Beramal dengan Memborong Buku Sastra dan Membagikan kepada Komunitas

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 Oktober 2017
Beramal dengan Memborong Buku Sastra dan Membagikan kepada Komunitas

Beramal dengan memborong buku sastra dan membagikan kepada komunitasnya.

( Oleh Denny JA)

Di era digital yang serba gratis, buku sastra semakin tidak dibeli dan tidak dibaca.

National Endowment 2016 membuat riset untuk kasus Amerika Serikat sejak tahun 1982. Pertanyaannya; apakah dalam setahun ini saudara dan saudari membaca setidaknya satu buku sastra (novel, cerpen, puisi, drama)?

Jawabannya adalah cermin kita hari ini. Di tahun 1982, yang menyatakan membaca setidaknya satu buku sastra sebanyak 57 persen. Lalu di tahun 2012 merosot menjadi 47 persen. Di tahun 2013, merosot menjadi 45 persen. Di tahun 2015, merosot lagi menjadi 43 persen.

Buku sastra di Amerika yang tradisi membacanya begitu tinggi semakin tidak dibaca. Tak ada riset serupa di Indonesia. Namun dengan tradisi membaca di Indonesia yang jauh lebih rendah, bisa diasumsikan lebih sedikit lagi yang membaca buku sastra.

Kita asumsikan yang tak membaca buku sastra besar kemungkinan juga tidak membeli buku sastra. Dengan dua asumsi itu, buku sastra semakin tidak dibaca dan tidak dibeli di Indonesia pula.

-000-

Namun buku sastra itu memperkaya batin. Saya selaku penikmatnya, mengapresiasi karya sastra dengan cara yang saya bisa, dengan keterbatasan saya. Semoga juga ini dilakukan oleh teman teman lain yang diberi Tuhan titipan rejeki.

Kepada teman-teman yang menerbitkan buku sastra, saya memborongnya, dan meminta penulisnya sendiri mengirimkan buku karyanya kepada komunitas. Jika ia tak punya jaringan mengirimnya, dibantu oleh yang punya.

Alhamdulilah di tahun ini ada novel, cerpen, puisi, non-filksi soal sastra yang sempat saya borong dan bagikan. Saya anggap saja ini kerja amal untuk sastra, sekuat yang saya bisa.

Sudah ada tujuh buku sastra yang saya borong dan bagikan: Karya Fahd Padepie dan Jodhi Yudhono (novel), karya Fanny Pyok (cerpen), karya Fatin Hamama, Ayu Ratna dan Endin Sas (Puisi), Naruddin Pituin (non-fiksi). Dalam waktu dekat buku Ahmad Gaus (puisi).

Umumnya penerima buku secara gratis ini bersyukur. Tapi ada pula sekitar 2-5 persen penerima buku yang menolak dan memulangkannya. Itupun oke juga.

Apakah seni semakin kurang diminati? Saya menduga kebutuhan seni itu melekat pada DNA dan susunan syaraf manusia. Namun bentuk karya seni dan medium yang diminati setiap peradaban mungkin mengalami evolusi.

Seni akan terus hadir. Seperti kata Picasso: seni membersihkan jiwa kita dari debu peradaban yang setiap hari mengotoriz

Okt 2017

  • view 42