Nobel Sastra untuk Indonesia?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 20 Juli 2017
Nobel Sastra untuk Indonesia?

Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2017

Hadiah Nobel Sastra untuk Indonesia?
Denny JA

Apa yang bisa dibantu pemerintah untuk ikut mengangkat harkat sastra Indonesia di mata dunia? Bisakah bantuan pemerintah berakibat lahirnya karya puncak sastra yang diakui dunia? Ataukah karya puncak sastrawan lebih tersimulasi jika sang saatrawan itu justru dizalimi pemerintah? Bukan bantuan tapi justru penzaliman pemerintah yang dibutuhkan?

Kapankah sastawan Indonesia meraih penghargaan Nobel? Pertanyaan ini muncul begitu saja ketika saya hadir di tengah lebih dari seratus sastrawan Indonesia.

Untuk kedua kalinya, saya diundang lembaga pemerintah, melalui badan bahasa hadir sebagai sastrawan. Di hotel Mercure, Ancol, para sastrawan dari berbagai daerah berkumpul dalam forum yang diberi nama MUNSI (Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia).

Biasanya saya hadir sebagai konsultan politik dan surveyor jika diundang oleh lembaga atau pejabat pemerintah. Sejak dua tahun lalu, saya mulai pula diundang pemerintah sebagai sastrawan.

Lebih jauh di tahun ini, panitia meminta saya menjadi ketua diskusi kelompok internasionalisasi sastra Indonesia. Saya diminta memberi simulasi dan mengumpulkan pandangan para sastrawan soal bagaimana membawa sastra Indonesia lebih "go internasional." Diharapkan dari diskusi ini lahir rekomendasi kebijakan untuk diusulkan kepada pemerintah.

Sayangnya dalam musyawarah tiga hari itu, hari diskusi kelompok bentrok dengan acara saya yang lain. Saya meminta panitia untuk mencari pengganti ketua diskusi kelompok topik itu.

Tapi isu internasionalisasi sastra Indonesia memang sejak lama mengendap dalam pikiran.

-000-

Sayapun membaca reportase mengenai penerima nobel sastra dunia sejak pertama kali diberikan di tahun 1901. Sampai hari ini, hadiah
Nobel Sastra masih dianggap puncak pengakuan dan puncak legacy karya dalam komunitas sastra dunia.

Sejak tahun 1901, hadiah nobel sastra sudah diiberikan kepada 113 pemenang dalam 113 tahun. Ada enam negara yang sastrawannya paling sering menerima nobel sastra: Perancis (16 kali), Amerika (11 kali), Inggris (10 kali), Jerman (8 kali), Italia (8 kali) dan Swedia (6 kali). Gabungan sastrawan 6 negara ini saja secara bergilir sudah memenangkan lebih dari 50 persen nobel sastra.

Sastrawan negara Asia sudah pernah menerima Nobel Sastra seperti dari Cina dan India. Dari yang mayoritasnya Muslim, pernah pula nobel sastra diterima sastrawan dari Turki dan Mesir. Saya hitung data itu, sekitar 75 persen nobel sastra diberikan memang kepada sastrawan dari lingkup dunia barat.

Indonesia belum pernah sekalipun menerima nobel sastra. Paling jauh yang terjadi, sastrawan Indonesia pernah dicalonkan saja. Ia adalah Pramudya Ananta Toer.

Untuk kasus Pramudya Ananta Toer, karya puncaknya justru lahir ketika ia diasingkan di pulau Buru. Karya puncak itu justru berbuah BUKAN ketika ia difasilitasi pemerintah, tapi justru ketika ia dihukum oleh pemerintah.

Bahkan ada 12 penerima nobel yang justru sastrawan dizalimi pemerintah. Antara lain Mario Vargas Liosa penerima nobel di tahun 2010. Di tahun 1960an, ia dizalimi diktator militer Peru. Herta Muler penerima sastra di tahun 2009, kelahiran Romania. ia justru dilarang menerbitkan karya di negaranya sebelum tahun 80an. Ia pun pindah ke Jerman di tahun 1987.

