Doa Dua Kampung Yang Terbelah

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

8.8 K Wilayah Umum
Doa Dua Kampung Yang Terbelah

Sahur Hari Keduapuluh-lima

Doa Dua Kampung Yang Terbelah
Denny JA

Menangis itu ibu
Ini anak kedua yang dikuburnya
Ia taburkan bunga
Bercampur air mata

Para ibu lainnya ikut menangis
Para ayah terdiam kaku

Konflik dua kampung semakin gila
Balas membalas sejak lama
Kepala suku terdiam bisu
Harus dilakukan sesuatu

Namun jika mata dibalas mata
Dunia semakin buta
Seminggu kepala suku tapa brata
Lalu ia berdoa:

Ya Allah yang Maha merukunkan
Bekerjalah kuasaMu
Walau dengan cara tak biasa
Kampung kami, rukunkanlah

Ratusan tahun sudah
Dua kampung ini terbelah
Tak terhitung darah mengucur
Tak lagi peduli banyak yang mati
Berapa banyak lagi yang harus dikubur?
Sampai kapan ya Ilahi?

Jangan wariskan konflik ini pada cucu
Hentikan dendam ini padaku
Hentikan kegilaan ini padaku
Hentikan kekerasan ini padaku

Massa terdiam
Itu doa tak biasa kepala suku
Mereka saling tatap saja
Mengapa kepala suku rela?
Menjadi tumbal, itu yang ia pinta

Badu nama itu kepala suku
Usia sudah Lima puluh
Sudah mulai sakit sakitan
Tapi masih kuat ingatan

Dua kampung yang harmoni
Itu pintanya dalam doa

Badu mengajak semua jemaah
Kerahkan batin dan jiwa
Berzikir bersama
Semoga doanya bekerja

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Itu dua kampung terpencil
Dipisahkan oleh sungai kecil
Semua rumah menghadap matahari
Sebelah kiri kampung putih
Sebelah kanan kampung merah

Kampung putih, penduduknya kulit putih
Kampung merah, penduduknya kulit merah
Semua tak tahu menahu
Apa terjadi di hulu?
Perang dua kampung berawal apa?
Semua kisah mulut ke mulut saja

Apakah sungai sumber pertikaian?
Berebut ikan sumber perkelahian?
Berapa kali teritori dibagi
Berapa kali dilanggar sendiri

Dikembangkanlah kisah lalu
Dua kampung itu satu, dulu
Satu nenek moyang
Satu gerbang

Ujar buyut mereka:
"Awalnya semua berkulit putih
Ada anak yang jahat sekali
Tuhan marah
Mengubah kulitnya menjadi merah

Diusir ia ke seberang sungai
Di situ tempat yang jahat perangai
Di sana beranak pianak si kulit merah
Semua keturunan si haram jadah."

Ini kisah yang tumbuh di kampung putih
Turun temurun diyakini

kIsah yang sama tumbuh di kampung merah
Yang beda yang jahat siapa

Ujar buyut di sana:
"Semua awalnya berkulit merah
Ada anak yang berbuat salah
Tuhan menjadi marah
Kulitnya dipucatkan menjadi putih
Agar hidupnya merintih

Ia diusir ke sungai seberang
Tempat yang berhati belang
Beranak pianak menjadi kampung putih
Semua disiksa pedih."

Dua kampung sama tak peduli
Kisah mana yang sungguh terjadi?
Yang penting serang, terjang
Hancurkan, lumpuhkan

Badu kepala suku kampung putih
Tiada ia tahan lagi
Ini nonsense harus henti
Oh, bekerjalah kekuatan Ilahi

-000-

Dua puluh tahun sudah berlalu
Sejak terdengar doa Badu
Badu sudah turun tahta
Anaknya Don, kini menjadi kepala
Don mewarisi mimpi ayahnya
Dua kampung dirukunkan segera

Jam 2 subuh dini hari
Terbangun Don kaget sekali
Tiga kali sudah ini mimpi
Apakah arti?

Dalam mimpi seorang tua berpesan
Cintai yang sudah kau besarkan
Cintai yang sudah kau rawat
Cintai dengan kuat
Apapun yang terjadi
Walau hancur itu bumi

Lama Don merenungkan
Apa arti itu pesan?
Yang sudah aku besarkan?
Yang sudah aku rawat?
Apakah ini si Bara, anakku?
Bara kah yang dimaksud mimpiku?

Tirai kamar, Don buka
Ia intip anaknya Bara
Oh Bara, 19 tahun sudah usia
Ia lahir setahun setelah Banu berdoa

Don lama mendengar bisik ini
Bara anaknya lain sendiri
Semakin tua kulitnya kemerah-merahan
Seperti kulit di kampung seberang

Beberapa tetua mulai berani bertanya

"Wahai Don, jangan marah
Mungkinkah Bara bukan anakmu?
Ini penting untuk kampung putih
Pada waktunya Bara pemimpin kami
Masih bisakah disebut kampung putih?
Jika kepala sukunya kulit merah?"

