Saudaramu dalam Kemanusiaan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 21 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.9 K Wilayah Umum
Saudaramu dalam Kemanusiaan

Sahur Hari Keduapuluh Enam

Saudaramu Dalam Kemanusiaan
Denny JA

Lagi dan lagi, ia hayati
Kutipan dari Sayyidina Ali
Menetes air mata
Bukan karena kutipan yang indah
Tapi kutipan itu menyelamatkannya
Kutipan yang menentukan hidup matinya

"Yang bukan saudaramu
dalam iman
Mereka saudaramu dalam kemanusiaan"

Ia ingat suatu malam
Rahman berkisah soal itu kutipan
Di antara suara bom dan senapan
Di antara bocah menangis ketakutan
Ketika lapar dan haus mencekam
Ketika ia dalam persembunyian

Itu peristiwa hanya seminggu
Wahai tapi terasa sewindu
Menunggu dan menunggu
Dalam persembunyian itu
Berkali kali terasa mati beku

"Jika tak ada dirimu, Rahman
Saudara dalam kemanusiaan
Bisa jadi aku kini tak di sini
Bisa jadi aku sudah mati"

-000-

Lala namanya
Dua puluh tiga tahun usia
Beragama katolik dari negara tetangga
Sebuah kota yang awalnya nyaman saja

Ujar Lala:
Suatu ketika entah dari mana
Satu pasukan garang menyerbu
Mereka pekikkan nama Tuhan
Tapi mengapa aku ketakutan?

Ya Allah, Raba tetanggaku ditembak
Mati di depan anak dan istri
Gereja dibakar
Pastor disandera
"Jangan ada yang berani!
Atau kalian semua mati."

Samar-samar aku dengar
Kelompok itu punya nama
Oh seramnya
Katanya cabang Asia Tenggara

Lala dan keluarga
Beserta puluhan penduduk kota
Lalu menjadi sandera
Mereka dikumpulkan di aula
Ponakannya sepuluh tahun usia
Menangis menggigil:
Aku takut tante Lala,
aku takut"

Tenang sayang, ujar Lala
Tuhan tak pernah alpa
Lala mengajaknya berdoa
Berdoa pula sandera lainnya
Doa dalam hati agar tak terdengar
Ya Tuhan, KuasaMu bekerjalah
Selamatkan kami dari ini bencana

Pemimpin yang beringas itu berseru
"kalian semua harus bersyukur
Kami perlakukan kalian dengan adil
Kalian tawanan perang kami
Sah menjadi budak kami
Sah kami jual belikan
Sah kami perkosa
Tapi itu tak kami lakukan

Rombangan garang itu
terus pekikkan nama Tuhan
Namun mengapa mereka seperti setan?

Jumlah sandera lima puluhan
berencana kabur pergi
Kadang berani
Kadang takut sekali
Salah aksi disiksa hingga mati

Tengah malam dini hari
Hanya dua penjaga dengan senjata
Penjaga yang terpejam mata
Robin dan Alex merebut senjata
Menembak mati dua penjaga
Dor dor dor!!

Dini hari mereka berlari
Dalam gelap mereka pergi
Keluarga Muslim menyelamatkan mereka
Keluarga Muslim menampung mereka
Keluarga Muslim melindungi mereka
Keluaga Muslim merawat mereka
Di gudang besar yang gelap
Tersembunyi di belakang halaman
Mereka disembunyikan

Berhari- hari sudah
Mereka menunggu di sana
Rahman nama lelaki itu
Ia banyak memperhatikan Lala
Ketika malam menggigil
Rahman menyelimutinya
Ketika haus
Rahman memberinya minuman
Ketika takut
Rahman menguatkannya

Bertanya Lala kepada Rahman
Mengapa kalian menyelamatkan kami
Lain agama kami
Kalian Muslim
Kami Katolik

Rahman tersenyum saja
Lala ulangi lagi
Mengapa kalian berbaik hati?
Padahal beda yang kami imani?

