Satu Era dalam Hidup Para Genius

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 08 Agustus 2017
Catatan Perjalanan

Catatan Perjalanan


Renungan Peradaban

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Satu Era dalam Hidup Para Genius

Satu Era dalam Kehidupan Para Genius
Denny JA

Yang membedakan orang genius dan orang gila, yang satu sukses pada waktunya, sedangkan yang lain tak pernah sukses. Demikianlah observasi Bruce Feistein, seorang penulis yang banyak mengamati kisah hidup para genius.

Ada semacam keanehan, prilaku atau pandangan yang tak biasa di banyak para genius. Bahkan tak jarang terasa ada kegilaan dalam hidup mereka. Tak heran banyak dari para genius yang ditolak oleh zaman ketika masa hidupnya. Namun karya mereka dipuja justru setelah sang genius itu mati puluhan tahun.

Di Barcelona, saya merasa beruntung mendalami lebih dekat hidup dan karya satu orang genius bidang arsitektur: Anthoni Gaudi (1852-1926). Bahkan oleh sebagian ia dianggap arsitek terbesar sepanjang sejarah dengan maha karyanya La Segrada Familia, gereja yang berdiri megah di Barcelona.

Di masa mahasiswa, saya pernah kuliah di empat fakultas. Tiga fakultas di UI: FISIP UI, FHUI, FTUI (Arsitek), dan Filsafat di STF Driyakarya. Namun saya tinggalkan semuanya, dan hanya lulus di FHUI saja. Kemudian ilmu hukumpun saya tinggalkan untuk mendalami public policy (S2), lalu berubah lagi mendalami Comparative Politics dan Business History (S3) di Amerika Serikat.

Ketika menjadi mahasiswa arsitek, saya sudah mendengar nama para genius arsitek Anthoni Gaudi, di samping Frank Llyod Wright, Le Corbusier, Frank Gehry, dan Zaha Hadid. Sejak mahasiswa sudah pernah melihat karya mereka namun hanya lewat foto belaka.

Kini di Barcelona saya langsung datang berjam- jam menikmati karya Anthoni Gaudi. Tujuh karya Anthoni Gaudi ini mendapatkan label World Heritage Sites dari Unesco, lebih banyak dari semua arsitek manapun yang pernah lahir.

-000-

La Sagrada Familia karya Gaudi ini punya banyak keunikan. Gereja ini, tepatnya Basilica tak kunjung selesai dibangun walau sudah 100 tahun masa pembangunannya. Saya bertanya kepada pemandu tur yang ahli soal bangunan ini. Mengapa sudah 100 tahun tapi gereja ini tak kunjung selesai.

Ujarnya, desain Antoni Gaudi ini luar biasa rumitnya. Ini desain penuh perhitungan matematika. Ia menghindari garis lurus dan memilih bentuk kurva. LIhatlah aneka tiang gereja ini. Tak ada yang lurus tegak, tapi dibuat sedikit condong untuk mengikuti batang pohon dan rantingnya.

Lihatnya posisi dan permainan kaca. Warna warninya berbeda tergantung dari sinar matahari. Jika anda duduk dari pagi hingga sore di sini, anda akan melihat warna warni kaca yang berubah sesuai dengan terang gelapnya sinar matahari.

Dan jangan dilupakan suara yang akan dipantulkan di gedung ini. Gema suaranya diperhitungkan secara matematis. Apalagi karya Gaudi ini tak selalu soal bangunan. Ia menyatukan bangunan dengan aneka pecahan keramik, patung, dan permainan kaca sebagai satu kesatuan.

Sayapun berkesempatan menikmati berjam- jam karya Gaudi lainnya: Casa Bastlo, sejenis apartemen 10 tingkat. Hanya dengan melihat tampak luarnya, sudah bisa kita duga ini karya Gaudi. Ia punya karakter bangunan yang menghindari garis lurus, dan lebih memilih kurva.

Dinding bangunannya juga selalu acapkali ada ornamen pecahan keramik, dan asesori seperti lukisan.

-000-

Siapa yang menduga? Di masa kini Gaudi memang dipuja dan dipelajari. Namun di masa hidupnya, ia ditolak dan dilecehkan tak hanya oleh sesama arsitek, tapi juga oleh kritikus internasional.

Gaudi wafat di tahun 1926. Ia dilupakan dan direndahkan. Itu juga yang menyebabkan La Segrada Familia tersendat pembangunannya. Tiga puluh empat tahun setelah kematiannya, tahun 1950, antara lain Salvador Dali, pelukis ternama menyadarkan pemerintah dan publik Spanyol.

Ujar Salvador Dali, Barcelona punya genius yang diperlakukan buruk oleh zamannya. Tapi karya sang genius ini bernilai seni teramat tinggi. Pelan- pelan karya Gaudi diperhatikan, bahkan kini dipuja dan dijadikan kebanggaan penduduk Barcelona. Tanpa Gaudi, ujar pribahasa di sana, Barcelona hanyalah kota biasa.

Inovasi dan keanehan karya Gaudi lebih diterima oleh mata dan pikiran masa setelah kematiannya. Imajinasi para genius memang acapkali melampaui kesadaran zamannya.

Namun kehidupan pribadi Gaudi sendiri memang dirasakan beda oleh lingkungannya. Ia lebih senang menyendiri, tak menikah sampai akhir hayatnya. Kadang ia begitu pemarahnya. Ada semacam "kegilaan" dalam prilakunya.

Tak hanya Gaudi mengalami ini. Banyak genius seni lain dalam satu era hidupnya mengalami "kegilaan" yang sama.

Siapa yang menduga pelukis besar Van Gogh mati dalam kemiskinan? Van Gogh melukis lebih dari 2000 lukisan. Namun sepanjang hidupnya ia hanya mampu menjual 2 lukisannya saja. Karyanya "dilecehkan" oleh zamannya.

Van Goghpun frustasi. Ia memotong kupingnya. Akhirnya malah ia bunuh diri di usia muda 37 tahun. Jauh hari setelah kematiannya, dunia tersentak akan inovasi karyanya. lukisannya kini bahkan termasuk yang paling mahal, dengan harga di atas satu trilyun rupiah, seperti Dr Gachet. Lukisan itu terjual di harga USD 83,5 juta.

Penulis Franz Kafka bernasib sama. Ia merasa gagal sebagai penulis karena tak mendapatkan respon publik dan opini kritikus yang menyenangkan di era hidupnya.

Ketika menjelang ajal, ia meminta kawan dekatnya, Max Brod, untuk membakar semua karyanya, termasuk yang belum dipublikasikan.

Namun sahabatnya itu justru melakukan sebaliknya. Karya Kafka tidak ia bakar, tapi ia cari cara agar dipublikasikan. Jauh hari setelah kematiannya, karya Kafka justru dianggap penting bagi dunia sastra.

Bagi mereka yang terpanggil berkarya, tak usah terlalu peduli dengan kritikus profesional ataupun komentar sinis sesama seniman atau aktivis. Ikuti saja petuah Rumi: Berkicaulah seperti burung. Bernyanyilah dari hati, dan tak usah hirau apa yang orang lain pikirkan.***

  • view 184