Yang Tak Tergantikan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 14 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Yang Tak Tergantikan

Sahur Hari Kesembilan belas

Yang Tak Tergantikan
Denny JA

Di ujung usiaku ya Tuhan
Tak ada arti ini kemewahan
Tak bermakna indah pemandangan
Kuingin lebih berjiwa
Pelukan orang yang kucintai
Tawa orang yang mencintaiku
Cengkrama dengan mereka

Menetes air mata Bu Ida
Usia 80 puluhan sudah
Sejak sore duduk di kursi roda
Ia berada di resort lansia
Resort paling mewah untuk lanjut usia

Putra tunggalnya Bana meyakinkan
"Ibu lebih senang di sana
Kumpul dengan teman seusia
Punya kawan bercerita
Indah pemandangannya
Lengkap fasilitasnya
Ada karaoke
Ada ruang film
Ada rumah sakitnya

Dikirimlah ibu ke sana
Di kaki gunung di luar kota

Setahun sudah ibu di sini
Tiga bulan sudah Bana tak kunjungi
Ada tawa dan canda teman seusia
Tapi ini sepi, dihilangkan tak bisa

Di malam puasa, berdoa Ibu Ida
Ya Tuhan yang mengatur peristiwa
Jangan pisahkan aku dengan anakku
Jangan pisahkan aku dengan cucuku
Mereka harta yang tak tergantikan

Ibu Idapun berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Seminggu kemudian di lain kota
100 Km jaraknya
Putranya Bana terpana
Bana pemilik rumah sakit besar itu kota
Ada permintaan pasien yang tak biasa

Lapor pak, ujar asistennya
Pak Ahmad di kamar VIP
Minta ruangan dihias balon
Minta kiriman banyak bunga
Dan ingin bicara dengan bapak empat mata?

Empat mata? Tanya Bana
Kamar dihias balon?
Kiriman bunga?
Siapa pasien ini?
Penyakitnya parah, pak
Usianya mungkin tak lama

Bana bergegas masuk ke sana
Pak Ahmad menatapnya
Mereka bicara berdua saja
Membahas pokok perkara
Ia sedang menunggu putranya

Ujar Pak Ahmad
Aku merasa berdosa
Sejak bayi kutinggalkan anakku
Menjadi pelaut dan pelancong

Usia anakku tiga puluh tahun sudah
Tak pernah sekalipun aku lihat wajahnya
Tak pernah pula aku dengar suaranya
Aku lupakan istriku
Aku lupakan anakku
Oh masuk neraka aku

Di ujung usia aku ingin menebusnya
Istriku sudah tiada
Tinggal anakku semata
Aku hanya ingin memeluknya
Aku ingin menyambutnya

Kumohon ijinmu menghias ruangan
Penuh balon dan bunga
Seperti aku menyambut kelahirannya

Tak masalah ujar Bana
Tersentuh hati Bana
Ini permintaan terakhir
Dari nyawa yang segera berakhir

Kemudian masuk seorang pria
Tiga puluhan usianya
Dan langsung memanggil: "Ayah"
Pak Ahmad minta anak itu mendekat
Dipeluknya anak itu dengan air mata
Maafkan Ayah, anakku

Pak Banapun menjauh
Meninggalkan kamar pelan pelan
Sempat terus diintipnya dari jendela
Pak Ahmad dan putranya bercengkerama
Oh bahagianya mereka

Mereka makan siang bersama
Makan malam berdua
Cengkerama dari pagi hingga sore
Berbagi kasih hingga Pak Ahmad tiada

Selesai sudah itu pertemuan
Barang pak Ahmad segera diserahkan
Putranya diminta tanda tangan
Namun sang putra tak bersedia

Maaf, saya bukan putranya
Anda bukan putranya?
suster dan admin tecengang
Ya, saya bukan putranya
Lho? Apa yang terjadi?
Anak muda itu diminta jumpa Pak Bana

-000-

Apa yang salah anak muda? Tanya Bana
Kurasakan Ayahmu bahagia
Dari pagi hingga sore bercengkrama
Anaknya ia temukan kembali
Baginya seperti mimpi
Kini kau mengaku bukan anaknya?

Ujar anak muda itu:
Betul pak Bana
Anak sebenarnya sedang sakit parah
Di sebrang samudra Ia
Saya sahabatnya
Sudah lama saya dengar ini cerita
Saya dengar pula usia pak Ahmad tak lagi lama

Anaknya tak bisa datang
Atas ijin anaknya, saya menggantikan
Pak Ahmad tak akan tahu
Tak pernah Ia jumpa anaknya
Namun bagi pak Ahmad,
penting ini pertemuan
Penting berbahagia di ujung usia
Ia ingin menebus dosa
Ia ingin jumpa lagi anaknya

Pak Bana terpana
Ia mendengar saja

Pak Ahmad senang berkisah
Entah benar entah salah
Saya hanya buka telinga
Berulang ia mohon maaf
Berulang saya maafkan
Berulang ia menyesal
Berulang saya kuatkan
Saya katakan saya sayang padanya
Betapa saya bangga padanya

Ia pergi dengan senyum bahagia
Dengan tangannya yang saya genggam
Ia mengira ini genggam anaknya

Berulang-ulang anak muda itu berkata

"Tiada yang lebih penting bagi manusia
Kecuali bahagia di ujung usia
Dan merasa dicintai
Walau itu hanya diangannya."

Tugas saya selesai sudah
Mohon saya pamit kembali kerja
Pergilah itu anak muda

-000-

Terdiam lama Pak Bana
Luar biasa itu anak muda
Menyempatkan diri jumpa
Menyebrangi samudera
Lalu berpura-pura
Hanya agar orang lain bahagia
Di ujung usia

Ia tiba tiba teringat ibunya
Yang juga sudah di ujung usia

Ketika ia belajar membaca
Ibu yang mengeja
Ketika belajar naik sepeda
Ibu yang menghela

Ketika pertama ke sekolah
Ibu yang mengantar
Ketika mengikat tali sepatu
Ibu yang membantu

Ketika ia sakit di masa remaja
Oh ibu cuti bekerja
Menemaninya saja

Banapun bertanya di hati
Ibu, apakah aku cukup membuatmu bahagia?
Memang kusediakan kemewahan
Tapi waktu bersama?
Astaga, sudah 3 bulan aku tak menjengukmu

Bana mengubah pikiran
Oh, jangan ibu selalu di rumah lansia
Sabtu dan minggu sebaiknya kumpul bersama

Bana datang ke rumah lansia
Setiap sabtu dan minggu
Ibu kini dibawanya pulang
Senin-Jumat, kembali ke sana
Mata ibu bahagia
Doanya dijabah
Bahagia pula Bana

Bu ida kembali berucap
Walau ada kemewahan
Walau ada keindahan pemandangan
Bukan alam benda yang bermakna

Mereka berzikir
Mensyukuri kebersamaan dengan orang yang dicintai
Itulah harta yang tak tergantikan

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

  • view 124