Rahman menjawab
Yang bukan saudara seiman
Ia saudara dalam kemanusiaan
Kita tetap bersaudara
Saling menolong dalam kesusahan
Bersama melawan kemungkaran

Lala terdiam
Ditatapnya mata Rahman
Dilihatnya di mata itu langit membentang
Burung riang terbang
Damai awannya
Damai cuaca

-000-

Lala mendengar kabar
Itu penduduk kampung Muslim
Bahu membahu
Membantu keperluan mereka
Memberikan pakaian mereka
Memberikan makanan mereka
Memastikan keamanan mereka
Padahal agama mereka berbeda

Ujar Rahman,
Lala ini perang akan berjalan lama
Sebaiknya dirimu mengungsi
Keluar dari wilayah ini

Lala rundingkan dengan rombongan
Tak semua setuju mengungsi
Ujar yang paling tua
"Jangan pergi lala
Gerombolan itu berjaga
Ada dimana mana
Kau akan tertangkap disiksa
Bahkan diperkosa"

Ujar Lala;
Sampaikan kapan kita sembunyi?
Hidup tapi mati?
Hanya Lala dan tiga orang saja yang beda
Niat Lala keluar dari ini negara
Tujuannya ke Indonesia
Di situ banyak sanak saudara

Rahman dan kawan siapkan perjalanan
Dini hari mengawal Lala dan tiga lainnya
Sebelum berpergian, Lala memandang dari kejauhan
Berdoa dan berzikir Rahman

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Tak Lala pahami arti itu doa
Namun hatinya bergetar
Rahman, begitu baik hatimu
Bagaimana membalas budimu?
Menetes air mata Lala

Itulah saat terakhir ia jumpa Rahman
Lala ingin ajak Rahman ikut serta
Tapi malu mengatakannya

-000-

Kini Lala sudah Jakarta
Rahman selalu dikenangnya
Di Jakarta, Lala jumpa Guru Darta
Ia tanya banyakkah tercipta manusia?
Yang hatinya sebaik Rahman?
Walau ia tidak seiman
Tapi Rahman menganggapnya saudara dalam kemanusiaan

Ujar Guru Darta
Di setiap hati manusia
Menyelinap rasa cemas yang sama
Tumbuh rasa takut yang sama
Datang rasa sepi yang sama

Di setiap hati manusia
Rindu keadilan yang sama
Tak suka kesewenangan yang sama
Ingin bahagia yang sama
Ingin dicintai yang sama
Ingin mencintai yang sama

Semua rasa yang sama
Membuat setiap hati bersaudara
Jika tidak dalam iman
Maka dalam kemanusiaan

Tanya Lala:
Saudara dalam kemanusiaan?
Apakah artinya?
Ujar pak Darta
Walau beda agama
Walau beda etniknya
Kita punya musuh kemanusiaan yang sama:
Kebodohan, kemiskinan
Ketidak adilan, kesewenangan
Kekejaman, kezaliman

Mengangguk itu Lala
Dan kembali bertanya
Bagaimana cara membalasnya?
Membalas hutang budiku pada Rahman?
Jawab Pak Darta:
Berbuat baiklah pada saudaramu
Saudara seiman
Atau saudara dalam kemanusiaan
Kebaikan tak harus langsung ke Rahman

Pagi ini, Lala berangkat awal sekali
Ia pergi ke gereja Katedral
Itu hari Idul Fitri
Misa gereja pagi hari di sana diundurkan
Menghormati datangnya lebaran
Halaman gereja diperbantukan
Ada yang sholat di Istiqlal
Di gereja Katedral parkirkan kendaraan

Lala siapkan banyak minuman
Itu akan ia bagikan
Kepada kaum Muslim
Saudaranya dalam kemanusiaan

Di antara keramaian
Menyelinap memorinya tentang Rahman
Ketika ia berdoa
Ketika ia berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illahah

Rindunya pada Rahman tak tertahan
Teringat kembali itu kutipan
Yang bukan saudaramu dalam iman
Ia saudaramu dalam kemanusiaan

 

 

 

 

 

  • view 325