Soal Kematian Itu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 16 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Soal Kematian Itu

Sahur Hari Keduapuluh satu

Soal Kematian itu
Denny JA

Waktu hidupmu sudah ditentukan
Tiada bisa kau tawar
Ketika datang jadwal kematianmu
Tiada bisa kau rundingkan
untuk mundur atau maju
Walau sedetik

Sebesar apapun kuasamu
Sebanyak apapun hartamu
Sebuncah apapun cintamu
Di hadapan waktu kematian
Kau hanya hamba sahaya
Tiada kau berdaya
Hanya pasrah mencari hikmah

Terdiam Tisa lama
Buku puisi itu acak ia buka
Kembali terbuka itu halaman
Tafsir bebas ayat di surat Al A' Raf
Dari Quran yang suci

Tiga kali sudah membuka itu buku
Tiga kali pula kembali ke halaman yang sama

Apa urusanku dengan kematian?
Tanya Tisa heran
Tisa gadis kota muda usia
Ia mulai menapak keluarga Sakinah
Mawaddah, Warahma

Tisa peluk bocah satu satunya
Delapan bulan sudah usia
Dadang baginya tak hanya suami
Tapi matahari

Tisa sering ekspresikan cinta
"Dadang sayangku
Kau matahariku
Jangan kau padam
Karena akan padam pula aku"

Dadang memeluknya
Balas Dadang: Tisa kau pandai merajut kiasan
Matahari memang tiada pernah padam
Begitu pula cintaku padamu

Lima tahun usia pernikahan
Amboi, surga ternyata ada di bumi
Ada ketika Dadang di hati

-000-

Berita itu halilintar
Lantai tempat berpijak roboh
Dan Tisa terperosok ke jurang menganga

Ya Allah, Ampun!!!!
Hanya itu kata pertama Tisa ucapkan

Dadang, suami tercinta
Terkena serangan di kepala
Diketahui terlambat sudah
Kini Dadang koma tiada bicara

Tisa seorang pekerja
Ia mencutikan diri dari kantornya
Tak peduli resiko
Ia hanya ingin temani suami

Dadang di kamar sangat khusus
Tiada kamar untuk Tisa di rumah sakit
Tapi Tisa bertahan saja di ruang tunggu
Tisa tidur di rumah sakit
Makan di rumah sakit
Mandi dan ganti baju di rumah sakit
Ia tak ingin pisah sedetik pun
Katanya, "aku tak ingin alpa
Siapa tahu Dadang siuman memanggilku"

Para kakak Tisa memahami saja
Tak apa satu dua hari seperti itu
Semua menduga ini tak akan lama
Yang terjadi malah sebaliknya

Dadang koma semakin lama
Seminggu, dua minggu, sebulan
lima minggu hingga dua bulan
Selama itu pula Tisa bertahan

Dokter ahli mulai beri pencerahan
Halus sekali agar tak luka perasaan
"Tisa, sudah kita lakukan segala
Dadang masih koma saja
Kita menunggu keajaiban."
Dimaksudkan agar Tisa mulai pasrah

Tisa selalu melawan, tidak!
Ia menafsir sesuai harapan
Dokter ia yakinkan
Selalu ada keajaiban!

Keluarga sudah mulai mendekati
Membisiki halus sekali
Telah dicoba segala cara
Kita pasrah saja, ikhlaskan

Tisa tetap melawan: Tidak!
Mujikzat bagian kehidupan
Insya Allah, Dadang akan disehatkan

Sambil menunggu suami
Tisa rajin meneliti
Dikumpulkannya semua kisah keajaiban
Kepada yang datang ia rajin bercerita

Itu pak Budi dari kota seberang
Koma malah lima bulan
Eh, ia siuman dan normal kembali
Itu bukde Nani dari pulau lain
Malah tujuh bulan koma
Astaga ia sadar dan hidup normal

Keluarga mendengar saja
Mereka saling tatap mata
Tisa adik yang dicinta
Harapannya terlalu membara

Pernah keluarga besar berupaya
Siapa yang ditugaskan bicara?
Tisa harus tahu ihwal sebernarnya
Soal Dadang, harapan sudah tiada
Namun tak ada yang tega
Tisa mereka biarkan saja

-000-

Berita itu sampai sudah
Setelah dua bulan koma
Dadang akhirnya tiada
Tisa meraung sekerasnya
Tidak bersuara
Meraung dalam bisu
Tapi justru mencakar lebih kelu

Dalam doa ia ekspresikan semua
Ya Allah
Dua bulan sudah aku membujukMu
Kukirim aneka doa
Mengalir sudah air mata
Kuberi segala kupunya

Mohon Kau sembuhkan suami
Belum puas kami berumah tangga
Masih terlalu kecil anak kami
Api justru kau padamkan
Mengapa kau tak kirim mujikzat?

