Mengenang Koes Plus: Bahagia itu Sederhana

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Desember 2017
Mengenang Koes Plus: Bahagia itu Sederhana

 

(Mengenang Koes Plus)

Bahagia itu Sederhana.

Denny JA

Majalah Rolling Stones Indonesia di tahun 2015, memilih 25 artis terbesar Indonesia sepanjang masa. Seperti sudah diduga, Koes Plus terpilih di rangking pertama. Diikuti Iwan Fals, Chrisye, Benyamin Suaeb, dan seterusnya.

Bagi saya pribadi, Koes Plus itu ikut mewarnai satu dimensi dalam hidup.
Bagi kami yang berusia di atas 50-an, itu sudah begitu bahagia. Semalam (19 Des 2017), saya berkumpul bersama teman-teman yang sudah bersama sejak 35 tahun lalu, bersama kerumunan yang riang dan lepas, mendengar live show lagu-lagu Koes Plus.

Kamipun berubah menjadi kerumunan. Ada yang lepas berdiri bergoyang- goyang dengan yang lain. Ada yang cukup meliuk-liuk sambil duduk saja. Astaga, hampir semua penonton menyanyi dan hafal lagu- lagu itu.

Kamipun tertawa ketika sampai pada lirik: “begini nasib jadi bujangan. Hati senang walaupun tak punya uang.” Kita langsung teringat masa muda, ketika tak punya uang, tapi hati senang. Sangat beda dengan masa tua. Sudah mulai sakit-sakitan. Anak- anak sudah besar. Jika tak punya yang itu tak mungkin senang.

-000-

Sayapun teringat konsep Flow dalam psikologi. Konsep ini ditemukan oleh Mihaly Csikszentmihalyi, ahli psikologi asal Hungaria. Ini konsep menggambarkan kondisi jiwa (mental state) yang begitu terserap, fokus, menyelam dalam sebuah kegiatan. Itu kondisi ketika kita berikan diri seluruh, penuh untuk aktivitas yang begitu kita sukai.

Waktu dan ruang terasa hilang. Momen ini menciptakan ledakan bahagia yang teramat sangat. Ujar Mihaly, kondisi ini pula sebenarnya dapat melahirkan energi puncak dan karya besar.

Menurut Mihaly, Flow itu dirasakan Beethoven ketika bermain musik. Picasso ketika melukis.

Sore itu saya juga merasakan flow. Tak lagi menjaga apa yang disebut anak gaul dengan “Jaim” (jaga image). Lebur menjadi kerumunan melenggok kiri, melenggok kanan.

Jonminofri, Agus Edi Santoso, dan Elza Peldi Taher adalah kawan yang sejak lama saling menyukai lagu Koes Plus. Sudah sering kami pergi bersama menyaksikan sisa sisa “Koes Plus” : Yon Koeswoyo mentas di usia tuanya.

Kadang kami saling berkelakar, betapa pentingnya dalam hidup itu untuk hafal (beberapa) lagu Koes Plus. Jika ada yang ketahuan tak lagi hafal beberapa bait lagu koes Plus, itu sudah sejenis murtad. Sudah bisa hal itu membuat kami tidak saling tegur sapa.

Tentu ini hanya joke untuk menggambarkan betapa pentingnya Koes Plus. Saya tumbuh di masa kanak- kanak dan remaja bersama lagu Koes Plus.

Saya teringat waktu bocah kelas 3 SD. Koes Plus akan datang ke Palembang. Di ajak Ayah, saya ikut berbaris di pinggir jalan menunggu pawainya lewat jalan utama. Tanny Koeswoyo sudah menjadi pujaan.

Sejak saat itu saya minta pada ibu agar rambut saya diponi. Depan rambut saya rata di muka, jatuh ke dahi, seperti rambut Tonny Koeswoyo.

Ketika acara akhir tahun SD, saya pun menyanyi di atas panggung. Diiringi band yang semuanya anak anak SD. Saya nyanyikan lagu Koes Plus yang lagi hot saat itu.

