Mencari Nafkah Sambil Menikmati Hidup: Bisnis Saham di HP

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 07 Desember 2017
Mencari Nafkah Sambil Menikmati Hidup: Bisnis Saham di HP

MENDAPATKAN NAFKAH SAMBIl MENIKMATI HIDUP

(Common Sense Bisnis Saham melalui Handphone)

Denny JA

Bagaimana caranya kita ingin menikmati hidup, menulis puisi, menonton film, bercengkerama dengan keluarga dan sahabat, dengan waktu luang sebanyak mungkin, tapi rekening bank kita terus tumbuh?

Peradaban digital menjawabnya: pahami bisnis saham dan bermainlah di sana. Cukup habiskan waktu 3-4 jam per minggu, dengan modal semampunya, kita bisa tumbuh.

Untuk kali pertama, bisnis saham ini boleh dikerjakan sebagai tambahan penghasilan saja. Jika sudah ahli, dan modal sudah cukup, astaga, hanya dengan waktu 3-4 jam per minggu, bisnis saham sudah menghidupi kita!

Tanpa pegawai, kita bisa mendapatkan keuntungan besar. Tanpa membayar ahli, kita bisa mendapatkan informasi yang diperlukan.

Itulah keistimewaan saham. Dunia usaha sudah sampai pada peradaban yang bisa membantu individu untuk mencari nafkah halal secara sangat mudah. Bisnis saham adalah sawah yang luas. Hanya dengan handphone di tangan dan modal dana awal, sendirian kita bisa membajak sawah itu, memanen hasilnya, menjualnya, dan menikmati keuntungan.

-000-

Tentu saja segala bisnis bisa untung bisa rugi. Sebagaimana dalam hidup bisa suka bisa duka, bisa menaik, bisa menurun. Jika ilmu pengetahuan memberikan tuntunan bagaimana hidup bahagia, ilmu yang sama juga memberi tuntunan tips mengetahui saham yang potensial untung atau rugi.

Dua analisa yang biasa digunakan untuk bisnis saham. Analisa fundamental dan analisa teknikal. Analisa fundamental membantu kita tahu saham mana yang potensial memberi keuntungan. Analisa teknikal membantu kita kapan untuk beli (ketika harga menurun), kapan menjualnya kembali (ketika harga menaik tinggi)

Peradaban bisnis saham ini sudah sangat tinggi karena ia dunia perusahaan terbuka. Semua laporan keuangan perusahaan transparan dan wajib dipublikasi.

Sudah begitu banyak ahli yang menganalisisnya. Sudah begitu banyak aplikasi soal analisis itu. Dunia saham ini dikontrol ketat oleh pihak ketiga, tak hanya oleh pemerintah setempat, tapi juga oleh lembaga rating.

Kita seperti memiliki begitu banyak ahli yang bekerja memperbaharui analisisnya. Tak perlu modal untuk membayar mereka. Cukup kita punya handphone dan menyambungkan diri ke internet.

Ya Allah, semua bisa dibaca di era internet secara gratis!

-000-

Untuk fundamental analisis, cukup kita tahu tujuh indikator ini.

PERTAMA, motif kita membeli saham untuk dapatkan untung. Karena sudah dalam bentuk saham, keuntungan itu dibaca dalam lembar saham. Label teknisnya: EPS: Earning Per Share. Jika keuntungan perusahaan Rp 1 Milyar pertahun, dan jumlah lembar saham 1000.000, maka EPS sama dengan 1000.000.000/1000.000 yaitu Rp 1000.

Yang penting dilihat kemudian grafik saham itu dalam lima tahun terakhir. Jika EPSnya konsisten Rp 1000 setiap tahun, atau trennya menaik, itu artinya saham itu dikelola oleh profesional yang kapabel menjaga bahkan meningkatkan keuntungan.

KEDUA, namun hanya EPS semata, itu tak lengkap. Kita untung 1000 dari harga saham berapa? Jika harga Rp 10000 mendapatkan Rp 1000 tentu beda dibandingkan jika harga Rp 20000 dapatkan Rp 1000.

Untuk tahu keuntungan lebih tepat, keuntungan itu harus dikaitkan dengan harga saham. Teknisnya ini disebut PER (Price to Earning Ratio). Jika harga saham 10.000 dan keuntungan 1000, PER sama dengan 10.000/1000: 10.

Apa arti PER = 10? Itu artinya jika diasumsikan keuntungan konstant Rp 1000, maka harga saham yang kita beli (modal kita) kembali dalam waktu 10 tahun.

Semakin kecil PER semakin bagus. Setiap industri memiliki semacam benchmark PER yang berbeda. PER sangat berguna memberikan kita common sense ketika kita bandingkan PER aneka saham pada industri yang sama. Misalnya kita bandingkan PER aneka saham tambang. PER yang terkecil dari aneka saham itu, menjadi pilihan.

Tentu PER bukan satu satunya indikator.

KETIGA, kita juga ingin tahu apakah harga saham yang dijual ini sudah terlalu mahal atau murah. Mahal atau murah, apa ukurannya?

