Pak Tua dan Mantan Presiden

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 04 Oktober 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

111 K Tidak Diketahui
Pak Tua dan Mantan Presiden

Pak Tua dan Mantan Presiden
Denny JA

Dari pilihan kata,
Kurasa dalam samudera yang sudah ia selami.
Dari kiat hidup,
Ia pasti orang terpilih,
yang sudah dipanggang panasnya api,
yang telah sampai pada lezatnya luka.

Kini pak tua itu temanku.
Baru kujumpa sebulan lalu.
80-an usianya
Kami sering olah raga pagi bersama.

Pagi itu ia bicara soal mantan presiden.
Ujarnya, ada dua jenis manusia yang tak pernah salah.
Yaitu manusia yang belum lahir.
Dan manusia yang sudah mati.
Di luar itu, manusia pasti salah,
karena ia bekerja.

Makin banyak kerja, makin banyak salah.
Pemimpin itu banyak kerja.
Pasti banyak salah.

Tapi di negara kami, pemimpin itu dihormati,
walau banyak salah.
Tapi ia lebih banyak jasa.

Saya hidup di era Mao Tse Tung.
Jutaan orang mati.
Jutaan orang kelaparan.
Deng Xioping itu beberapa kali dijatuhkan.
Saya dan keluarga menderita, sangat.
Badan saya tinggal kulit dan tulang.
Anak saya mati.

Apa yang terjadi, ketika Deng Xioping berkuasa?
Ia bisa saja balas dendam lumatkan Mao Tse Tung.
Tapi Deng mengajak rakyat menghormatinya.
Salahnya Mao Tse Tung itu sebukit.
Tapi upayanya menyatukan Cina itu gunung lebih tinggi.

Deng mengajak kami lupakan bukit, untuk mendaki gunung lebih tinggi.
Di puncak gunung itu, bersama kita bangun istana baru.
Pemimpin itu harus tetap dihormati.

Aku diam saja membiarkan pak Tua bercerita.
Burung burung terbang dari kepalanya,
hinggap di kepalaku.
Kata katanya tumbuh menjadi mata air,
menyegarkan pikiranku.

-000-

Ujarnya kemudian,
Saya kasihan dengan mantan presiden di negaramu.
Jasa Bung Karno begitu besar menyatukan Indonesia.
Jasa Pak Harto begitu besar membangun Indonesia.
Jasa pak Habibie begitu besar membawa fondasi reformasi.
Jasa Gus Dur begitu besar membela keberagaman Indonesia.
Begitu pula mantan presiden setelahnya.

Ada yang salah dengan kultur negaramu.
Kok senang mengganyang mantan presidennya sendiri.
Bung Karno disikat.
Pak Harto dilumat.
Habibie ditolak.
Gus Dur dijatuhkan.
Megawati dan SBY tidak saling sapa.

Tak heran negaramu cerai berai.
Cina yang penduduknya lima kali lipat Indonesia, tetap bersatu dan kini paling jaya.

Ada yang salah dengan kultur negaramu,
walau kalian beri label agama atau Pancasila.
Itu kata yang paling kuingat dari pak Tua.

-000-

Kini sudah tujuh pagi kutunggu pak Tua.
Seperti biasa olah raga pagi bersama.
Tapi pak Tua tak lagi bersua.
Kucari kesana kemari.
Sia sia.
Dimana kau pak Tua?

Dalam diam, aku merenung.
Siapakah pak Tua ini?
Apakah ia malaikat yang menyamar?
Datang sesuka,
pergi sesuka,
hanya untuk satu pesan?

Oktober 2017

  • view 675