Airlangga Hartato dan Lima Bintang Baru Golkar

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 09 Desember 2017
Airlangga Hartato dan Lima Bintang Baru Golkar

Airlangga Hartato dan Lima Bintang Baru Golkar

Denny JA

Jika ada yang memprihatinkan dari Partai Golkar selaku partai paling senior, itu adalah tak muncul tokoh di partai ini yang punya kaliber kelas berat. Lima calon presiden 2019 yang paling sering disebut, misalnya, tak satupun tokoh Golkar.

Jokowi, Prabowo, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono menjadi lima super star politik nasional per hari ini, jika kita bicara calon presiden.
Jokowi dari PDIP. Prabowo dari Gerindra. Gatot dan Anies bukan anggota partai. Agus Yudhoyono dari Demokrat.

Sebagai partai pemenang kedua dalam pemilu terakhir, 2014, partai ini gagal melahirkan satu tokohpun dalam daftar lima super star itu. Apa yang salah dengan partai ini? Bagaimana prospeknya ke depan?

-000-

Konflik internal dan isu korupsi yang menyeret pimpinan utama Golkar berlangsung terlalu lama. Praktis setelah pemilu 2014, selama tiga tahun energi partai ini habis diserap oleh dua isu negatif itu. Ketika partai lain menuju jalan tol mengharumkan tokohnya, Golkar justru sedang terseok-seok di jalan terjal. Ini justru menurunkan wibawa tokoh utamanya.

Namun survei nasional, FGD, dept interview, dan media analisis yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia sepanjang November dan Desember 2017, partai ini menyimpan enam tokoh rising stars. Mereka memang belum menjadi super star. Namun jika partai ini terkonsolidasi, mereka sangat potensisl menjadi darah segar politik nasional.

Enam tokoh itu adalah Airlangga Hartato, Dedi Mulyadi, Nusron Wahid, Idrus Marham, Muthia Hafid dan Titek Suharto (Siti Hediati Hariyadi). Mereka embrio bintang Golkar baru paska Munaslub. Mereka mewakili Indonesia Barat, Tengah dan Timur. Empat Arjuna dan dua srikandi.

Airlangga Hartato disebut sebagi kandidat ketua umum terkuat yang akan membawa Golkar baru. Terdengar ia akan membawa semboyan Golkar Bersih, Golkar Bangkit.

Publik luas membutuhkan Golkar yang bersih, memutus diri dari riwayat yang melilit, yang membuat partai ini terseok. Elit, kader dan pendukung Golkar merindukan Golkar yang bangkit. Sebagai partai paling senior, Golkar yang bangkit penting untuk Indonesia yang juga bangkit. Tak ada negara yang bangkit, tanpa partai yang bangkit.

Dedi Mulyadi bintang bersinar dari propinsi terbesar Jawa Barat. Ketika Indonesia terbelah oleh fragmentasi primordial, Dedi membawa pesan kultur yang toleran dan pro keberagaman. Ia juga termasuk tokoh yang mengambil resiko dan berinisiatif bagi lahirnya Golkar Baru.

Nusron Wahid jika diberi panggung akan memainkan peran yang sangat penting tak hanya untuk Golkar, tapi politik baru Indonesia. Di saat Islamisasi terlalu ke kanan dan membuat gelisah minoritas, Nusron wakil dari dunia Islam lantang melindungi, mengambil resiko berdiri di depan. Ia bisa menambah basis pemilih Islam, terutama NU bagi Golkar.

Idrus Marham menjadi bintang dari Timur. Ia termasuk politisi yang punya kombinasi “ilmu silat” paling lengkap. Pengalaman organisasinya mengelola Golkar, basis akademik di dunia politik, dan instink panjang aktivismenya, itu sesuatu.

Ia termasuk tokoh yang bisa setia membela prinsip dan pimpinan dengan segala resikonya. Ia punya kemampuan visi konseptual dan sekaligus pemain lapangan. Dalam “kesebelasan” Golkar Baru paska Munaslub, ia seharusnya diberi peran salah satu penentu di partai atau ditugaskan di pemerintahan.

Muthiah Hafid menjadi srikandi di antara para arjuna. Ia menjadi contoh profesional yang berhasil sebelum terjun ke politik praktis. Sebagai jurnalis, ia mengambil resiko bahkan sempat disandera oleh pihak yang bertikai di Irak. Ia kerap mendapat penghargaan karena terobosan dan keberaniannya.

Tak ada partai yang kuat tanpa memberikan peran yang penting pada srikandinya. Muthia Hafid termasuk srikandi yang bisa bersinar jika diberi peran cukup dalam Golkar Baru.

Nama lain adalah Titiek Suharto. Ia putri pendiri Golkar yang menjadi Godfather partai ini sekian lama. Pak Harto pernah menjadi the common enemy di tahun 1998. Namun setelah kasus itu berlalu hampir 20 tahun, publik Indonesia bisa memberikan penilaian yang lebih adil.

Dalam aneka survei LSI sejak 5 tahun terakhir, Pak Harto dan Bung Karno selalu menjadi rangking satu atau rangking dua dari seluruh presiden yang dianggap paling berkontribusi untuk Indonesia.

Titiek punya potensi mewarisi darah biru Suharto di zaman now. Dengan tambahan perangkat konseptual dan ketajaman taktik politik, Titiek juga potensial menjadi darah segar politik nasional.

-000-

Golkar paska Munaslub bisa menjadi Golkar Baru. Survei LSI menunjukkan publik masih sangat antusias dengan Golkar jika partai ini tampil dengan branding baru: Ketua Umum baru, dan program nasional baru.

Terlalu lama politik nasional hanya sibuk dengan hiruk pikuk perpecahan antar pimpinan partai. Atau ia penuh dengan sensasi korupsi berjemaah para elit partai. Kita rindu politik yang romantik era founding fathers. kita impikan suasana politik yang kaya debat gagasan dan policy.

Airlangga Hartato cukup jeli menggambarkan kerinduan itu bagi kebesaran partainya: Golkar Bersih, Golkar Bangkit. Akankah hal itu terwujud? Golkar paska Munaslub akan menjawab.***

Desember 2017

  • view 567