Kisah Pembawa Bunga

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Kisah Pembawa Bunga

Sahur Hari Ketiga-belas

Kisah Pembawa Bunga
Denny JA

Hidup adalah tungku
Cinta adalah api
Tungku dihangatkan api
Hidup dihangatkan cinta

Jika cinta padam
Padam pula hidup
Padam pula dunia

Bersenandung Mona kisahkan cinta
Tapi apa daya,
ia terima hanya hampa

Berminggu sudah Mona berdoa
Mengobati luka menganga
suami hilang sudah
Walau suami pulang ke rumah
Yang pulang hanya raganya
Yang pulang hanya rangka
Tiada lagi gelora
Kemana perginya itu romansa?
Tanya Mona dalam duka

Usia pernikahannya
Sepuluh tahun sudah
Surga hadir di tahun pertama
Dipegangnya itu buku puisi
Kumpulan ekspresi hati
Digubah suami terkasih
Seminggu sekali
Selama setahun yang asri
Amboi, mesranya

"Mona, kau lilin hidupku
Jika kau padam
Padam pula aku."

Namun lewat tahun pertama
Sisanya hambar belaka
Tiada keluarga yang sakinah
yang mawaddah, yang wa rahma

Suami menjadi selebriti
Dipuja di sana, di puja di sini
Tiada lagi peluk mesra
Tiada lagi waktu berdua

Suami sibuk berkarya
Ramai di berita
Tapi sepi di rumah
Apa yang salah?
Tanya Mona perih

Di bulan Ramadhan Karim
Doa Mona kirim
Ya Allah, yang maha kuasa
Kembalikan suamiku
Kembalikan kekasihku
Ku ingin seperti dulu

Mona pun berzikir

Lailaha Illallah, Lailaha Illallah
Lailaha Illallah, Lailaha Illallah
Lailaha Illallah, Lailaha Illallah

Kembalikan api cinta
Kuingin hidup menyala
Turunkah KuasaMu
Walau dengan cara tak biasa

-000-

Bana nama suaminya
Seniman serba bisa
Waktu hanya untuk berkarya
Lupa istri, lupa keluarga

Oh hidup sungguh bergelora
Kurekam dalam karya
Kusebarkan karya pada dunia
Agar bumi terasa surga
Selalu bergairah si Bana

Entah mengapa di Jumat pagi
Mobil dibelokkannya ke kiri
Pergi menuju kantornya
Namun lewat jalan tak biasa

Di pinggir jalan sana
Bana melihat pak Tua
Duduk menunggu Bus Kota
Membawa aneka bunga
Dipegangnya penuh cinta
Lalu Pak Tua naik Bus Kota

Ada apa itu Pak Tua?
Terkesan si Bana

Jumat minggu depannya
Bana melihat pak Tua yang sama
Juga membawa bunga
Juga menunggu Bus Kota
Jumat dua minggu ke muka
Bana melihat hal yang sama
Bunga itu dibawa kemana?
Entah mengapa penasaran Bana

Di jumat ke lima
Diikuti itu Bus kota
Dilupakannya ia punya acara

Dari Bus Kota, Pak Tua turun
Lalu berjalan sendiri
Dari mobil, Pak Bana turun
Berjalan mengikuti

Astaga, ke sana rupanya
Pak Tua ke kuburan lama

Dari balik pohon, diintipnya
Duduk, khusyuk berdoa pak Tua
Diletakkannya bunga penuh cinta
Diiringi air mata
Dibelainya itu pusara

Setiap jumat pagi pak Tua itu ke sini
Ujar penjaga makam
Itu makam istrinya
Wafat sudah lama

Setiap jumat bertahun- tahun?
Tanya Bana menganga
Ya pak, dan selalu membawa bunga
Sejak hari pemakaman
Hingga hari ini
Kadang di makam, ia menulis puisi

Bana terkesima

-000-

Ketika pak Tua pergi
Kini Bana mendekati pusara
Terbaca nama wanita
Wafat 10 tahun lalu

Entah mengapa
Pak Bana duduk tafakur
Dirasakannya di aura pusara
Cinta sepasang kekasih
Cinta yang tak dipisahkan ruang
Cinta yang menembus waktu

Ada yang menyelinap di hati Bana
Oh cinta seperti ini, masih adakah?
Ada yang mengetuk pintu hatinya
Membuka memori lama

Ditatapnya pusara dalam sekali
Ia teringat istri

Terpana pak Bana
Pusara berubah menjadi layar
Bergerak seperti televisi
Di pusara itu
Ia lihat wajah istrinya
Dan peristiwa lain masa

Oh, ikhlasnya istri
Itu 10 tahun lalu
Sedang menjual emas warisan
Kumpulkan dana
Untuk modal suami berkarya
Astaga!
Memori itu menghentak Bana

Pak Bana terkenang
Buku pertama karyanya
Ditolak semua penerbit
Diterbitkannya sendiri
Dengan dana istri jual warisan
Akhirnya laris manis

Terlihat jua di pusara itu
Ketika istrinya sakit
Itu 9 tahun lalu
Siang malam bekerja
Ketika belum ada pegawai

Kembali itu memori
Tampak wajah istrinya pucat pasi
Menahan sakit parah
Namun ikhlas karena cinta

Saat itu Istri kerja ekstra
Membantu ikhtiar Bana
Mengepak buku karyanya
Dikirim ke segala wilayah

Bana melejit ke udara
Mendadak terkemuka
Mendadak kaya
Wawancara sini dan sana
Habis waktu untuk karya

Di lihatnya di pusara itu
Gambar peristiwa terkini
Wajah istrinya yang sedih
Sepi sendiri,
Suami tak menemani
Oh, alangkah beda
Apa yang salah?

Merenung lama Si Bana
Aku kini, seperti itukah?

Menetes air mata Bana
Tak ia duga
Pak Tua pembawa bunga
Yang menunggu bus kota
Membawa ini suasana
Menyeretnya jauh ke sini
Jauh sekali mengubah hati

Banapun rindu masa silam
Rindu cinta yang kini padam

-000-

Esok hari
Masih di bulan puasa
Ketika membuka kamar
Terkejut Mona melihat bunga
Ada puisi di sebelahnya

"Mona, kau lilin hidupku
Padam lilinmu
Kunyalakan kembali"

Tahulah si Mona
Doanya dijabah

Suami telah kembali
Kekasih datang lagi
Yang pulang ke rumah
Tak hanya raganya
Tapi juga jiwa
Juga gelora
Juga romansa

Bersyukur si Mona
Iapun berzikir

Lailaha Illallah, Lailaha Illallah
Lailaha Illallah, Lailaha Illallah
Lailaha Illallah, Lailaha Illallah

 

 

  • view 323