Label teknisnya disebut PBV: Price to Book Value. Karena saham menguntungkan, ia acapkali dijual di atas nilai asset sebenarnya. PBV 2,5 itu artinya saham yang kita beli sekarang itu sudah dijual di pasar 2,5 kali dari asset bersihnya.

Untuk saham yang sangat prospek, bahkan PBV itu bisa 5 kali lipat atau lebih. Common sensenya, semakin kecil PBV itu semakin baik. Apalagi jika PBV di bawah 1. Itu artinya harga saham dijual di pasar di bawah harga asset bersihnya.

Apakah PBV di bawah 1 sudah jaminan itu saham yang menguntungkan? Ini hanya bisa dinilai dengan melihat kemampuannya menghasilkan profit. Jika kemampuan menghasilkan profitnya sama, tapi perusahaan itu PBVnya lebih kecil, tentu PBV lebih kecil tersebut yang dipilih.

KEEMPAT, kita juga ingin tahu seberapa efisien saham itu dikelola. Untuk perusahaan besar kemungkinan, perusahaan itu juga meminjam dana dari bank dan ada keharusnya membayar bunga.

Label teknis untuk ini: ROE (Return on Equity). Itu menghitung dengan formula keuntungan dibagi equity (Asset dikurangi pinjaman). ROE 10 persen artinya dari modal sendiri yang kita investasikan, dapat keuntungan 10 persen per tahun. Dalam waktu 10 tahun, modal kembali.

KELIMA, tapi kita juga ingin tahu seberapa besar hutang perusahaan yang sahamnya akan kita beli. Semakin besar hutangnya dibanding modal sendiri, semakin beresiko .

Label teknis untuk ini DER (Debt to Equity Ratio). Jika DER lebih dari satu, artinya usaha itu lebih banyak hutang dibandingkan equitynya (modal bersihnya). Makin kecil DER, lebih kecil dari 1, lebih baik. Walau dalam kasus tertentu besarnya prosentase hutang itu bisa positif jika hutang yang produktif.

KEENAM, berapa dividen, uang yang dibagi kepada kita selaku pemilik saham setiap tahunnya. Memang ada dua cara mendapatkan nafkah dari bisnis saham ini. Dengan mendapatkan margin ketika menjual versus membeli saham itu. Atau dengan menerima dividen setiap tahunnya.

Setiap perusahaan memiliki policy masing masing untuk membagi dividen. Tak semua keuntungan perusahaan dibagi kepada pemegang saham. Sebagian ditahan untuk diputar kembali sebagai modal tambahan.

Label teknis untuk pembagian ini DY (Deviden Yield). Ia dihitung dari deviden per saham dibagi harga saham (dikali 100 persen). DY 5 persen artinya dari harga saham saat itu, sebesar 5 persen dibagikan kepada pemegang saham.

KETUJUH, membeli saham pada dasarnya membeli kualitas perusahaan yang sahamnya dijual. Kita harus pastikan itu perusahaan yang kredibel. Cukup kita mengeceknya di googl search dan lihat penilaian S&P credit rating. Perusahaan itu harus mendapatkan status minimal BBB+

Banyak lagi indikator fundamental saham lainnya. Tapi tujuh indikator itu sudah cukup bagi kita selaku pemain pemula. Tujuh indikator itu bisa langsung kita terapkan untuk mulai bermain saham.

-000-

Tentu kita tak bisa main sendiri. Perlu kita mendaftar pada perusahaan broker yang resmi. Umumnya kita dikenakan charge jual beli hingga 0,5- 1 persen. Jika kita untung 10 persen, masih tersisa 9,5 -9 persen.

Hal berikutnya kapan waktu yang tepat untuk menjual dan membeli? Ini memerlukan analisis lain yang disebut analisa teknikal. Semua kini bisa dipelajari online.

Bagaimana agar waktu kita tak terlalu terbuang banyak mengamati harga saham? Kita cukup kerja manual ketika membeli saham saja. Kita sebaiknya membeli beberapa saham. Lalu ada aplikasi yang membantu kita menjualnya otomatis dengan, misalnya, 5 atau 15 persen di atas harga beli.

Ketika kita tidur, dan harga saham berkembang seperti yang kita harap, otomatis saham kita masuk dalam list yang dijual. Bangun tidur, kita sudah dapat keuntungan 5-15 persen itu.

Tapi bagaimana cara tahu saham yang bisa sangat menguntungkan? Ikuti saja saham yang dibeli oleh broker terkenal dunia seperti Warren Buffett atau George Soro dan lainnya. Kemudian kita seleksi lagi dengan analisis forecasting setahun ke depan yang sudah dibuat banyak ahli atas saham itu. Tentu kita seleksi saham yang forecasting untungnya di atas 30 persen saja.

Karl Marx berkata: hidup yang ideal itu adalah bekerja hanya sampai siang saja. Setelah itu sore hari kita pergi memancing, dan malam hari membaca novel. Kaum revolusioner menerjemahkan gagasan Karl Marx dengan membangun komunisme penuh kekerasan. Tapi itu gagal total.

Di zaman digital kitapun tahu. Gagasan itu bisa dilakukan dengan bermain saham saja secara individual dari handphone.***

Desember 2017

  • view 475