Cinta Yang Terus Menyala

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 12 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.9 K Wilayah Umum
Cinta Yang Terus Menyala

Sahur Hari Ketujuh-belas

Cinta Yang Terus Menyala
Denny JA

Wahai Dzat yang mengatur peristiwa
Duhai Kuasa yang gerakkan hati
Kuingin kekasih
semakin damai di sisiMu
Kirindu kekasih
semakin lapang bersamaMu
Bekerjalah kuasaMu
Agar janjinya terpenuhi
Turunlah RahmatMu
Agar Janjinya terdengar
Walau dengan cara tak biasa

Wanita tua itu khusyuk berdoa
Enam puluhan usia
Menetes air mata
Buah cinta yang menyala

Iapun berzikir

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Sepuluh hari kemudian
Jam 3 subuh yang kelam
Terbangun Bana terhentak
Mimpi itu datang lagi
Tiga kali sudah

Dalam mimpi Almarhum ayah menghampiri
Memberinya buku puisi
Astaga, apa arti?
Buku puisi?

Ketika mimpi pertama datang
Bana anggap hanya kembang malam
Paginya memang tak biasa
Buku puisi diberikan Rosa

Terkaget Bana: kok bisa?
Itu buku puisi milik Ayah
Ia warisi beserta harta lainnya
Bersama puluhan buku ia sumbangkan
Diberikan kepada Burhan
Hobi membaca itu kawan

Oleh Burhan dijual semua buku
Biaya ia perlu
Buku dibeli pedagang eceran
Di kampus ada pasar murah
Pedagang jual buku itu di pasar murah

Rosa di kampus membelinya
Ada puisi Ayah di sana
Rosa hadiahkan ke Bana
Astaga ujar Bana,
Buku puisi kembali padanya.
Kebetulan kah?

Namun mimpi mengganggu
Soal buku puisi itu
Ada apa?
Jam 3 subuh sudah
Buku puisi ia buka

Kumpulan 20 penyair terpilih
Ada satu puisi Ayah punya
Baru tahu si Bana
Setahun sejak Ayah tiada
Lima bulan sejak ibu tiada
Buku itu ia warisi saja
Tak pernah disentuhnya

Dibukanya karangan Ayah
Cukup panjang puisinya
Dibaca lagi bagian akhir

"Kaulah negri 1001 malamku
Kau lampu aladinku
Kau karpet terbangku

Kedalaman cinta
kudengar dari pujangga
Ketulusan kasih
Kutahu dari pemimpi
Oh kini kurasakan
Ketika kamu dalam pelukan"

Oh ujar Bana
Mesranya Ayah
Hati ibu pasti berbunga
Namun dilihatnya puisi bagian akhir
Untuk LM

Ha? Terkaget Bana
Siapakah LM?
Ibu bernama Tuti
Adakah LM nama samaran ibu?
Atau LM itu kekasih ayah yang lain?

Drama dimulai
Dilihatnya tahun penulisan
Tahun 75
Ayah dan Ibu jumpa tahun 78
Menikah tahun itu juga
Lahir Bana tahun 80

Penasaran Bana
Di halaman belakang tertulis pula
Jalan kemuning 31, dan kota kelahiran Ayah
Itu alamat siapa?
Berkunjung ke rumah kakek, ia pernah
Tapi tidak di jalan itu

Bana tenangkan diri
Ada apa di balik buku puisi?
Oh semakin banyak misteri

Iapun berzikir
Mohon petunjuk

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

-000-

Esoknya begitu kuat niat Bana
Misteri harus dipecahkan

Dicarinya di peta
Jalan kemuning? Oh tiada!
Tapi itu tahun 75
Seharian ditelusuri Bana
Ternyata Jalan kemuning berubah nama
Jalan Haji Salim gantinya

Bana terbang ke itu kota
Hari itu juga
Ada apa?
Lagi dan lagi Bana bertanya

Sampai ia di itu rumah
Rumah besar dulu kala
Jumpa Bana dengan penghuni
Ayah tidak diketahui

Kami beli rumah ini 10 tahun lalu
Mungkin pemilik lama yang tahu
Ini alamat pemilik lama
Alamat putri sulungnya

Sampai Bana ke pemilik lama
Wanita setengah baya menyambut
Welas asih wajah, walau keriput
Belum sempat Bana kenalkan diri
Wanita itu berkata
"Alhamdulilah, putra Pak Jaya tiba."

