Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 27 September 2017   07:25 WIB
Tinta Emas Gatot Nurmantyo dan Puisi

Tinta Emas Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Puisi
(Oleh Denny JA)

Ada sisi lain dari Gatot Nurmantyo, panglima TNI, yang membuatnya akan terus dikenang sejarah secara positif. Ia satu satunya panglima TNI di Indonesia, yang mewarnai pengantar pengarahannya (pidato), di gelanggang politik utama, dengan membacakan kutipan puisi cukup panjang. Audience tepuk tangan meriah ketika ia membacakan puisi itu lengkap dengan intonasi suara penuh penghayatan.

Tak tanggung- tanggung, ia membacakan puisi yang sama pada tiga gelanggang politik utama. Yaitu di hadapan ratusan politisi di Rapimnas Partai Golkar di Balik Papan, Mei 2017.

Ia bacakan kembali puisi itu di acara pembekalan kepemimpinan departemen dalam negeri di hadapan ratusan kepala daerah, di bulan dan tahun yang sama. Ia ekspresikan lagi puisi itu dalam acara peneguhan pancasila di hadapan ratusan aparat sipil negara di Departemen Agama, di bulan dan tahun itu juga.

Sejauh catatan yang bisa dilacak, ini untuk pertama kalinya sebuah puisi yang sama dibacakan (kutipan panjangnya) dalam tiga panggung politik utama, yang audiencenya ratusan politisi partai, ratusan kepala daerah, dan ratusan pegawai negri sipil.

Puisi yang dibaca: Bukan Kami Punya karya Denny JA. Puisi ini mengisahkan kota dan desa yang semakin tumbuh. Namun rakyat banyak merasa "Tapi itu bukan kami punya." Gagasan utama di puisi itu mungkin dianggap Panglima TNI Gatot Nurmantyo baik sebagai pegantar pembuka mata soal keadilan sosial di Indonesia.

-000-

Panglima TNI Gatot Nurmatyo akan dikenang bukan saja itu peristiwa unik: panglima TNI membacakan puisi bukan di acara kesenian, bukan di hadapan penyair, tapi di denyut utama politik nasional.

Ia akan dikenang bukan saja karena berhari hari koran dan TV nasional menjadikannya berita hingga Talk Show. Aneka analisa atas pak Gatot acapkali pula menyertakan aksi baca puisinya.

Gatot akan dikenang bukan karena membawa puisi kembali ke gelanggang utama. Puisi yang kian hari kian menyepi, hanya menjadi renda renda kesenian, hanya bersikulasi di komunitas seni, hanya menjadi penghias koran akhir pekan, tiba tiba muncul di berita TV nasional, prime time, menjadi percakapan elit bangsa.

Gatot akan dikenang seperti kutipan John F Kennedy: "Jika saja para pemimpin (politisi) lebih banyak membaca puisi, dan para penyair lebih banyak mengerti politik, maka kita akan hidup dalam dunia yang lebih baik.

Kutipan Kennedy ini sebuah sapaan agar ruang publik semakin diwarnai pula oleh puisi. Dari puisi mengalir kedalaman yang menyirami mendangkalnya ruang publik.

Di sisi lain, penyair juga diharap lebih membawa puisinya ke tengah gelanggang, mengekspresikan batin zamannya. Batin zaman acapkali lebih bisa berbunyi tidak melalui angka atau makalah ilmiah, tapi kekuatan kata dalam puisi.

Kita belum tahu langkah Panglima TNI berikutnya. Apakah ia akan menjadi presiden atau wapres? Apakah ia akan menjadi ketua umum partai?

Namun inovasinya membacakan puisi di panggung politik akan dicatat dengan tinta emas.

Di bawah ini puisi Bukan Kami Punya yang dibacakan Panglima TNI, yang sudah dijadikan lagu oleh seniman Hari Widi.

https://m.youtube.com/watch?list=PLTRotvAlVDN85Cw9aHaiWa9ZfS-jClAE4&v=2lqv7STDjPs

September 2017

Karya : Denny JA