Soal Mudik Itu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 22 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Soal Mudik Itu

Sahur Hari Keduapuluh Tujuh

Ketika Mudik Itu
Denny JA

Carilah waktu, anakku
Setidaknya setahun sekali, anakku
Menarik jarak dari rutinitas
Melakukan perenungan tuntas

Menyepi
Mencari tahu:
Apakah kau menjalani hidup
yang memang kau pilih?
Yang memberikanmu makna?

Itulah pertuah guru Darta
Dafa selalu mengingatnya
Tapi guru, tanya Dafa:
Kegiatan macam apakah itu?
Yang cocok untukku?
Untuk merenung jauh?

Ujar Pak Darta:
Biarlah setiap individu memilih
Sesuai dengan pengalaman sendiri
Sejalan dengan getaran hati

Sejak dua tahun lalu
Dafa sudah ketemu
Kegiatan paling cocok untuknya?
Mudik jawabnya

Melalui mudik
Ia berjumpa tak hanya dengan ibu
Tapi napak tilas ke masa lalu
Mengunjungi rumah pembentuk jiwa
Mengunjungi awal pembentuk pikirannya

25 tahun sudah mudik ini
Setahun sekali, setiap kali
Namun baru mudik dua tahun lalu
Ia berikan makna baru
Mudik dengan nafas baru

-000-

Lebaran tiga hari lagi
Dafa bersama keluarga sudah ke desa
Mudik, kembali ke kampung halaman
Oh.. ini tanah tempat ia dilahirkan
Ini bumi tempat ia dibesarkan

Sehari penuh sengaja
Napak tilas si Dafa
Mengunjungi tempat beraneka
Akar sikap hidupnya

Dilihatnya itu Mushola
Masih berdiri di sana
Dafa masuk ke beranda
Setelah Sholat secukupnya
Ia bersandar merenung jauh

Terbayang ketika ia bocah
Belajar mengaji di sana
Pak Ade selalu mengakhiri
Mengajaknya berzikir bersama

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Pak Ade selalu memberi petuah
Yang ini paling diingatnya
Berzikirlah selalu anakku
Sebagaimana ragamu perlu makanan
Hatimu juga perlu santapan
Zikir itu gizi tertinggi bagi jiwa

Dalam zikir tumbuhkan cahaya Tuhan
Jadikan Tuhan tertinggi dalam ingatan
Camkanlah

Tiada Tuhan selain Allah
Utamakanlah hanya Allah
Karena Allah Maha kasih
Utamakanlah kasih
Karena Allah Maha Adil
Utamakanlah rasa adil
Karena Allah Maha Sejahtera
Utamakanlah hidup sejahtera
Jadikan itu pedoman hidupmu

Tanya Dafa:
Dari nama Tuhan yang tak berhingga
Apakah cukup kuamalkan sedikit saja?
Ujar pak Ade
Tuhan memang tak berbatas
Namun dirimu berbatas
Mulailah dari kebutuhanmu saja
Itu sudah indah sebagai pembuka

Lama Dafa bocah terkesima
Petuah itu menggugahnya
Sejak itu, zikir menjadi tradisi
Bersama doa menjadi santapan rohani

Ya Allah
Tumbuhkanlah kasih
Tumbuhkanlah rasa keadilan
Buatlah aku sejahtera

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Selanjutnya Dafa Ziarah
Ke rumah batin lainnya
ke makam ayahnya
Meninggal ketika ia remaja

Ayah tiang utama
Membentuk pikirannya sejak bocah
Disentuhnya itu pusara
Dafa kirimkan doa
Ketika khusyuk dan hening
Seolah makam berubah sungai di desa
Setiap minggu, Ayah mengajaknya
Berenang di sana

Sambil duduk melepas lelah
Ayah acap memberinya petuah
Diingatnya soal batu itu
Ayah mengajaknya ke situ
Batu besar sangat keras
Dekat air terjun sana

Lihatlah Dafa, ujar Ayah
Baru keras ini bolong tengahnya
Ia terkena percik air
Dari itu air terjun
Terkena peciknya saja
Tapi percikan yang belasan tahun sudah

Apa akibatnya?
Bahkan cadas yang keras terkikis
oleh sentuhan air
Yang terus menerus
Di tempat yang sama

Jadilah kau seperti air itu anakku
Teruslah kau memercik
Apapun mimpimu
Jangan pernah henti
Hidup itu batu yang keras
Tapi akan tetap bisa kau kikis
Jika airmu terus memercik
Di tempat yang sama

Bisik Dafa di makam itu:
Terima kasih Ayah
Kau selalu hidupkan api di hatiku
Selalu kuingat
Mimpi yang tak mudah patah
Ikhtiar yang tiada henti
Namun fokus saja
Selanjutnya Ikhlaskan Tuhan bekerja

