Berburu Malam Lailatul Qadar

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 23 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

12.8 K Wilayah Umum
Berburu Malam Lailatul Qadar

Sahur Hari Keduapuluh Delapan

Berburu Malam Lailatul Qadar
Denny JA

Direnungkannya lagi dan lagi
Puisi Rabiah Adawiyah yang sufi

Ya Tuhan
Jika aku menyembahMU
karena takutkan neraka
Cemplungkanlah aku
Ke dalam neraka

Jika aku menyembahMu
karena inginkan surga
Tutup pintu surga bagiku

Tapi jika aku menyembahMu
karena cintaku padaMu
Janganlah Kau tolak cintaku

Bana merasakan keindahan ini puisi
Namun masih tak ia mengerti
Mengapa Guru Darta meminta
Ujarnya: Renungkan puisi Rabiah Adawiyah

Padahal Bana hanya bertanya
"Guru
Sembilan tahun sudah aku berburu
Ingin jumpa malam Lailatul Qadar
Aku dengar sejak lama
Itu malam lebih indah dari seribu bulan
Sudah kulakukan segala
Namun mengapa malam Lailatul Qadar
Tak kunjung kujumpa?
Apa yang salah?

Jawab guru Darta:
Renungkanlah puisi Rabiah Adawiyah

Bana renungkan kembali itu puisi
Surga itu tak perlu diburu
Cintai saja Tuhan semata
Surga datang sebagai berkah

Bana menggali
Ia bertanya dalam hati

Apakah sikapku pada Lailatul Qadar salah?
Ia jangan diburu?
Ia hanya berkah?
Kujumpai atau tidak
Kualami atau tidak
Harus kuikhlaskan saja?

Terdiam Bana
Lama direnungkannya

-000-

Bana terkenang masa lalu
Sembilan tahun sudah
Sembilan bulan ramadhan
Bana berburu sentuhan
Berkah malam Lailatul Qadar

Tiga tahun pertama
Ibadah ekstra dilakukan Bana

Setiap 10 hari akhir bulan ramadhan
Ia itikaf di mesjid
Selesai tarawih hingga datangnya sahur
Sembilan jam setiap malam
Di hari ganjil bulan puasa
Ia perbanyak doa

Begitu serius Bana siapkan
Sangat khusyuk ia menyambut Lailatul Qadar
Dilakukannya kembali di tahun kemudian
Dikerjakannya pula di tahun berikutnya

Namun malam Lailatul Qadar tak kunjung datang padanya.
Duhai, mengapa? Tanya Bana
Mungkinkah karena kurang sedekahku?

Tiga tahun kedua, Bana perbanyak sedekah
Sejak puasa hari pertama
Ia datangi kaum papa
Ia bagikan harta
Ia lakukan setiap tahunnya

Kembali 10 hari terakhir bulan Ramadhan
Bana khusyuk di masjid semalaman
Berdoa sejak selesai sholat Isya
Tak putus hingga sholat subuh
Ia kerjakan lagi di tahun berikutnya
Ia lakukan pula di tahun kemudian

Duhai malam Lailatul Qadar tetap tak jumpa
Apakah gerangan sebabnya?
Apakah karena aku kurang berdakwah?

Tiga tahun berikutnya
Ibadah lebih ekstra Bana lakukan
Setiap bulan puasa sejak hari pertama
Ia tak hanya berderma harta
Ia juga keliling berdakwah
Dari satu mesjid ke mesjid lainnya
Dari satu rumah ke rumah lainnya

Kembali 10 hari terakhir bulan Ramadhan
Bana itikad di masjid semalam suntuk
Ia lawan rasa kantuk
Ia perbanyak doa
Di hari ganjil terutama

Diulangnya kembali di tahun berikutnya
Dikerjakannya lagi di tahun kemudian
Wahai malam Lailatul Qadar
Tetap tak kunjung ia alami

Ya Allah, apa yang salah?
Sembilan tahun sudah aku berburu
Segala ibadah sudah kucoba

-000-

Sejak jumpa Guru Darta
Bana ubah cara
Malam Lailatul Qadar tak lagi ia buru

Tapi masih ia harap
Oh, siapa tahu akhirnya aku jumpa

Di 10 hari terakhir ramadhan
Bana ibadah belaka
Ia ikhlas saja
Namun malam Lailatul Qadar
Tetap tak kunjung jumpa
Begitu pula tahun berikutnya
Juga tahun kemudian

Akhirnya Bana putuskan
Malam Lailatul Qadar tak lagi ia buru
Ia ibadah saja, bahkan tak lagi berharap


Tiba suatu masa
Di penghujung bulan puasa
Bana berzikir di beranda
Tidak lagi dalam rangka pahala
Tak pula dalam rangka berkah
Tapi ekspresi cinta Tuhan semata

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Duhai Ilahi
Terasa embun segar sekali
Menetes di hati
Hening luar biasa
Keindahan terlukiskan tiada
Hanya menetes air mata

Ya Allah, ujar Bana
ILailatul Qadar itu, inikah?

Bana terhenyak
Dirasakannya pohon berzikir
Lampu taman berzikir
Rumput berzikir
Malam berzikir
Hatinya berzikir
Jantungnya berzikir
Kakinya berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Ya Rabbi
Inikah malam Lailatul Qadar?

Suara itu datang berulang ulang
Entah suara siapa
Suara bergema
Begitu wibawa
"Hati manusia, lembutkanlah
Jiwa manusia, indahkanlah"

Seolah seluruh semesta koor bersama
Meja dan kursi ikut koor
Tasbihnya ikut koor
Kacamatanya ikut koor
"Hati manusia, lembutkanlah
Jiwa manusia, indahkanlah"

Tiba-tiba langit berubah
Menjadi televisi raksasa
Terpancar di sana masa silamnya
Terdengar kembali suara ibu
Apapun pekerjaanmu, anakku
Serukanlah kebaikan
Kebaikan itu yang utama

Terpancar di angkasa
Bana sedang berdakwah

-000-

Setelah malam itu
Bana tetap menjadi pengusaha
Namun kini Ia mulai berdakwah
Tidak berdakwah di atas mimbar
Ia berdakwah melalui puisi


Puisinya menyebar lewat sosial media
Di tangan pelukis, diubah menjadi lukisan
Di tangan pemusik, diubah menjadi lagu
Di tangan sutradara, diubah menjadi drama
Puisi melembutkan hati
Puisi memperindah jiwa
Seruan kebaikan
Seruan menghindar keburukan
Amal ma'ruf Nahi Munkar

Di malam yang sepi
Merenung si Bana:
Sungguh tak pernah kutahu
apa yang kualami ?
Benarkah itu malam lailatul qadar?
Itukah malam yang dulu aku buru?
Ketika aku buru, justu tak jumpa?
Ketika aku ikhlaskan, justru berjumpa?

Bana tetap tak pasti
Tapi memang ia alami
Keindahan yang melebihi seribu bulan
Dan panggilan mengubah hidup

Bana kembali berzikir
Bersyukur atas datangnya sebuah malam
Apakah itu Lailatul Qadar?
Ataukah bukan?
Tak lagi penting baginya
Ia hanya cinta Allah semata

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

  • view 496