House of Cards (2): Semakin Efektif, Semakin Kurang Manusiawi

House of Cards (2): Semakin Efektif, Semakin Kurang Manusiawi

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 04 November 2017
House of Cards (2): Semakin Efektif, Semakin Kurang Manusiawi



Review 65 seri House of Cards (2)

Semakin Kau Efektif Sebagai Pemimpin,
Semakin Kau Kurang Manusiawi

(Denny JA)

Ada dua jenis derita, ujar Francis Underwood mengawali serial film ini. Ada derita yang membuat dirimu bertambah kuat. Ada derita yang sia sia belaka.

Frank (panggilan Francis) menyatakan itu dihadapan seekor anjing yang tertabrak dan merintih kesakitan. Ia melihat tak ada harapan lagi bagi Anjing itu hidup sehat. Sebelum pemiliknya turun; segera ia patahahkan leher anjing itu agar mati.

Ia lakukan itu karena kasihnya pada anjing. Tapi sekaligus ia tega dan dingin saja membunuhnya. Melalui adegan awal, sudah kita duga katakter Frank dalam 65 serial ini. Ia penuh perhitungan, goal oriented, efektif, namun juga kadang kejam dan tega. Ini karaktek yg disebut a brutal pragmatic.

Frank memulai paginya dengan harapan segera dilantik menjadi  Menteri Luar Negri (Secretary of State). Ia membantu Walker, presiden terpilih. Sudah disepakati, kursi  Menteri Luar Negri dipersiapkan untuknya. Frank pun bersiap merayakan posisi baru dengan istri tercinta.

Namun presiden menghianati janjinya. Melalui orang lain, presiden sampaikan pesan agar Frank tetap berada di Konggres membantu presiden dari sana. Frank sangat kecewa. Kepala staf mendesaknya, “anda ikut bersama kita menerima tugas di konggres atau menolak dan menjadi lawan kita?”

Frank terdiam. Ia memerima tugas di Konggres tapi bukan karena loyal pada presiden terpilih yang menghianatinya. Tugas itu membuatnya bisa lebih dekat dengan presiden itu. Ia segera membalas dendam yang ujungnya menjatuhkan presiden.

Strategi, jaringan, action plan, ia siapkan dan jalankan dengan wajah yang riang dan penuh senyum.

-000-

Season pertama House of Cards terdiri dari 13 episode @ 50-55 menit. Butuh waktu sekitar 12-13 jam untuk intens menyelami penjelajahan kompleksitas jiwa manusia melalui drama kekuasaan.

Tergambarlah warna warni itu. Di satu sisi, nampak Frank seorang politisi yang membantu politisi lain untuk bangkit dan segera menjadi kaki tangannya. Namun di sisi lain, ia tega pula bahkan membunuh “serdadunya” yang tak bisa ia kontrol lagi, yang tahu terlalu banyak rahasia.

Di satu sisi, Frank terasa begitu mencintai istrinya, dan ikhlas melihat istrinya selingkuh dengan seniman fotography. Ujar Frank, kita harus menyadari kadang kita tak bisa memberi semua yang dibutuhkan pasangan hidup. Satu orang tak cukup untuk satu orang. Berikan pasangan kita ruang sejauh keluarga tetap bisa dipertahankan.

Tapi di sisi lain, Frank juga ringan saja membina seorang reporter wanita dan mengikatnya dengan kasih asmara. Dengan hubungan khusus itu, wanita jurnalis muda segera menjadi team kerja Frank yang maksimal membentuk opini.

Dalam 13 episode itu tergambar strategi; problema, rintangan yang menjadi tangga Frank ke puncak kekuasaan. Jalannya peristiwa terkesan wajar, walau banyak kejutan. Frank terus menanjak, menyingkirkan sekretaris kabinet, hingga akhirnya berhasil menjadi wakil presiden dengan menyisihkan wakil presiden sebelumnya secara cerdas.

Kitapun teringat Peter The Great. Ia seorang pemimpin yang termasuk paling berjasa dalam kemajuan Rusia. Kepada temannya, Peter the Great berseru sambil mengkisahkan pengalamannya.

Ujar Peter the Great: Inilah kenyataan. Semakin efektif aku sebagai pemimpin, semakin aku merasa kurang manusiawi. Aku harus tega, kadang berkotor tangan. Jika halaman rumah terlalu banyak lumpur, kita tak bisa menghalau lumpur tanpa tangan ikut terkotori.

Begitulah pemimpin, politisi, dan manusia pada umumnya. Hitam dan putih hanya ada dalam kisah anak anak. Dalam dunia nyata, yang memantul hanya spektrum warna warni. Dimana-mana, baik dan buruk menyelinap di hati setiap pribadi.***

Nov 2017

  • view 330