Donald Trump dan Kisah Pembunuh Massal yang Bukan Muslim

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 06 Oktober 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

111.2 K Tidak Diketahui
Donald Trump dan Kisah Pembunuh Massal yang Bukan Muslim

Donald Trump
dan Kisah Pembunuh Massal
yang Bukan Muslim

(Oleh Denny JA)

Mata menyidik perlu diyakinkan.
Dipayungi rambut pirang.
Benarkah pembunuh massal itu bukan Muslim?

(Di ruang itu sepi.
Ia hanya berdua saja.
Tak ia duga di puncak singgasana,
hampa sering menyelinap diam diam)

Benar tuan, jawab ajudan.
Penembak massal itu tidak bersorban.
Tak ada janggut panjang di dagu.
Tak pula ia teriak Allahu Akbar.
Ia tak menyentuh Al-Quran.
Ia lelaki kulit putih,
asli warga Amerika sendiri,
lelaki kaya, entah mengapa,
menembak saja.
Puluhan mati.
Ratusan luka di Las Vegas.

-000-

Benarkah pembunuh massal itu bukan Muslim?
Mata semakin menyidik, dipayungi rambut pirang.

(Di puncak kuasa, oh mengapa sepi sering menghampiri, tanyanya pada hati)

Benar tuan, jawab ajudan.
Dipaparkan pula itu data.
Sejak tuan berkuasa,
323 warga mati, (1)
1249 warga luka, (2)
ditembak secara massal.
Pembunuhnya warga kita sendiri,
bukan teroris Muslim.

Ditambahkannya pula itu fakta.
Sejak 2001 hingga 2015,
Jauh lebih banyak warga kita
terbunuh oleh sesama warga kita sendiri,
Kulit putih, lelaki, ektrimis kanan,
dibanding oleh kaum bersorban dan berjenggot (3)
Agaknya tuan, ujar ajudan:
ekstrimis kanan, lelaki kulit putih, warga sendiri, lebih bahaya dibandingkan
orang asing Muslim sekalipun.

-000-

Benarkah pembunuh massal itu bukan Muslim?
Matanya terus menyidik,
dipayungi rambut pirang.

(Lama ia terdiam. Realita lebih rumit dari yang ia duga. Dan ini rasa sepi terus saja tiba)

Benar tuan, jawab ajudan.
Padahal sudah banyak yang tuan buat.
Tuan sudah Larang masuk, itu warga dari
negara Muslim: Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudah, Suriah dan Yaman.

Tuan sudah akhiri tradisi buka puasa bersama tokoh Muslim Amerika,
ramah tamah di gedung putih.
Oh sungguh perkasa, Tuan hentikan itu tradisi dua dekade.

Tuan mulai bangun pula tembokp raksasa, lindungi wilayah kita.
Itu tembok tinggi sekali, 12 meter,
sepanjang 2 ribu kilo meter.
Oh Tuan sungguh berjasa,
lindungi semua kita,
dari serbuan imigran yang terkutuk.

-000-

Benarkah pembunuh massal itu bukan Muslim?
Mata masih menyidik,
dipayungi rambut pirang.

(Kadang menyelinap pula itu rasa, rasa bersalah. Ah rasa yang ia benci)

Benar tuan, jawab ajudan.
Ini ada berita dari saingan tuan tempo hari.
Ujarnya, partai tuan sudah digadaikan
sepenuhnya kepada industri senjata.
Politisi partai tuan sudah menjadi hamba
bagi itu senjata.
Tak lagi peduli itu senjata menghabisi
nyawa warga sendiri (4).
Bisnis senjata penyebab utama,
bukan teroris muslim.

Ini ada pula riset.
Mayoritas warga Amerika malu punya presiden seperti tuan (5)

-000-

Lama ia terdiam.
Ajudan dimintanya pergi.
Kini di ruang itu, ia hanya sendiri,
ditemani rambutnya yang pirang,
dan itu sepi terus mendesak- desak.

Ia lihat wajah di cermin.
Apa yang salah?
Berulang-ulang ia tanya.
Ia sudah kerjakan apa yang bisa,
agar ini negara jaya.

Ia terpana.
Cermin itu bersuara:
Diskriminasi membuat tuan tidak dicintai.
Diskriminasi tak membuat negara tuan kuat.
Diskriminasi itu bukan masa depan, tapi masa silam.

Ia semakin terdiam.
Dan itu sepi semakin menjadi.

Oktober 2017

Catatan Kaki

- (1) dan (2) dari data Gun Violence Archive (2017)
- (3) data dari the New Think Thank America (2017)
- (4) pernyataan Hillary Clinton (2017)
- (5) Hasil survei Quinnipiac University (Sept 2017)

 

  • view 1.2 K