Anakmu Bukanlah Anakmu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 18 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.9 K Wilayah Umum
Anakmu Bukanlah Anakmu

Sahur Hari Keduapuluh tiga

Anakmu Bukanlah Anakmu
Denny JA

Dibacanya cuplikan itu lagi dan lagi
Puisi Kahlil Gibran memberi inspirasi

"Anakmu bukanlah anakmu
Ia dilahirkan melalui kamu
Tapi bukan dari kamu
Engkau dapat berikan cintamu,
Tapi jangan paksakan pikiranmu
Engkau bisa menyerupainya
Tapi jangan paksa ia menyerupaimu
Jiwanya ada di masa depan
Dan hidup tak mundur ke masa lalu

"Kang Mas, indah sekali ini puisi"
Titi sangat mengagumi
Ia mengandung tujuh bulan sudah
Kata dokter, ini bayi pria
"Kang Mas, janji ya
Berikan cinta pada anak kita
Tapi jangan kekang pikirannya"

"Ya, dinda
Jiwa penyair jauh berkelana"
Ujar Bara, calon Ayah
"Tapi apakah kita bisa memberi cinta?
Murni cinta saja?"

Bara dan Titi keluarga muda
Pernikahan setahun sudah
Tengah dibuai asmara
Dimanja banyak harta

Bati nama anak mereka nanti
Singkatan Bara dan Titi
"Kang Mas, nama kita bersatu dalam namanya
Itu hanya pertanda
Ia akan menerima penuh cinta ayah
Ia akan tumbuh dengan cinta Ibu
Janji ya Kang Mas?
Ujar Titi manja."

"Ya Dinda
Ia akan menerima semua cinta
Cinta ayahnya, cinta ibunya
Tahan segala cuaca."

Namun hidup penuh kejutan
Zaman berubah tak terkira
Berubah pula kisah cinta Titi dan Bara

-000-

Sepuluh tahun sudah usia pernikahan
Perkawinan itu kapal berlayar
Di tahun awal, kapal di dermaga
Tak dalam lautnya
Sepoi-sepoi saja anginnya
kokoh kapalnya, seolah-olah

Melewati lima tahun pernikahan
Kapal berlayar ke tengah lautan
Oh besar ombaknya
Angin menghempas meronta
Kadang datang halilintar menggelegar
Kadang badai begitu menyambar
Kapal bisa karam, tenggelam

Setelah sepuluh tahun
Tak semua yang datang musim bunga
Datang pula musim kering kerontang
Tiada lagi cinta membara
Terkuras pula harta

Kini, Bara dan Titi bertengkar siang malam
Niat bersama sudah padam
Perceraian diputus pengadilan
Wahai Bara dan Titi hidup berpisah

Tapi siapa merawat Bati?
Anak semata wayang bersedih hati
Sembilan tahun sudah usia
Oh terlalu bocah untuk luka
"Aku ingin sama ayah
Tapi juga sama Ibu."
Bati menangis selalu

Titi membawa Bati begitu saja
Pindah rumah menjauhi Bara
Bara menunggu Bati di sekolah
Membawanya begitu saja
Menjauh dari ibunya

Berkali kali mereka berebut Bati
Bati bingung sendiri
Bara membawa kasus ke pengadilan
Ingin resmi diputuskan
Bati tinggal denganku saja

Sebelum pengadilan dimulai
Titi membawa Bati ke Amerika
Ia niatkan tinggal di sana
Lelah sudah Ia berlaga

Itu penculikan!
Penculikan oleh ibunya sendiri
Membawa anak sepihak!
Tak seijin Ayahnya!
Itu kriminal!
Ayo Bara kita rebut kembali
Demikian penasehat hukum bicara

Ujar mereka,
Titi akan dikalahkan
Bati kembali ke pangkuan

Bara menemui Guru Darta
Haruskah ia proses ini penculikan?
Haruskan ia jebloskan Titi ke penjara?
Inikah jalan agar Bati hidup dengannya?

Ujar Guru Darta
Apa yang kau cari Bara?
Senangkah dirimu jika Titi di penjara?
Senangkah Bati jika ibunya di bui?