Di makam Ayah, disempatkannya berzikir
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Dafa bergegas ke hulu
Ia kunjungi pantai nan jauh
Hampir setiap bulan dulu
Kakak, adik, Ayah dan Ibu
Duduk bersama menunggu

Matahari tebenam oh indahnya
Sekeluarga bercengkerama

Ibu memberinya petuah
Utamakanlah keluaga, anakku
Untuknya, selalu sediakan waktu
Tempat pertama kau tumbuhkan cinta

Ingat anakku, ujar Ibu
keluarga itu tidak kau pilih
Kau tak memilih siapa ayahmu
Kau tak memilih siapa ibumu
Kau tak memilih siapa kakak adikmu

Tuhan yang memilihkannya untukmu
Tentu dengan maksud tertentu
Kau dititipkan Tuhan soal keluargamu
Jagalah dengan cinta

Iya, ibu: jawab Dafa yang bocah
Ditatapnya mata ibu
Dilihatnya samudra luas membiru
Di sana ia menjadi perahu
Menenangkan kalbu

Sejak saat itu
Keluarga ia jadikan amanah
Lingkungan yang tak dipilihnya
Tempat ia asah cinta

Kembali Dafa berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Dafa pergi ke tempat lainnya
Ini tempat yang beda
Batu besar di bawah bunga kamboja
Walau samar masih tertera di sana
Inisial DR, inisial dua nama

Lama Dafa terdiam
Ah Rosa, apa kabatmu?
Rosa cinta pertamanya
Kala masa mahasiswa

Ia ingat inisial DR dipahat Rosa
Dengan paku digoresnya
Diiringi doa dan air mata

Inisial ini menjadi saksi, sayangku
Aku tetap mencintaimu
Ujar Rosa: selalu
Tapi aku harus meninggalkanmu

Rosa anak pendeta
Sedangkan Dafa anak ulama
Cinta mendalam tapi beda agama
Dafa ingin menikahinya
Menikah di Singapura

Dafa teringat
Habis habisan ia membujuk
Ujar Dafa:
Rosa jangan mudah menyerah
Jangan kalahkan cinta

Jawab Rosa
Kau akan menderita sayangku
Kau akan dijauhi keluargamu
Kau akan ditentang keluargaku
Biarlah aku pergi darimu
Ini akan lebih baik untukmu
Percayalah

Duhai Rosa, kenang Dafa
Tiga tahun aku tak bisa lupa
Hatiku patah
Sebelum aku putuskan menikah

Kau mengajariku banyak, Rosa
Tidak dengan pikiranmu
Tapi dengan kasihmu

Masih diingatnya kata akhir Rosa
Sebelum mereka berpisah
Dan menghilanglah si Rosa
Tak lagin bersedia ditemuinya

Dafa sayangku
Kita bisa memilih siapa suami atau istri
Tapi kita tak bisa memilih cinta sejati
Kaulah cinta sejatiku
Selalu

Setahun kemudian terdengar berita
Rosa sakit dan tiada
Dafa sempatkan berkunjung ke makamnya

Terdiam lama Dafa
Inisial di batu itu disentuhnya
Menetes itu air mata
Dikirimnya doa buat Rosa

Hari raya tiba
Berkumpul semua keluarga besar
Ada tujuh anak Ibu
Hanya dua tinggal di desa
Lima lainnya hijrah ke kota
Berbeda pula kotanya
Ada pula yang beda pulaunya

Cucu ibu ada tiga belas
Semua tiada pernah jumpa bersama
Di tempat yang sama
Di waktu yang sama
Kecuali jumpa di hari raya
Mudik tradisinya

Di meja banyak hidangannya
Namun hidangan yang utama
Adalah cinta
Keluarga besar yang berjumpa


-000-

Sepulang mudik itu
Dafa merenung jauh
Oh begitu kaya masa lalu
Ia pindah ke kota
Menikah, beranak pianak
Terserap dalam kerja yang itu itu saja
Oh betapa kering masa kini

Hidupnya semakin satu dimensi
Ialah hidup yang bekerja saja
Bukan hidup yang berkarya
Bangun, ke kantor, makan, pulang, tidur
Bangun lagi, ke kantor lagi, pulang lagi
Tidur lagi
Hanya itukah yang diberikan hidup?

Sepulang mudik kini terasa beda
Napak tilas membuatnya membara
Ia ingin hidup yang lebih bergelora
Mudik menghidupkannya

Lagi, Dafa merenung jauh
Dibenarkannya petuah Darta, sang Guru

"Carilah waktu anakku
Waktu untuk menyepi
Renungkanlah selalu
Apakah kau menjalani hidup
Yang memang kau pilih?

Dafa bersyukur
Mudik membawanya berkah
Ia kembali berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

 

 

  • view 281