Dimana Salah Kita?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 19 September 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

106.6 K Tidak Diketahui
Dimana Salah Kita?

 

Dimana Salah Kita?
Denny JA

(Suatu hari di tahun 2017,
seorang tokoh pidato membakar,
di atas panggung, disaksikan puluhan ribu hadirin. Kunang kunang menyala di matanya).

Dimana salah kita?
Soal jumlah rakyat, kita nomor empat terbesar di dunia.
Soal kekayaan alam, kita tiada pula kalah.
Oh ini negeri raksasa.

Tapi kekuatan ekonomi kita,
hanya kelima belas rangkingnya.
Terpuruk bertanding dengan korea,
di urutan kedua belas.
Padahal Korea negara kecil, merdeka lebih telat.
Seperlima kita pula jumlah penduduknya.
Bertahun mereka perang saudara, membelah negara.
Tapi mengapa Korea juara?
Mengapa kita keok, tak seperti Korea?

(Suara tokoh itu mengaum bagai singa.
Kunang- kunang makin menyala di mata.
Bendera merah putih berkibar perkasa pada ia punya dada)

Dimana salah kita?
Sawah kita menguning, meluas.
Petani kita banyak jumlahnya.

Oh, mengapa justru beras dan kentang,
mengapa justru jagung dan teh,
Kita perlu import dari tetangga.
Padahal meluap tanah kita,
Percuma berlimpah petani kita.
Mengapa kita keok, tak seperti Jepang?

(Di panggung itu, kunang kunang semakin menyala.
Jiwa rakyat disentuh,
mantera bangkitkan sukma.
Singa semakin mengaum,
menyihir itu ruangan)

Dimana salah kita?
Mereka segera pergi ke planet Mars.
Pihak sana siapkan mesin pengganti manusia.
Di seberamg sedang teliti jantung buatan.

Tapi mengapa kita malah sibuk perang membuka luka?
Satu luka digarami,
disusul luka lainnya.
Satu demo digoreng, dihajar demo lainnya.
Saling haramkan anak bangsa.
Kita pecah belah rumah sendiri.

Udara kita penuh polusi,
Kita pun membagi dusta,
pesta pora kebohongan.
Mengapa kita keok, tak seperti mereka?

(Panggung menjadi lautan cahaya.
Tepuk tangan rakyat bertalu- talu.
Sang pemimpin dialu alu)

Tapi ini hanya sekilas saja.
Tak lama kemudian,
Ribuan hadirin kembali sibuk, seperti semula.
Panggung itu mampir selintas saja.

Selanjutnya,
hadirin kembali ramaikan berita di social media.
Mereka yang besorak tepuk tangan,
kini sibuk kembali, seperti sedia kala,
kirimkan opini, saling menghasut,
saling mencaci.
Belati ditikamkan pada bangsa sendiri.

Selanjutnya, seperti sedia kala, kembali perang di sosial media:

- waspada! Itu pemimpin yang pidato, info A1: ia simpatisan PKI
- Saya dengar kakeknya ahmadiyah
- Bukan, ia dibesarkan oleh Orde Baru
- Hati hati, ia Muslim tapi makan babi
- Temanku bilang ia mulai belajar syiah
- Team menyelidiki, anaknya itu aktivis homoseks.
- Astaga, ia ternyata banyak hutang tersembunyi.

Sementara hadirin lain, mulai sibuk galang demo.
Ada demo untuk puji itu pemimpin, mengkemasnya naik jenjang lebih tinggi.
Ada demo untuk hancurkan karakternya.

Kunang-kunang yang tadi bercahaya,
Kembali lari ke semak-semak.

Burung Garuda menempel gagah di dinding.
kepalanya terkulai.
Dari wajah garuda,
menetes air mata.
Pelan tapi jelas, paruhnya bersuara,
mengeluh pada foto Bung Karno dan
bung Hatta, di sebelahnya:
Ampun kisanak:
Dimana salah kita?

September 2017

 

 

  • view 381