Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 38967
            [type_id] => 1
            [user_id] => 572
            [status_id] => 1
            [category_id] => 123
            [project_id] => 0
            [title] => Guru Itupun Menangis
            [content] => 

Guru Itupun Menangis
Denny JA

Ibu Guru Desi pun menangis.
Air matanya mengalir,
menjadi air hujan,
membasahi upacara hari guru.

Pagi itu, ia putuskan,
tak lagi menjadi guru.
Terpaksa ia alih profesi.
Pohon yang kokoh
tumbang sudah.

Dilihatnya di dinding rumahnya yang kumuh.
Piagam guru teladan terpajang di sana.
Dibacanya kliping koran lama.
Dibukanya album foto kenangan.
Ketika sekolahnya juara cerdas tangkas.
Ketika kelasnya ikut lomba fisika.
Ketika murid kesayangannya terpilih terbaik satu propinsi.
Ketika syukuran renovasi perpustakaan.

Oh, 20 tahun sudah menjadi guru.
“Aku beri hatiku di sini
Aku beri hidupku di sini.
Aku begitu percaya.
Aku ingin hidup sebagai guru.
Dan mati sebagai guru.

Pekarangan hatiku
hanya untuk satu bunga.”

Tawaran alih profesi.
Tak pernah ia toleh.
Guru profesi suci,
Pahlawan tanpa tanda jasa.
Walau gaji yang ia terima,
tak pernah cukup untuk hidup layak.
Derita ia beri makna.


Tapi hari itu,
semua menumpuk menjadi satu.
Badai menghentak bertalu- talu,
Mencabut pohon dari akarnya.

Ini problema Guru Desi.
Atap rumahnya sudah lama doyong.
Ya Allah, jika atap ini roboh,
roboh pula anak anakku di dalamnya.

Kredit motor sudah menunggak 3 bulan.
Anak sulung di universitas perlu dana tambahan.
Gadis sulungnya enam bulan lagi menikah.
Suaminya meninggal hanya wariskan hutang.

Dilihatnya diktat mengajar yang kumal.
10 tahun sudah diktat ini tak diganti.
Ia mengajar materi yang sama.
Sejak 10 tahu lalu.

Ia semakin kewalahan.
Muridnya semakin cerdas.
Banyak tahu dari internet.
Ia ajukan beasiswa sejak lama.
Guru harus juga tingkatkan ilmu.
Tapi jawaban kepala sekolah tetap sama, tahun ke tahun.
Tiada dana. Mau apa?

Kembali ditatapnya kliping koran itu.
“Oh hatiku ada di sini,”
Dipeluknya album foto itu.
“Wahai, jiwaku memang di sini.”
Ia pun menangis.

Ya Alllah, Kau tahu hatiku.
Tapi aku kini perlu biaya.
Pernah aku pemimpi.
Tapi tuntutan hidup membangunkanku.

Hari itu, di hari guru,
dikemasnya banjak berkas.
Guru Desi akan pergi ke kantor baru:
Kantor pertambangan.

Ditancapnya motor ke luar rumah.
Kembali Guru Desi menangis.
Air matanya mengalir,
menjadi hujan,
Membasahi upacara hari guru.

25 November 2017

 

[slug] => guru-itupun-menangis [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1511594357.jpeg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 530 [issued] => 0 [author] => Denny JA [username] => DennyJA [avatar] => file_1501623568.png [status_name] => published [category_name] => Project [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2017-11-25T14:19:17+07:00 [updated_at] => 2018-09-29T14:45:33+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.464073ms [status] => 200 )