Don awalnya marah
Namun di malam sepi ia tergoda
Dilihatnya Bara anaknya
Kulitnya makin lama makin merah
Apakah istriku selingkuh?
Apakah ayah sebenarnya warga kampung sana?

Namun Don lawan itu prasangka
Tapi mimpi ini mengganggunya
Seolah mimpi itu berkata:

"Don sayangi Bara
Walau Bara bukan anakmu!"

Astaga, ujar Don
Aku harus apa?
Tiga malam sudah Don berserah
Ia berzikir saja

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Itu gagasan datang saja
Bangun subuh hari, Ia
Bara diajak Don ke pusat kota
Ia ingin test DNA
Apakah Bara sungguh anaknya?

Kilat menyambar
Petir membakar
Mengagetkan Don itu berita
Test DNA selesai sudah
Bara bukan anaknya
Selingkuhkah istriku?
Don menitik air mata

Mustahil, mustahil, simpul Don
Mustahil istriku selingkuh
Don teringat itu peristiwa
Istrinya bersalin di rumah sakit kota
Mungkinkah anaknya tertukar di sana?

Diam diam Don telusuri
Rumah sakit ia selidiki
Ia periksa tanggal kelahiran
Ia periksa jadwal kehadiran

Hari itu hanya ada dua istri
Satu istrinya
Satu lagi istri kepala suku kampung seberang
Astaga?
Mungkinkah tertukar anak dua kepala suku?

Gempar melanda
Itu berita menyebar segera
Dua kepala suku yang berkuasa
Saling tertukar anak
Test DNA memastikan sudah

Don teringat mimpi yang datang
Tetap sayangi yang sudah kau rawat
Bara dipeluknya
Hatinya berkata: Astaga!
Aku harus apa?

-000-

Para tetua dua kampung berjumpa
Mencari solusi bersama
Ini peristiwa aneh tapi nyata
Di luar kendali manusia
Mari mencari hikmah

Berkumpulah tetua kampung
Semua bicara
Istri Don memeluk Bara, selalu
Tiada dilepas, selalu
Oh berat hati, selalu
Tapi Bara harus pergi
Apapun, Bara bukan anaknya

Don menatap lelaki itu
Ia diberi nama Dudu
Duduk di samping kepala suku
Itulah ternyata anaknya
19 tahun tak bersua
Oh alangkah gagahnya
Wajah mirip dirinya

Semua teringat Doa kepala suku lama
Badu yang arif bijaksana
"Ya Allah rukunkan dua kampung
Walau dengan cara tak biasa
Perang ini
Hentikan padaku"

Inikah jawab doa?
Massa saling bertanya

Badu sudah sangat tua
Dipapah, ia hadir di sana
Terbata Badu bicara

"Ini bukan peristiwa biasa
Dua kampung harus dirukunkan
Umurku tak lagi lama
Ini usulku yang terakhir
Sebelum hidupku berakhir

Bara dan Dudu
Mari kita nikahkan
Bara cucuku dibesarkan di kampung putih
Ternyata putra kampung merah
Kita nikahkan ia
Kita pilihkan gadis terhormat kampung putih

Dudu dibesarkan di kampung merah
Oh ternyata ia cucuku sebenarnya
Kita nikahkan ia
Kita jodohkan dengan gadis terpilih kampung merah

Dua kampung kita rukunkan
Menjadi kampung harmoni
Don akan tua dan mati
Kepala kampung sebrang akan tua dan mati
Biarlah Bara dan istri
Biarlah Dudu dan istri
Bersama memimpin dua kampung
Kampung menjadi satu darah
Kampung menjadi satu keluarga

Suara massa riuh rendah
Para tetua terpana
Rapat meminta jeda
Usul Badu oh terlalu
Tapi itu yang dirindu

Para tetua minta waktu
Minta jeda seminggu
Usul perlu direnungkan
Masa depan dua kampung dipertaruhkan

-000-

Seminggu kemudian
Keputusan diumumkan
Bara dan Dudu menikah
Dua gadis dijodohkan segera
Dua kampung menyatu jiwa raga

Jembatan dibangun melintasi kali
Dua kampung kini terhubung hati

Di rumahnya Badu memanggil semua
Ujar Badu
Doaku 20 tahun lalu dijabah
Tuhan bekerja dengan cara tak terduga

Semua ikut koor
"Percayalah kekuatan doa
" Andalkanlah kekuatan doa
"Gunakanlah kekuatan doa
Dunia akan terbuka."

Semua bersyukur dengan zikir
Malam ikut berzikir
Sungai ikut berzikir
Jembatan baru ikut berzikir

Bara memeluk Badu
Istri Bara memeluk Istri Badu

Diiringi suara massa
Berzikir bersama

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

 

 

Dilihat 275