Apakah aku harus diam saja?
Tanya Bara
Ujar Darta: kita melangkah dengan doa

"Wahai Dzat yang membulak balik hati
Yang mengatur peristiwa
Bekerjalah kuasaMu
Seorang bocah butuh cinta ibunya
Juga butuh cinta ayahnya"

Berdua mereka berzikir
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Tiga bulan sudah Bati di Amerika
Sebulan sudah Bati bersekolah
Suatu ketika Titi dipanggil wali kelas

Ada apa dengan Bati?
Wali kelas bertanya kepada Titi
Ditunjukkannya lukisan itu
Bati mengambar seorang bocah
Itu bocah menetes air mata
Tangan kiri memegang tangan ibunya
Tangan kanan terlepas dari tangan ayahnya

Tersentuh hati Titi
Oh, Ia mungkin rindu Ayahnya
Titi terangkan hal ihwal

Minggu depan Titi dipanggi lagi
Bati menggambar tak biasa
Bocah naik sepeda
Seorang lelaki dewasa menuntun
Tapi digambar itu tak hanya bocah menangis
Lelaki itu juga menangis

Bati sering murung sepi
Nilai kelasnya rendah sekali
Padahal ia pintar mandiri
Ada luka dan nyeri

Pesan Wali kelas kepada Titi
Bati perlu Ayahnya
"Astaga, apa yang harus kulakukan?"
Lama Titi terdiam

Malam itu
Bati terbangun tiba tiba
Ia menangis sedih sekali
Ibu, aku rindu Ayah
Aku rindu Ayah
Ajak Ayah ke sini, Ibu.

Titi semakin terpana
Banyak hal tak ia mengerti
Esoknya, dari Amerika
Titi menelfon Guru Darta
Mohon pencerahan

Ujar Guru Darta
Anak itu titipan Tuhan
Titipan kepada ibunya
Juga kepada Ayahnya

Orang tua harus amanah
Jadikan anak bercahaya
Mustahil ia bercahaya tanpa cinta
Apakah pupuk untuk cinta?

Cinta dihidupkan oleh cinta
Pupuk cinta ibunya
Pupuk cinta ayahnya
Harus cinta keduanya
Tak bisa salah satu saja

Kandas pernikahan? kandas tak apa
Tapi amanah tetap amanah
Anak tak hanya punya raga
Ia punya hati
Ia punya memori
Jangan pisahkan ia dari pelukan ibu
Janjan pisahkan ia dari pelukan ayah

Tapi bagaimana caranya?
Bara di Jakarta
Aku di Amerika? tanya Titi

Ujar Pak Darta
Renungkan saja
Pelukan seorang Ayah,
Bisakah kau gantikan?
Cinta seorang Ayah,
Bisakah kau perankan?

-000-

Seminggu setelah itu Titi terbang ke Jakarta
Bersama Bati dan Bara, mereka berjumpa pak Darta

Di depan pak Darta
Kembali Bara dan Titi perang terbuka
Bati menutup telinga
Menetes air mata

Ujar pak Darta
Ayo Bara dan Titi
Buka hati
Tenangkan diri
Bersama kita berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Sambil Titi berzikir
Datang padanya masa lalu
Ketika ia membaca puisi itu
Anakmu bukanlah anakmu
Ia datang lewat kamu
Tapi bukan dari kamu

Ketika ia memberi nama
Bati singkatan Bara dan Titi
Ia akan menerima cinta ibunya
Juga cinta Ayahnya

Oh, betapa dekat Bara dan Bati
Ketika Bara mengajar Bari naik sepeda
Bergulat di rumput belakang
Tertawa lepas berkali kali

Sambil Bara berzikir
Datang padanya memori
Ketika ia menjanjikan Titi
Bati akan menerima semua cinta
Cinta Ayahnya, cinta ibunya
Selamanya

Betapa hangatnya Titi dan Bati
Ketika Titi mencium kening Bati
Lalu Bati mencium Titi berkali kali
Dan berkata: Aku sayang Ibu

Bati menangis
Ia pegang tangan ibunya
Ia pegang tangan Ayahnya
Ikut menangis Titi
Ikut menangis Bara

Bersama mereka putuskan
Bati akan tinggal dan sekolah di Amerika
Tinggal dengan ibu dan ayah tirinya
Setiap summer, Bati akan ke Jakarta
Tinggal bersama Ayah dan ibu tirinya

Bara dan Titi boleh berpisah
Namun Titi tetap ibu Bati
Bara tetap Ayah Bati
Tugas Ayah memberi cinta
Tugas Ibu memberi cinta

Berpelukan mereka bertiga
Ujar pak Darta: Alhamdulilah
Telah bekerja sebuah doa
Pak Darta kembali mengajak berzikir
Bati ikut berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 343