Real Final: KPK Versus Setya Novanto

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 16 November 2017
Real Final: KPK  Versus Setya Novanto

Real Final: KPK Versus Setnov
Denny JA

Sangat jarang ada lembaga yang mendapatkan kepercayaan publik setinggi KPK. Sejak kelahirannya hingga kini, setiap survei yang dilakukan LSI, KPK selalu menjadi Top 1,2,3 dari belasan lembaga negara dan swasta.

Kini wibawa KPK diuji oleh kasus Novanto.

Sangat jarang tokoh politik punya pengaruh sesakti Setnov (Setya Novanto). Sejak era awal Reformasi, setiap terkena jeratan hukum, Setnov selalu lolos dan menjadi pemenangnya. Apalagi kini Setnov menjadi ketua DPR dan Ketum Partai Golkar.

Tapi Kini kesaktian Setnov diuji oleh KPK.

Ibarat pertarungan akbar yang disaksikan jutaan mata, kini KPK dan Setnov masing masing masuk final. Celakanya mereka harus bertarung dan harus ada yang mengalahkan. Inilah yang membuat jutaan mata “deg-degan.” Siapa yang akan mengalahkan siapa dalam The Real Final ini!

-000-

Ibarat pertarungan final sepakbola, tak ada juara kembar. Sistem dan aturan main sudah ditetapkan harus ada pemenangnya. Bahkan jika seri di dua babak, diberikan waktu perpanjangan 2 kali 15 menit. Jika masih seri juga, harus ada adu penalti (tos-tosan). Penonton ada di sana menanti pemenang. Tak mau pulang sebelum ada pemenang.

Ibarat real final bola, kini KPK versus Novanto masuk babak adu penalti. Babak pertama, Setno menang. Pra peradilan membebaskannya dari status tersangka. babak kedua, KPK menang, Setnov kembali menjadi tersangka.

Perpanjangan waktu dilakukan dan masih seri juga. KPK sempat unggul dengan datang paksa menggeruduk rumah Novanto. Tapi babak selanjutnya, Setnov yang unggul. Belum sempat KPK datang, Setnov sudah tidak di rumah.

Per detik ini, ketika tulisan ini dibuat, kita sedang menunggu pemain masuk kembali ke lapangan untuk adu penalti. Pada babak ini, tak bisa tidak, harus keluar satu pemenang. KPK kah? Setnov kah?

-000-

Dua hal ini ikut menentukan siapa yang akan menang. Pertama: desakan opini publik. Seberapa kokoh opini publik memihak? Jika opini publik memihak dengan militansi tinggi, bahkan tokoh sekuat pak Harto bisa tumbang.

Kedua: politik elit, terutama aparat hukum. Seberapa kuat aparat hukum ini bersikap.Hal terpenting adalah membaca sinyal Jokowi. Kemana arahan Jokowi? Sebagai politisi Jawa, Jokowi pasti memberi sinyal walau sangat halus dan butuh interpretasi.

Kita berharap jangan terlalu lama ini drama the Real Final ini. Indonesia banyak masalah lain yang penting. Berdasarkan hasil survei LSI, publik semakin kuatir soal lapangan pekerjaan, harga sembako, ketimpangan ekonomi.

Tak salah jika mungkin ada yang berharap batman atau superman datang ke Indonesia, menuntaskan semuanya secara hitam putih. Warna warni yang ada sudah begitu semarak yang kadang membuat kita bingung: mana yang benar, mana yang salah.?***

November 2017

 

 

  • view 959