Selesai pemakaman,
kembali berdoa Tisa,
Meraung lebih lara
Tuhan, tanah menutupi tubuh suamiku
Terasa jasadku sendiri yang dikubur

Mereka membawaku pulang
Menjauh dari makam
Tapi yang mereka bawa hanya rangka
Hatiku masih di makam

Jiwaku masih disana
Menemani suamiku
Mengapa ia kau padamkan?
Mengapa keajaiban tiada Kau ciptakan?

Patah Tisa
Patah dunianya

-000-

Malam selanjutnya, Datang Pak Darta
Guru yang dihormatinya
Pak Darta memeluk Tisa
Diajak Tisa pasrah dan doa

Ayo Tisa
Hati kau buka

Ya Tuhan berikan kami keberanian
Mengubah apa yang bisa
Beri kami kepasrahan
Menerima apa yang tiada bisa diubah
Beri kami kearifan
Membedakan keduanya

Diajaknya Tisa berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Semakin lama semakin hening Tisa
Diingatnya buku puisi itu
Puisi Tafsir Quran ayat di surat Al Araf
Tentang kematian yang tak bisa ditawar
Tak bisa dimajukan atau dimundurkan
Tentang pentingnya kepasrahan
Tapa brata menghadapi kematian

Suatu sore yang tenang
Tisa mengunjungi Pak Darta
Mengapa masih susah aku menerima kematian?
Mengapa hidupku kini padam?

Ujar Pak Darta,
Tisa anakku
Hidup punya hukumnya
Hukum yang rendah
mengalah kepada yang tinggi
Hukum yang tinggi mengalah kepada yang lebih tinggi

Cintamu pada suami itu berkah
Telaga yang dalam dan indah
Namun ia harus tunduk
Lebih kuasa hukum yang lebih tinggi
Kematian itu hukum yang lebih tinggi

Datang dan pergi cinta, masih bisa kau ubah
Datang dan pergi kematian, tiada bisa kau arahkan
Semakin tinggi hukum kehidupan
Semakin tiada bisa kau kendalikan

Ketika kematian menghampiri,
Masih bisa kau halau
Namun ketika kematian sudah tiba
Kau hanya bisa berserah
Menerima Ia apa adanya
Yang tersisa hanya hikmah
Semakin kau lawan
Semakin kau luka

Kematian adalah raksasa
Manusia hamba sahaya

Menetes air mata Tisa
Pedih tak terkira
Diingatkan sebulan sebelum koma
Dadang mengajari bocah bicara
Sembilan bulan usia
"Aku sayang ibu"
Bocah mulai terbata
Belum jelas itu suara
Kematian kini memisahkan mereka

Tanya Tisa: Masih mungkinkah kita
Komunikasi dengan yang tiada?
Mungkinkah cinta penghubungnya?
Ujar Pak Darta: Alam gaib alam misteri
Kau temukan sendiri
Jawabnya ada dalam sepi

Malam itu, kembali berdoa Tisa
Ia mulai pasrah
Permintaannya satu saja
Ia ingin komunikasi sekali saja
Komunikasi setelah kematian

Tisa ingin sampaikan pesan
Ia dan bocah sudah pasrah
Kuat lanjutkan perjalanan
Ia ingin Dadang mengetahuinya
Agar damai di sisiNya

Tisapun berzikir khusyuk sekali
Tiga malam sudah

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Malam itu kamarnya harum bunga
Bocah terbangun dan berkata
"Aku sayang ibu."
Terkaget Tisa
Itu ucapan yang diajarkan suaminya

Menetes air mata
Meyakini ucapan bocah sebagai tanda
Kiriman doa sudah Dadang terima
Oh, cukup sudah

Kembali Tisa berzikir
Diajaknya bocah berzikir
Ia mulai pasrah menerima kematian
Sepasrah-pasrahnya

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

 

 

 

  • view 284