Suara Takbir Itu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 24 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Suara Takbir Itu

Sahur Hari Keduapuluh Sembilan
(Terakhir)

Suara Takbir Itu
Denny JA

Khusyuk takbir itu didengarnya
Lebaran telah tiba

Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar
La Ilaha Illalahu Allahu Akbar
Allahu Akbar, Wa Lillahilham

(Allah Maha Besar
Tiada tuhan selain Allah
Segala puji hanya milik Allah)

Suara takbir itu menyayat hati
Bukan saja karena pujian Ilahi
Namun terkait kisahnya pribadi

Takbir itu bergema
Di hari ketika ia pergi dari rumah
Era mahasiswa, diusir Ayah
Takbir juga bergema
Di hari ketika ia kembali ke rumah
Lima belas tahun setelahnya
Untuk merawat Ayah

-000-

Akbar namanya
Empat puluh tahun kini usia

Ketika mahasiswa
Ia rawat ibunya sampai tiada
Ibu menderita
Akbar acapkali tengkar dengan ayah

Mereka hidup dalam kemiskinan
Ekonomi serba kekurangan

Akbar acap protes pada Ayah
Seolah tak peduli keluarga
Uang sekolah perlu dibayar
Tak bisa dibayar dengan dakwah
Tagihan listrik perlu dilunasi
Tak bisa dilunasi hanya dengan dakwah
Makanan harus dibeli
Tak bisa dibeli hanya dengan dakwah

Apa yang kau harap dari seorang pendakwah?
Balas Ayah marah
Kusampaikan kalimat Allah
Mustahil aku tukar dengan harta
Aku jaga jiwa manusia
Aku dapat dana seadanya
Aku ikhlas saja
Kaupun seharusnya terima

Akbar acap protes pada Ayah
Sangat jarang di rumah
Sering ke luar kota, katanya
Ibu perlu Ayah yang hadir
Anak-anak perlu Ayah yang hadir

Ketika ibu sakit
Ayah tak di sini
Ketika adik ditabrak motor
Ayah tak di sini
Ketika Akbar kesusahan
Ayah tak di sini

Apa yang kau pinta dari seorang pendakwah?
Balas Ayah marah
Banyak kemungkaran di luar sana
Mereka perlu dengar kalimat Allah

Ada kemungkaran di kota sana
Banyak kemunafikan di kota situ
Ada kejahatan di desa sana
Tak kurang orang murtad di desa situ
Mereka buruh pendakwah
Mereka undang Ayah
Mustahil Ayah tolak

Akbar acap protes Ayah
Ketika tahu Ayah punya istri muda
Ujar Akbar:
Ayah tidak setia
Ayah tak sayang ibu
Ayah tak peduli anak-anak
Istri muda membuat Ayah semena mena

Ayah marah semarah-marahnya
Jawab Ayah:
Akbar, Ayah menolak zinah
Ayah memilih menikahinya
Ayah tak melanggar agama
Jangan kau atur hidup Ayah

Sejak mahasiswa, Akbar cari nafkah
Ia membiayai kuliahnya sendiri
Ia membiayai sekolah adiknya
Ibu dirawatnya
Kadang kurang jam tidurnya

Melihat ibu yang menderita
Melihat ibu yang cemburu
Akbar membujuk Ibu
Ayo ibu, jangan takut
Ceraikan Ayah
Berpisah saja dengan Ayah
Bersama kita tinggalkan rumah
Insya Allah, Aku menjaga

Ibu hanya diam saja
Hanya menitik air mata
Akbar memeluknya
Dua adiknya memeluknya

Ujar Ibu:
Akbar aku tahu kau cinta Ibu
Tapi jangan kau durhaka pada Ayah
Jika kau selalu tengkar dengan Ayah
Gagallah aku sebagai ibu
Tambah menderita Ibu

Di hari itu
Ibu sakit, seminggu sudah
Lebaran segera tiba
Ayah tidak di rumah

Itu malam takbiran
Esok lebaran
Mesjid dipenuhi nyanyian Ilahi

Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar
La Ilaha Illalahu Allahu Akbar
Allahu Akbar, Wa Lillahilham

Ayah kembali ke rumah
Bertengkar hebat Akbar dan Ayah
Ujar Akbar:
Ayah pendakwa macam apa?
Mengaku menyampaikan kalimat Allah
Tapi tak peduli ibu menderita
Untuk anak, waktu tak punya
Hanya sibuk dengan istri muda
Ayah hanya indah pada kata
Buruk prilakunya

Balas membalas antara Akbar dan Ayah
Ibu hanya menetes air mata
Dua adik hanya memeluk ibu
Takbir di mesjid terus menggema

Akhirnya, keluar itu titah Ayah
Kau anak durhaka!
Keluar dari ini rumah!
Jangan pernah kembali ke sini
Ini rumahku!

Akbarpun membawa barangnya
Keluar dari rumah
Diiringi tangis ibu
Dan suara takbir mesjid sebelah

-000-

Akbar mengontrak rumah
Ia sudah selesai kuliah
Akbar sudah bekerja
Ibu acap mengunjunginya
Juga dua adiknya

Akbar membiayai hidup Ibu
Akbar menyekolahkan dua adiknya
Ayah semakin jarang di rumah
Hingga ibu tiada

Kemarahan Akbar semakin membara
Ia pindah ke lain kota
Ia biayai adiknya hingga selesai kuliah
Ia jaga adiknya hingga bekerja

Akbar menikah
Tak ia undang Ayah
Akbar punya anak
Tak ia kabari Ayah

Tak terasa lima belas tahun sudah
Setiap kali ia dengar takbir di hari lebaran
Setiap kali ia teteskan air mata
Ingat ibu yang menderita
Berkobar marah pada Ayah

Dari adik, ia dengar Ayah sudah beda
Sakit-sakitan sudah
Hampir tak pernah lagi ke luar kota
Sudah sering di rumah

Akbar jumpa guru Darta setahun lalu
Mereka sering bertemu
Suatu ketika Akbar bertanya
Guru, kini Aku kaya raya
Namun oh mengapa, Aku tidak bahagia?

