Merpati di Kuburan Politik

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 14 September 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

107.5 K Tidak Diketahui
Merpati di Kuburan Politik

Merpati
Di Kuburan Politik

Denny JA

Itu hari istimewa,
Adik kesayanganku, semata wayang,
akan tiba.
"Kakak, ujarnya,
aku pamit mohon doa restu.
aku ingin masuk dunia politik."

Ha? Aku terkejut.
Kulihat matanya yang jernih,
suaranya yang lugu,
Gadis usia dua puluhan,
Oh adikku, merpatiku."

Ujarku,
Dik, politik itu bukan pesta malam,
Itu bukan panggung fashion show.
Wajah elokmu akan dicakar
Halus badanmu akan dibakar.

"Aku tahu, kakak, ujarnya.
Aku sudah banyak baca buku kok.
Astaga adik, sambungku.
Berpolitik itu tak seperti kau membaca puisi. Itu bukan novel.
Bukan pula cerita bersambung.

Tapi ada daya
Adikku terjun ke politik jua.
Awalnya ia dipuji
Namun ia mulai dikuliti
Masa silamnya digali
Pandangannya dibenci.
Ia mulai ditelanjangi.
Ya Tuhan, ia dikencingi.

Sore itu adikku kembali berkunjung.
Kulihat wajahnya penuh darah.
Kuajak ia ke tanah seberang.

Lihatlah dik, ini kuburan politik.
Tempat dimakamkan para merpati,
Yang berpolitik hanya coba coba.

Kutuntun ia ke area belakang,
Di sinilah para aktivis dan intelektual dimakamkan.
Mereka datang ke politik dengan mimpi,
dan berakhir masuk bui, karena korupsi.

Ini lahan makam di samping.
Beda lahan untuk merpati yang beda.
Di sini para akademisi dan pemikir
Yang datang ke politik dengan visi.
Mereka tidak dibui.
Mereka hanya tak tahan uji.
Keluar lagi dari politik dengan cedera kaki, cedera mata, hingga cedera jiwa.

Itu lahan yang diujung makam untuk merpati lain lagi.
Mereka memang masih di politik.
Namun perannya hanya penghias dinding.
Tanpa jaringan uang, dan media,
Mereka hanya hadir saja.
Antara ada dan tiada.

Namun kini mereka punya pesoalan jenis kelamin.
Tak sepenuhnya berkelamin politisi.
Tapi tak lagi berkelamin seperti sedia kala.

Dimana kuburanmu kelak?
Kutanya adikku sambil kupeluk.
Ya Tuhan aku rindu adikku yang dulu.

Kakak, ia bertanya.
Apakah merpati pasti gagal ber politik?
Aku ingin berhasil.
Benarkah? Tanyaku.
Serius kakak, jawabnya.

Pejamkan matamu.
Insya Allah kau akan berhasil
di arena politik.
Kau harus berubah dari merpati
menjadi elang.


Adikkupun menjadi elang.
Ia akan tahan berpolitik.
Tapi ia bukan adikku lagi,
Ia bukan merpati.
Kelepas elang ke langit.

Aku menangis.
Karena tiada lagi merpati,
Hanya elang yang tak kukenali lagi.

September 2017

  • view 407