Tak terasa itu sudah 43 tahun yang lalu. Ibu saya begitu bangga. Sayapun dibuatkan jas untuk acara tersebut. Seingat saya itu jas pertama yang pernah saya pakai. Ketika selesai menyanyi, saya melihat ibu saya bertepuk tangan yang paling antusias.

Waktu bocah, usia 10-12 tahun, hampir setiap sabtu sore hari, kami 3-4 orang kumpul di gubuk rumah teman, di pinggir kali kecil. Kamipun berlagak bermain band. Ada yang pegang sapu berlagak itu gitar. Saya sendiri berdiri di belakang meja, berlagak menjadi Tonny Koeswoyo, di belakang organ.

Mengalirkan 10 -12 lagu Koes Plus yang kami nyanyikan bersama. Tertawa, riang. Itu salah satu puncak keriangan masa anak anak saya.

Semalam, ketika mendengar kembali T’Koes, sang pelestari, menyanyikan lagu Koes Plus, sambil badan begoyang goyang, aneka memori masa kecil itu melintas kembali.

-000-

Mengapa Koes Plus penting, dan kemudian terpilih menjadi artis nomor satu Indonesia sepanjang sejarah?

Menurut saya ada lima alasan. Pertama, Koes Plus tumbuh sebagai generasi pertama band yang berkarya dan bernyanyi. Di tahun 1960an, umumnya band hanya pengiring dari penyanyi solo saat itu.

Koes Bersaudara keluar dari pakem band zamannya. Ia tak mengiringi penyanyi lain. Ia bernyanyi, berkarya sendiri, mengiringi diri sendiri. Masuknya Muri menggantikan Nomo Koeswoyo di tahun 1969, membuat
Band ini semakin kuat kualitasnya.

Koes Plus muncul anak zamannya, muncul di waktu yang tepat. Ia termasuk pendiri generasi band yang mandiri sebagaimana Beatles di dunia.

Kedua, Koes Plus juga band pertama yang menciptakan mania di indonesia. Penetrasi pasarnya paling luas. Lirik dan corak lagunya disukai segala umur, mulai dari anak- anak, remaja, pemuda, orang dewasa hingga para oma dan opa. Sangat jarang sekali hingga masa kini, ada begitu banyak lagu dari satu musisi yang digemari lintas umur.

Ketiga, Koes Plus sangat pula produktif. Sepanjang karirnya ia sudah menghasilkan lebih dari 90 album. Sepengetahuan saya, tak ada musisi lain di Indonesia yang kelasnya nasional punya album sebanyak itu.

Keempat, lagu yang dihasilkan juga begitu beragamnya. Ada lagu pop, keroncong, dangdut, lagu anak anak, berbahasa Indonesia, bahasa Jawa, Inggris. Di semua jenis lagu itu, mereka bisa hits.

Kelima, ini fenomena yang dahsyat, mereka menghasilkan banyak band pelestari dan komunitas pecinta lagu Koes Plus. Ini bukanlah komunitas yang dimobilisasi oleh manajemen Koes Plus. Mereka tumbuh secara natural.

Lima point di atas memang membuat Koes Plus tak tertandingi oleh musisi lain di Indonesia.

Dahsyatnya Koes Plus bagi “Koes Plus mania” saya rasakan kembali semalam. Saya melihat komunitas itu seperti lupa tempat dan waktu terus bernyanyi bersama, dengan aneka ekspresi keakrabannya.

Sayapun yang resmi pulang kantor, tetap memakai batik resmi, tak lagi ingat situasi. Ketika lagu Rock and Roll: “Rata- Rata” dinyanyikan, kembali saya seperti ketika bocah. Berlagak menjadi Tonny Koeswoyo, melengggok ke kanan, dan ke kiri.

Selesai acara, kami duduk mencari resto menikmati bakso. Saya rasakan, menjadi bahagia itu ternyata sederhana.***

Desember 2017

  • view 311