Ujar Darta:
Bahagia itu buah dari cinta
Sedangkan amarah mengusir cinta
Hatimu dikuasi amarah
Jika kau ingin cinta yang berkuasa
Kau harus usir amarah

Tanya Akbar
Bagaimana bisa kuusir amarah?
Kusaksikan ibu menderita
Kusaksikan kesewenangan Ayah
Kusaksikan ibu yang setia
Kusaksikan Ayah yang tanggung jawabnya tiada

Ujar Guru Darta:
Tak bisa kita ubah itu peristiwa
Namun bisa kita ubah perspektifnya
Agarnya bukan amarah buahnya
Itu sampah bagi jiwa
Sampah tiada guna
Tapi hasilnya hikmah dan cinta

Hikmah bersembunyi bahkan dalam tragedi
Ia ibarat mutiara yang tenggelam di dasar hati
Derita itu banyak hikmahnya
Lebih tumbuh jiwa karena derita
Galilah hikmah
Pahami derita secara berbeda

Kesulitan hidup itu datang padamu sebagai guru
Ia datang membuatmu lebih kuat
Justru harus kau syukuri kesulitan
Harus kau syukuri manusia yang membuatmu sulit
Harus kau syukuri peristiwa yang
membuatmu terbelit
Mereka datang sebagai umpan
Agar hidupmu melompat lebih mapan

Kau ingat gymnasium, tempat bagi raga
Kau angkat besi di sana
awalnya kau angkat beban lima kilo
Terasa sakit otot tanganmu
Namun sakit itu membuat ototmu lebih kuat
Akhirnya bisa kau angkat beban sepuluh kilo
Kembali sakit ototmu
Meningkat lagi bisa kau angkat bebas lima belas kilo

Rasa sakit pada ototmu
Justru proses menambah kekuatanmu

Kesulitan hidup itu seperi angkat besi
Ia memperkuat otot jiwamu
Rasa sakit akibat derita
Ia sama dengan rasa sakit akibat angkat besi
Yang satu untuk perkuat raga
Yang lainnya untuk perkuat jiwa

Kasus Ayahmu telah lalu
Tak bisa kau ubah
Namun jika pada jiwa menjadi sampah
Ia tetap tersimpan sebagai amarah
Ia mengusir cinta
Dirimu tak akan bahagia

Saatnya kau melihat kasus Ayah
Secara berbeda

Jangan kau marah pada Ayahmu
Justru harus kau berterima kasih
Jika dulu Ayah memanjakanmu
Kau mungkin tak sekuat ini

Lama terdiam si Akbar
Direnungkannya lagi dan lagi

-000-

Berminggu-minggu Akbar terpana
Dua adiknya memberi kabar
Mungkin usia Ayah tak lagi lama
Ayah acapkali bertanya soal Akbar

Di ujung bulan puasa, Akbar berdoa
Ya Allah datanglah petunjukMu
Rasa marahku masih membara
Harus bagaimana sikapku pada Ayah?
Akbarpun berzikir:

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Begitu khusyuk Akbar
Hening mencekam
Menetes air matanya

Di puncak zikir
Dinding di kamarnya menjadi layar
Nampak Ayah mengendong Akbar
Itu waktu ia bocah
Ujar Ayah: Nak, kau harus kuat
Kau pemimpin bagi dua adikmu
Jika Ayah tak di rumah,
Kau pula yang menjaga Ibu
Ayah cium pipi Akbar
Akbar senang
Dibalas mencium Ayah berkali kali

Nampak Ayah mengantarnya
Itu hari pertama Akbar sekolah
Akbar berlari dari kelas
Memeluk Ayah ingin pulang saja

Ujar Ayah:
Nak, kau harus sekolah setingginya
Kau akan jadi pemimpin
Harus bisa membaca
Harus bisa menghitung
Dipeluknya Akbar
Dikuatkannya agar berani melangkah

Selama seminggu Ayah mengantarnya
Hingga Akbar tak lagi takut sekolah

Di layar, muncul aneka hikmah
Justru karena serba kekurangan,
Justru karena Ayah jarang di rumah
Akbar terbiasa mencari nafkah sejak mahasiswa
Terbiasa menjadi pemimpin dua adiknya
Terbiasa menjaga Ibu selalu
Itu membuat Akbar justru kuat tumbuh

Takbir di hari raya berikutnya
Akbar pulang kampung
Ia datang lagi ke rumah Ayahnya
Pertama kali sejak lima belas tahun sudah
Ia cium tangan Ayahnya
Ia mohon maaf lahir batin

Ayah sudah tua
Sangat lemah
Tiada kata dari Ayah
Air mata Ayah menetes
Ayah peluk Akbar
Kencang sekali
Seolah tak ingin Ayah lepas lagi

Ketika takbir lebaran, Akbar pergi
Ketika takbir lebaran, Akbar kembali
Setelah lima belas tahun yang nyeri

Terus diingatnya Guru Darta

Galilah hikmah
Selalu ada pelajaran dari peristiwa
Selalu ada bunga di balik derita

Diajaknya Ayah berzikir
Diikuti dua adiknya

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Sementara suata takbir lebaran terus bergema
Itu takbiran kemenangan umat manusia
Sekaligus kemenangan bagi Akbar pula
Kemenangan menundukkan amarah
Kemenangan menumbuhkan cinta
Kemenangan kembali ke fitrah

 

 

 

 

 

  • view 475