House of Cards (1): Eksplorasi Jiwa Manusia melalui Drama Kekuasaan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Renungan
dipublikasikan 04 November 2017
House of Cards (1): Eksplorasi Jiwa Manusia melalui Drama Kekuasaan

Review 65 serial House of Cards (1)

Ekplorasi Jiwa Manusia melalui Drama Kekuasaan
(Denny JA)

Suatu kali Richard Nixon berkata: jika anda ingin memahami politik, jangan membaca buku ilmu politik. Tapi bacalah agama, filsafat dan sastra. Baik agama, filsafat dan sastra lebih bisa menggali dan menampilkan kompleksitas jiwa manusia.

Kutipan Nixon itu kini bisa dipertajam. Di era buku sastra, filsafat dan agama semakin jarang dibaca, jika anda ingin memahami jiwa manusia, lihatlah drama kekuasaan dalam 65 serial film House of Cards (5 seasons: 65 serial, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017).

Sepuluh hari ini saya tenggelam intens dalam 65 serial House of Cards. Menyelami serial mini seri itu @50 menit, saya melihat perjuangan, pengabdian, penghianatan, warna warni cinta dan selingkuh, strategi menggapai kekuasaan, kearifan yang tak biasa, ketakutan juga persahabatan. Saya melihat manusia yang tampil telanjang dalam drama kekuasaan.

Total waktu yang saya habiskan; 65 film @50 menit, sama dengan sekitar 60 jam. Jika saja menonton serial film itu tak putus dan tak henti sedetikpun, itu butuh 3 hari dan 2 malam. Namun saya menontonnya terputus putus, mengawali dan mengakhiri hari dengan film itu, diselingi kegiatan lain. Total 10 hari saya menghilang masuk ke dalam 65 serial film itu.

-000-

Film ini sudah terbaca fenomenal cukup dengan melihat pencapaian dan penghargaannya. Ia memperoleh total nominasi 33 prime time Emmy award selaku outstanding drama seri, aktor dan aktris juga skenario terbaik. Ia juga memperoleh 8 nominasi global golden award.

Ia pun tercatat sebagai drama seri pertama dari web TV online yang bisa memenangkan Emmy Award. Jejak mini seri ini cukup panjang. Ia diadopsi dari novel trilogi dengan judul sama oleh Michael Dobbs, seorang penulis Inggris namun juga politisi dengan haluan konservatif. Dengan backgroundnya selaku politisi praktis, ia memahami detail dan teknikalitis bekerjanya demokrasi modern.

Namun jejak novel itu jauh lebih panjang. Terasa pengaruh Shakespear dalam drama Machbeth pada novel itu. Aktor utama drama: Francis Underwood dianggap reinkarnase dari tokoh ciptaan Shakespear: Richard III: seorang yang cerdas, machivelian, dengan karakter yang kadang brutal, kejam, dan kadang penuh kasih dan kearifan yang mencengangkan.

Dalam rencana, serial film ini akan diteruskan ke season 6 tahun 2018 dan season ke 7 tahun 2019. Namun aktor utama mini seri ini: Kevin Spacey terkena tuduhan soal pelecehan seksual kepada sesama lelaki, dan usia di bawah umur pula.

Season 6 terpaksa dihentikan dalam waktu yang belum ditentukan. Melanjutkan serial ini tanpa Kevin Spacey sama dengan menikmati gurihnya sambal tanpa rasa pedas. Kevin Spacey menjadi jiwa film ini. Aktingnya menggambarkan keunikan cinta, cerdasnya strategi politik, dan jiwa yang warna warni menjadi identitas serial ini.

Namun melanjutkan serial ini dalam situasi aktor utamanya; Kevin Spacey, sedang menjadi sorotan kekerasan seksual, itu akan buruk pula untuk bisnis dan citra serial tersebut.

Drama kriminal dan kekerasan di dalam mini seri ini tak menghentikan kekuasaan Francis Underwood yg diperankan Kevin Spacey. Tapi di dunia nyata, tidak di dalam drama, hanya tuduhan seksual terhadap Kevin Spacey bisa menghentikan keseluruhan produksi drama.

Drama dalam novel dan film memang lebih kaya, liar dan imajinatif dibanding drama dalam dunia nyata.

-000-

Saya akan menulis 5 season @13 episode House of Cards dalam lima seri tulisan berikutnya. Sungguh saya melihat kompleksitas jiwa manusia dalam drama kekuasaan. Saya pun membenarkan kutipan Richard Nixon dengan modifikasi:

Jika anda ingin memahami kompleksitas jiwa manusia, tontonlah drama film berkualitas, dan menyelamlah di dalam film itu***

Nov 2017

  • view 238