Juga ada Orhan Pamuk penerima Nobel Sastra tahun 2006 asal Turki. Bukunya dibakar di sana. Ia pernah pula dijatuhkan hukuman tiga tahun penjara. Ia naik banding dan hukuman itu dibatalkan. Atau JM Coetzee, kelahiran Afrika Selatan, penerima Nobel Sastra tahun 2003. Sikapnya yang anti apartheid di tahun 70an, menyebabkan ia diisolasi oleh pemerintah.

Namun lebih banyak penerima nobel sastra yang hubungannya dengan pemerintah baik baik saja. Lebih dari 75 persen penerima nobel dari dunia barat adalah sastawan yang menikmati kebebasan politik demokratis negaranya.

Dengan data di atas, lahirnya karya puncak memang tidak banyak dipengaruhi peran pemerintah. Karya puncak sepenuhnya pencapaian pribadi sang sastrawan. Batin, renungan, kreativitas para juara memang tak terlalu dipengaruhi dunia luar, baik ketika dizalimi pemerintah, ataupun dibantu pemerintah.

Peran pemerintah untuk dunia kreativitas memang terbatas saja. Pemerintah ibarat kereta kuda yang bisa mengantar siapapun paling jauh ke lereng gunung saja. Untuk mencapai puncak, itu sepenuhnya "wahyu pribadi," sepenuhnya kesunyian dan perjuangan sastrawan sendiri.

-000-

Namun peran pemerintah melalui inisiatif lembaga bahasa dalam program MUNSI, Musyawarah Sastrawan Indonesia, tetaplah sesuatu yang penting.

Kita tak punya database soal siapa sastrawan Indonesia sejak zaman pergerakan hingga kini.!Apa karya penting masing masing sastrawan? Bagaimana corak karya mereka? Bisakah ringkasan karya mereka diakses secara digital?

Sangat sedikit pula karya Indonesia yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya Indonesia semakin tak dikenal dunia luar.

Umumnya komunitas sastra tak pernah bisa komersial secara ekonomi. Para sastrawan umumnya juga bukanlah mereka yang punya kemewahan dan kelebihan harta untuk ikut membangun komunitas. Dengan perjuangan karena cinta, dan dana apa adanya, perkembangan komunitas sastra berjalan apa adanya pula.

Interaksi antar sastrawan dari aneka daerah, untuk tatap muka berdiskusi dalam jumlah yang masif juga jarang terjadi. Sulit membuat acara jumpa darat masif itu jika semata bersandar pada inisiatif para sastrawan. Perjumpaan darat masif itu membutuhkan dana besar.

Bahkan banyak draft karya yang sangat layak diterbitkan untuk memperkaya rohani tapi sulit untuk komersial. Penerbit pada umumnya akan menghitung dua tiga kali untuk menerbitkannya.

Untuk hal di atas, pemerintah melalui lembaga bahasa, ataupun institusi lain, bisa berperan membantu dan memfasilitasi. Peran pemerintah untuk isu di atas adalah sesuatu.

Peran pemerintah melalui lembaga bahasa dalam MUNSI itu lahan yang subur. Jika terus dikerjakan secara berkelanjutan, dengan program kongkret, dengan komitmen dan militansi tinggi, niscaya melalui forum ini akan lahir aneka bunga karya yang tak terduga.

Berkumpul dengan para sastawan dari seluruh Indonesia ini, saya semakin berharap. Seperti yang dirasakan Martin Luther King: "I have a dream." Suatu ketika sastrawan kita ada yang berpidato dalam penerimaan nobel sastra. Tentu bukan hadiah itu tujuannya. Namun hadiah itu menjadi ukuran bahwa karya sastra Indonesia sudah terbang setinggi itu.

juli 2017

 

 

 

  • view 186