Jangan Lupa Harumnya Bunga

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 19 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.5 K Wilayah Umum
Jangan Lupa Harumnya Bunga

Sahur Hari Keduapuluh Empat

Jangan Lupa Harumnya Bunga
Denny JA

Direnungkannya kutipan pencerah
Sungguh, ingin hijrah batinnya

Jika dirimu menjadi pohon
di puncak gunung
Bersyukurlah karena memayungi
banyak tumbuhan lainnya

Jika dirimu menjadi perdu
di lereng gunung
Bersyukurlah karena memperindah
pemandangan alam di sana

Jika dirimu menjadi rumput
di kaki gunung
Bersyukurlah karena menjadi lahan
bagi kijang dan rusa berlari

Dimanapun kau berada
Apapun situasi yang ada
Alasan bersyukur tersedia

Di secarik kertas, kutipan itu dituliskan
Dibacanya setiap kali
Aneka kalimat itu menyelamatkan
Ia tak lagi ingin bunuh diri

-000-

Rona namanya
Lima puluhan tahun usia
Minggu lalu menggantung diri
Diselamatkan oleh istrinya sendiri

Tiga hari ia dirawat rumah sakit
Kata dokter tiada penyakit diderita
Hanya yang mengganggu Rona
Ialah penyakit bagi jiwa
Hidup yang hilang makna

Dulu ia dokter yang jaya
Bangun rumah sakit Ia
Gagal, banyak hutangnya
Para penagih menteror rumahnya

Dulu ia banyak bederma
Kepada banyak peminta
Kini bangkrut Ia
Oh sungguh malunya
Menyumbang, ia tak lagi bisa

Dulu ia suami bergairah
Kini terasa hambar rumah tangga
Anak sulungnya sakit parah
Ibu menua dan melemah
Ia merasa tak berdaya

Oh, jika hidup penuh derita
Mengapa harus ada kehidupan?
Jika hidup tak bermakna
Mengapa takut mengakhirnya?

Malam itu jam 1.00 dini hari
Ia menulis satu kalimat pendek
Maafkan aku, suamimu, ayahmu
Iapun menggantung diri

-000-

Semalam ia jumpa guru Darta
Guru yang arif bijaksana
Ia ceritakan hal ihwal

"Pak Darta, aku ada atau tiada
Tak ada beda bagiku
Tak ada beda bagi semua
Aku kehilangan alasan untuk ada
Kuambil keberanian untuk tiada
Mereka menyebutnya bunuh diri

Aku telah bulat hati
Bunuh diri kan kuulangi lagi
Bagaimana pendapatmu, Pak Darta?
Jawab Darta, mari kau alami sendiri
Apa bedanya jika kau ada dan tiada

Bersediakah dirimu?
Kita berkelana jauh sekali
Rona terpana: bisakah?
Bagaimana kutahu beda ada dan tiada?

Kita akan tahu dalam doa
Doa yang khusyuk sekali
Rona ragu. Tapi ia sungguh ingin alami
Rona mengikuti

Darta berseru dalam sekali
Rona tergetar hati

Ya Allah Yang Maha Ilmu
Berikanlah kami pengetahuan
Datangkanlah pencerahan
Walau dengan cara tak biasa

Merekapun berzikir, berpuluh menit
Rona semakin lama semakin hening

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Antara sadar dan tak sadar
Aneka peristiwa terjadi
Ada Rona dan Darta di sana

Itu pemandangan pertama
Robet anak muda yang pintar itu
Sedang mencuri rumah tetangga
Bertanya Rona:
Mengapa kini Robet menjadi pencuri?
Bukanlah ia lulus insinyur dan bekerja?

Kata Darta:
Ia menjadi insinyur karena dirimu memberi beasiswa
Keluarganya tak mampu
Dirimu menyelamatkannya
Karena dirimu tiada
Tak pernah lahir di dunia
Tiada yang memberi Robet beasiswa
Ia menjadi pencuri.
Astaga! Terkaget si Rona

Itu pemandangan kedua
Makam bu Mira
Rona terkaget:
Mengapa bu Mira wafat?
Ia juru dakwah yang menggugah
Begitu banyak yang tercerahkan
Oh beruntungnya lingkungan

Kata Darta:
Mira menjadi juru dakwah
Karena dirimu yang menyelamatkannya

Ingatlah kau malam itu?
Dirimu menggotong tubuh Mira
Ia naik motor dan tertabrak
Yang menabraknya lari
Tiada orang di sana

Kau gotong membawanya ke rumah sakit
Ia selamat merasa hidup yang kedua
Diniatkannya menjadi juru dakwah

Karena dirimu tiada
Tak pernah lahir di dunia
Tak ada yang menyelamatkan Mira
Tabrak lari itu membuatnya mati
Astaga! Kembali Rona terpana

Itu pemandangan ketiga
Ia melihat istrinya menjadi istri si Bana
Istrinya disiksa Bana
Menderita kekerasan rumah tangga
Ya Allah, teriak Rona
Kasihan istriku
Bagaimana Bisa?

Ujar Darta,
Karena dirimu tiada
Tak pernah lahir di dunia
Istrimu menikah dengan pria yang salah
Itulah bedanya
Terdiam lama si Rona
Ada yang menusuk hatinya

Itu pemandangan keempat
Rona melihat ibunya
Tua, pikun dan sepi
Nampak menderita

Rona makin terpana.
Ibuku, mengapa seperti itu?
Ibu memang menua, tapi riang hatinya

Ujar Darta: karena kau tiada
Tak pernah lahir di dunia
Tiada yang mencintaimu Ibumu
Sedalam cintamu

Kau lah yang menghibur ibumu
Membuatnya riang bercengkerama
Tanpa dirimu, semua beda
Astaga! tersentak Rona lagi dan lagi

Perlahan semua peristiwa sirna
Rona masih berzikir
Darta di sebelahnya juga berzikir
Rona menghela nafas
Berhenti ia berzikir
Darta pun menyudahi zikirnya

Tanya Rona, apa yang terjadi?
Jawab Darta: Doa menjawabmu
Kau bertanya apa bedanya?
Jika kau tiada?
Tak pernah lahir di dunia?

-000-

Kembali Darta menyapa
Bersyukurlah karena kau dilahirkan
Karena kau ada, banyak yang beda

Dalam hidup yang panjang
Selalu ada gelap dan cahaya
Lihatlah lebih banyak pada cahaya
Selalu ada derita dan bahagia
Hayatilah lebih banyak pada bahagia
Selalu ada jatuh dan jaya
Kenanglah lebih banyak pada jaya

Dalam kondisi yang sama
Cara pandang membuatnya beda
Bersyukur itulah kunci
Bersyukur membuatmu melihat cahaya

Bahkan ketika kering kerontang di depan mata
Jangan lupa harum bunga

Lama terdiam Rona
Direnungkannya kalimat itu
Bahkan ketika kering kerontang
Jangan lupa harumnya bunga

Jiwanya merekah
Hatinya menyeru:
Ya Allah
Kuatkan aku untuk hijrah
Buatlah hidupku, hidup yang bersyukur
Kembali Rona berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

  • view 243