Mengapa Septemberku Tidak Ceria?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 19 September 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

116.1 K Tidak Diketahui
Mengapa Septemberku Tidak Ceria?

Didengarnya lagu itu lagi dan lagi,
Berdesah dinyanyikan Vina Panduwinata:

"Kasih, kau beri udara untuk nafasku.
kau beri warna untuk kelabu jiwaku.
September ceria.
> Milik kita bersama."

Rosa menggugat diri.
Mengapa Septemberku tak pernah ceria?
Dirasakannya bunga mekar di lagu Vina.
Tapi bagi keluargaku,
September penuh luka,
dan penuh bala.
Bunga yang dibakar.

Setiap bulan september,
Makan malam bagai neraka.

Ayah sang pejuang bicara itu itu lagi:
Di bulan ini kita berdoa bersama,
mengenang 7 jenderal yang dibantai.
Terkutuklah itu PKI!
Kudeta Gerakan 30 September.
Celaka, ia bisa hidup lagi!

Di mata Ayah, seperti biasa,
ada gambar palu arit yang dipatahkan,
dibakar, sepuing-puingnya.

Ibu nadanya beda seperti biasa:
Saatnya kita memaafkan.
Puluhan tahun berlalu.
Puluhan tahun menjadi luka.
Mari kubur bersama.

Suara ibu seperti telaga,
Ingin tenggelamkan buaya dan ikan ganas ke dasar,
agar di permukaan telaga, hanya ada suara air yang teduhkan jiwa.

Kakak sulungku komentar amarah,
seperti sedia kala.
Ia pejuang hak asasi manusia.
Ujarnya:
Sejarah harus diluruskan.
Selama ini ditulis oleh yang menang.
Siapa yang sebenarnya dalang?
Ayah jangan sepihak!

Rambut kakakku banyak yang berdiri,
berkibar banyak bendera di ujungnya,
atas nama kemanusiaan dan cinta.

Yang bungsu selalu bertanya,
Masih adakah PKI di zamanku?
Ini zaman selfie dan online.
Apa menariknya dibahas?
Mengapa tak bicara manusia yang akan mendarat di planet Mars?
Atau mobil listrik yang akan tiba?
Atau isu korupsi yang menjadi ideologi kita?

Tangan adikku tak pernah lepas dari telefon genggam, yang sudah menjadi Tuhannya yang baru.

Makan malam selalu berakhir ricuh.
Ayah kadang gebrak meja.
Kakak sulungku banting kursi.
Ibu menengahi.
Adik bungsuku senyum saja,
sambil update status di Facebook.

Rumaku kebunku,
Kurawat agar selalu berbunga.
Namun setiap september,
penghuninya saling serang,
rusaklah itu bunga.

Hanya aku yang diam,
Komentar Rosa.
Itu terjadi pada september ini,
Juga september sebelumnya,
Juga september sebelumnya lagi.

Rosapun menulis pesan di WA:
Vina, beruntunglah dirimu,
menyanyikan September ceria.
Septemberku tak pernah ceria.
Keluargaku malah penuh bala.

Keluarga Rosa itu,
bernama Indonesia.

 

September 2017

 

 

 

  • view 514