Terkaget Bana
Ibu itu perkenalkan diri
Lolo Mona namanya
Semakin kaget lagi Bana
Inikah LM, tertulis di puisi?

Bana tunjukkan buku puisi
Ibu itu masuk ke dalam
Diambilnya secarik kertas
Tulisan tangan Ayahnya
Puisi bentuk aslinya

Astaga, ujar Jaka
Kertas tua masih disimpannya

Mereka berdua bicara panjang
Dari pagi hingga malam menjelang
Tentang segala
Aneka duduk perkara

-000-

Bana disuguhi drama
Sebuah kisah cinta

Sebelum menikah dengan Ibu
Ayah dan LM sepasang kekasih
Ayah aktivis mahasiswa
Suka berpuisi
Sangat miskin hidupnya
LM setia disisi

Ujar Ayah saat itu penuh percaya
Penyair harus kaya raya
Berpuisi hanya untuk jiwa
Harus banyak luang waktunya
Itu tiada bisa
Jika penyair harus bekerja

Ayah lalu berniat ke kota
Membuka usaha
Ia ingin kaya raya
Tak lagi perlu bekerja
Waktu untuk puisi saja

LM menjual perhiasan
Mengambil semua tabungan
Untuk modal Ayah
Oh mimpi kekasih
Mimpinya juga
Diberikannya segala

Ujar Ayah, setahun saja ia di kota
Setelah itu LM akan dibawa
Membangun rumah tangga sakinah

Kejadian tak terduga
Terlilit hutang Ayah
Ia ditolong pengusaha
Entah mengapa?
Akhirnya Ayah menikah
Dengan anak gadis itu pengusaha
Gadis itu ibunya
Pengusaha itu kakeknya

LM tetap hidup sebatang kara
Ia tak menikah
Ayah itu mataharinya
Cinta masih menyala

LM hanya pasrah
Namun ada janji Ayah
Yang belum terpenuhi
Sebelum Ayah ke kota
Ayah dan LM berdua saja
Berdoa di beranda Mushola
Janji Ayah nanti jika ia kaya
Mushola ini akan dibangunnya

Berkali kali Ayah katakan itu
Ujar LM, hati hati jika berjanji
Apalagi janji dengan doa
Apalagi janji di mushola
Apalagi janji membangun Mushola
Janji itu bernyawa
Ia akan terus menagih
Insya Allah, jawab Ayah

LM mengajak Bana ke sana
Seru LM
Lihatlah sekeliling
Hampir roboh itu mushola
Kuingin Ayahmu ringan di sisiNya
Itu hanya jika janji terpenuhi

Bana bertanya
Mengapa LM tak mencarinya?
Menyampaikan janji Ayah
Ujar LM aku menghubungimu lewat doa
Biarlah Tuhan yang bekerja
Bana makin terpana

Bana niatkan segera
Akan dibangunnya Mushola
Ia penuhi janji Ayah

Dilihatnya wajah LM
Diingatnya puisi Ayah
Wahai asmara
Cinta wanita ini terus menyala
Alangkah hebatnya
Cintanya lebih luas dari cakrawala
Lebih dalam dari samudra
Bahkan itu cinta tak diberikan ibunya

Tak ia sangka
Begitu jauh buku puisi membawa
Tak ia duga
Cinta begitu bercahaya

Kisah seorang wanita
Memilih sebatang kara
Memelihara setia
Oh, menetes air mata Bana

Dalam doa, Bana berkata
Ayah, tahukah dirimu?
Ini cinta yang tak biasa
Ia masih setia
Apa kau juga mencintainya?

Banapun berzikir
Mensyukuri pengalaman cinta

La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

 

 

  • view 274