. Semua tahu, dibelakang Hitler ada seorang ideolog/inntelektual bernama Alfred Rosenbergh.

Nelson Mandela membawa afrika selatan ke luar dari apartheid. Dunia juga tahu, dibelakang Nelson Mandela ada barisan intelektual yg membantunya. Salah satunya adalah pemikir dan seniman Peter Tosh.

Figur ideal intelektual, yang berumah di atas angin, menghindari diri dari kepentingan jangka pendek, kini sudah menjadi mitos. Kini bahkan the so called intelektual itu terpecah belah lagi ke dalam profesi yang punya dinamika yang berbeda.

Dalam dunia intelektual itu ada "kelas" akademisi; mereka yang terlatih di dunia teori dan spesialisasi. Berbeda dgn gambaran intelektual yg diidealkan, para akademisi ini tidak tertarik terlibat dalm public discourse. Mereka memiliki peer grupnya sendiri. Mereka sibuk menulis Jurnal yang semakin lama semakin sulit dibaca oleh publik luas karena bahasannya semakin teoritis.

Intelektual jenis ini tak bisa kita anggap berkhianat semata karena mereka berada di menara gading. Memang begitulah evolusi dari dunia akademisi masa kini, walau tetap ada segelintir yang masih bersedia masuk dalam dunia opini publik.

Ada policy adviser: mereka memberikan advise kepada pengambil kebijakan. Tempat mereka memang di pemerintahan. Tak bisa juga kita memaksa mereka untuk mengambil jarak dgn kekuasaan. Ilmu yg mereka pelajari untuk membuat kebijakan. Merekapun tak bisa kita klaim telah berkhianat karena membantu kekuasaan, bukan mengkritisinya. Ilmu public policy yang dipelajarinya memang membawanya masuk dalam jalur kekuasaan.

Ruang yg tersisa untuk jenis intelektual yg didealkan dulu itu adalah public intelectual: intelektual publik yang memang sengaja masuk ke dalam discourse publik, dan mengkritisi pemerintahan pula.

Ini zaman social media pula. Ruang publik semakin tersedia untuk para intelektual publik memperbesar "Halo Effect."

Seraya kita menerima kenyataan bahwa intelektual masa kini tak bisa dibuat berkumpul dalam satu kubu: representasi humanisme universal, tak bisa dipaksa harus menarik jarak dari kekuasaan, tak bisa diplot harus peduli dengan opini publik, kita semua, para individu yang peduli, bisa memaksimalkan kehadiran social media untuk ikut dalam public discourse.

Saatnya kita berhenti menuntut orang lain, dan memaksimalkan peran diri kita masing-masing untuk melaksanakan apa yang ditulis WS Rendra:

Aku mendengar suara
jerit hewan yang teluka
Ada orang memanah rembulan
ada anak burung jatuh dari sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga

Namun agar powerful, tentu saja relasi, partnership dan kerjasama dengan sumber kekuasaan lain harus pula harus dibina.***

?

?

?


  • Wijatnika Ika
    Wijatnika Ika
    1 tahun yang lalu.
    Hm

  • Iswandi Taher
    Iswandi Taher
    1 tahun yang lalu.
    Daya Nalar dan Intelektualitas Penulisnya sangat baik meskipun dinilai memiliki gelombang sinyal bentuk keputus asaan dengan realita berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan. Sebenarnya ada beberapa faktor yang melatar belakangi para Intelektual ini sehingga berubah dari mengkritisi menjadi penyokong, yaitunya KESEMPATAN keuntungan pribadi. Ini bukan tanpa dasar melainkan disebabkan oleh beberapa faktor dan lain hal, misalnya keterpaksaan kepelikan kehidupan atau justru kesempatan untuk meraih kecemerlangan(Jalan Lurus). Dan Manusia itu memiliki sifat tetap yaitunya(berubah-ubahnya sikap hati) ini ketetapan kepada makhluk dan tidak dapat dipungkiri bahwa hal mendasar yang menyebabkan terjadinya Pembelokan Faham Pemikiran dalam Pengambilan Keputusan Sikap Hati adalah KESEMPATAN. Maka didalam sebuah kesetiaan selalu dibutuhkan komitmen. Komitmen adalah Tekad yang harus ditegaskan.