Kebaikan yang Tumbuh

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 13 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.9 K Wilayah Umum
Kebaikan yang Tumbuh

Sahur Hari Kedelapan-belas

Kebaikan yang Tumbuh
Denny JA

Kebaikan itu bahasa cinta, Adinda
Yang tuli bisa mendengarnya
Yang bisu bisa menyatakannya
Yang buta bisa melihatnya
Dilakukan tidak untuk umpan
Berbuat baik menjadi kebutuhan

Aku ikhlas adinda
Jangan kau dibebani
Aku hanya perantara
Itu kerja Dzat Ilahi

Membalas budi padaku?
Oh tiada perlu
Adinda berbuat baik saja
Itu cukup sudah

Jawaban itu lagi Ia terima
Silahturahmi tiga kali sudah
Tiga kali memohon ia
Ditolak tiga kali pula

Ya Tuhan, ujar Garda di hati
Bagaimana caranya membalas budi?
Pak Dedi menyelamatkan hidupku
Namun ia menolak balas budiku
Ujarnya lagi dan lagi:
Adinda berbuat baik saja

-000-

Garda teringat sebulan lalu
Tak ada lagi dana dari Ibu
Uang kuliah belum dilunasi
Ia terancam berhenti

Ketika lewat rumah sana
Dilihatnya laptop di beranda
Diam-diam rumah ia masuki
Laptop Ia curi
Akan dijualnya untuk uang kuliah

Oh malamg nian nasibnya
Ia ditangkap empat tetangga
Dipukul berkali kali
Diancam masuk bui

Tak ia duga, pemilik rumah mencegah
Pak Dedi namanya
Pak Dedi mengarang cerita
Jangan dipukul ia, saudara!
Anak muda ini pegawai saya

Saya yang menyuruhnya
Empat tetangga terpana
Astaga, kami salah sangka
Pak Dedi senyum saja

Garda lebih terpana
Oh sungguh ia tak percaya
Yang laptopnya dicuri membelanya
Pak Dedi mengajaknya bicara

Garda ceritakan pokok perkara
Pak Dedi merenung lama

Ujarnya, Dinda dengarlah
Kuberikan laptop itu padamu
Ini dana untuk kuliahmu
Jadilah insan berguna

Garda semakin terpana
Pak Dedi mengajaknya berdoa

"Wahai Dzat pengubah hati
Wahai kuasa pengatur peristiwa
Bekerjalah kehendakMu
Bukakan hati Dinda Garda
Dari gelap menuju cahaya
Tumbuhkanlah kebaikan di hatinya

Pak Dedi mengajaknya berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Entah mengapa Garda menitik air mata
Ada yang menyentuh hatinya
Dalam sekali
Lembut sekali

Berhari- hari merenung si Garda
Bagaimana bisa?
Ia mencuri laptop diberi laptop
Dan didoakan pula

Oh Pak Dedi mengubah hidupnya
Harus kubalas kebaikannya
Tiga kali ia silahturahmi
Niatnya membalas budi

Pak Dedi menolak selalu
Jawabannya itu melulu
Aku ikhlas adinda
Dinda berbuat baik saja
Itu cukup sudah

Namun malam itu
Di bulan puasa yang syahdu
Berzikir Garda sambil berdoa

Ya Tuhan berikanlah aku kesempatan
Aku ingin membalas kebaikan
Selalu ia terngiang ucapan Pak Dedi itu
"Tumbuhkan kebaikan di hatinya."

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Kuliah Garda lulus sudah
Menjadi dokter ia
Namun ini kota kecil
Iapun pindah ke kota besar

Dua puluh tahun kemudian
Ia menjadi dokter utama
Ia pimpin rumah sakit ternama
Penyakit kanker spesialisnya

Hari itu ia mendapat laporan
Ada pasien kanker pindahan
Seorang pak Tua dari kota kecil
Namun tiada cukup dana

Anak pak Tua itu menghadap

"Pak dokter, mohon waktu saja
Kami tengah kumpulkan dana
Kami akan menjual rumah
Mohon tangani Ayah
Sambil menetes air mata

Anak itu juga cerita
Ayah minta pulang saja
Ujar Ayah, tak perlu memaksa
Oh, jangan jual itu rumah
Tempat berteduh semua
Tapi bagi kami sekeluaga
Lebih penting hidup Ayah
Kankernya baru stadium dua

Garda datangi itu pak Tua
Pak Tua tak mengenalinya
Namun Garda mengenali itu mata
Oh ini Pak Dedi yang dulu membantunya

Esok hari
Anak pak Tua terpana
Tagihan rumah sakit dilihatnya
Sudah terbayar semua
Tapi yang membayar, siapakah?

Anak itupun menghadap Garda
Ujar Garda:
Pak Dedi sendiri yang membayarnya
Dua puluh tahun lalu, ia sudah memberikan dana
Ia membayar dengan laptop
Ia menambah dana kuliah pula

Kebaikan pak Dedi tumbuh sudah
Tumbuh dalam diri saya
Tumbuh dalam pengetahuan saya
Tumbuh dalam rejeki saya
Kini kebaikan itu berbuah
Bisa membayar biaya

Anak ini tak mengerti
Apa arti?
Ia belum lahir saat itu
Sesuatu terjadi di masa lalu?
Tapi ucapan itu mempesona
Kebaikan yang tumbuh berbuah

Ia akhirnya memahami
Di kamar itu pak Dedi gembira hati
Tak diduganya peristiwa ini
Oh ini Garda yang dulu
Teringat peristiwa 20 tahun lalu

Merenung Garda hingga jauh
Hidup penuh kejutan
Kadang datang keajaiban
Diantara dunia yang serba biasa
Kadang menjelma peristiwa tak biasa

Pak Dedi begitu baiknya
Balas budi tiada ia minta
Namun kebaikan itu tumbuh
Berbalik padanya tak terduga

Mereka bersyukur bersama
Menyempatkan berzikir pula

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

 

 

  • view 290