Kisah Pencerita Dongeng

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 06 Juni 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Kisah Pencerita Dongeng

Sahur hari Kesebelas

Kisah Pencerita Dongeng
Denny JA

Realita alangkah keringnya
Fantasi obatnya

Peter Pan terbang di udara
Usianya tak kunjung menua
Gatot Kaca begitu perkasa
Kawat ototnya, besi tulangnya
Putri duyung menyelam samudra
Jelita parasnya, ikan ekornya

Bim salabim, Aba kadabra
Inilah dunia fantasi
Semua hidup di kepala Baba
Serba ajaib
Serba tak biasa
Dunia penuh imajinasi

Lima tahun tak terasa sudah
Menjadi pendongeng si Baba
Diundang di sini dan sana
Mengajar ilmu dan kearifan
Tumbuhkan budi, nyalakan pekerti
Suburkan fantasi, hidupkan mimpi

Semua lancar jua
Hingga datang suatu masa
Berjumpa Lolo, bocah kelas tiga
Lolo percaya dunia fantasi
Percaya hingga ke hati

Ia menulis karangan
Ia meminta Baba antarkan
Lolo ingin karangannya dibaca
Oleh ibunya yang kini di surga
Ibunya sudah setahun tiada
Baba terpana

-000-

Ujar Baba, hidup adalah fantasi
Sumbunya imajinasi
Tapi hati harus ceria
Perbuatan baik apinya

Sentuhlah hati
Nyalakan cinta
Itu inti semua Dongeng si Baba
Dikemas dalam cerita rakyat
Diolah dalam hikayat
Diselipkan dalam mitologi
Disisipkan dalam sejarah

Kini menjadi Abu Nawas, Baba
Berpakaian zaman bahela
Tumbuh janggut lebat
Kepala memakai sorban
Tak lupa selop terompah
Pedang besar di kanan

Diundang sekolah dasar Ia
Datang seminggu sekali
Mengajar bocah kelas tiga
Bocah sudah menulis membaca
Baba sampaikan kisah jenaka

Suatu hari Abu Nawas lesu
Bulak balik jalan di bawah lampu
Berjam- jam sudah

Tetangga bertanya
Abu Nawas kau mencari apa?
Aku mencari kunciku yang hilang
Tetangga: hilangnya dimana?
Abu Nawas: Hilang di kamarku
Tetangga: Mengapa tak mencari di kamar?
Abu Nawas: Kamarku gelap. Lebih nyaman mencari di sini. Terang lampunya

Baba sampaikan pesan moral kisahnya
Betapa seringnya manusia
Mencari bukan pada sumbernya

Para murid tertawa
Satu kelas ceria
Tapi satu murid murung saja
Lolo namanya
Awan mendung di matanya
Sepi yang duka

Selesai berkisah
Lolo bertanya
Abu nawas sudah mati kah?
Ya, Jawab Baba
Aku Abu Nawas, mati abad 13

Apakah Abu Nawas jumpa ibuku ?
Ibuku juga sudah tiada
Dulu ibu menemaniku
Setiap malam membaca kisah

Ibu pergi setahun sudah
Pergi mendadak saja
Kata Ayah, ibu ke surga
Tapi tak ada pesan apa apa
Entah mengapa

Baba Terpana
Ia harus jawab apa?
Tak Tahan ia
Wajah Lolo oh lugunya
Tapi lukanya menganga

Guru Eni duduk di sana
Selalu saja temani Baba
Mereka saling tatap saja
Baba perlu jawab segera

-000-

Lolo ulangi pertanyaan
Jumpa ibuku kah di sana?

Spontan saja menjawab Baba
Ya, Aku jumpa ibumu
Wajah Lolo berubah ceria
Apa pesan ibu buatku?

Spontan pula menjawab Baba
Ibu ingin kamu ceria
Buat karangan soal Abu Nawas
Cepat sekali Lolo menjawab
Aku akan mengarang Abu Nawas
Kutulis di atas kertas
Tolong Abu Nawas bawa karanganku
Kuingin dibaca ibu

Ya, ujar Baba
Ibumu pasti senang membaca
Karanglah sebagusnya

Minggu depan Baba menjadi Gajah Mada
Lolo juga berkata
Aku akan mengarang Gajah Mada
Ku tulis di atas kertas
Ku ingin Ibu membacanya
Bawa kertasku ke Ibu

Dua bulan sudah berlalu
Baba mainkan aneka peran
Kadang Socrates, Kadang Diponogoro
Kadang HC Anderson, Kadang RA Kartini

Lolo semangat mengarang
Apapun peran Baba
Dituliskannya di atas kertas
Untuk disampaikan pada ibu
Di surga sana

Lolo yang pemurung
Kini riang kembali
Dulu ibu mendongeng untukku
Kini aku kirim kisah untuk ibu

Guru Eni mulai cemas
Benarkah tindakan Baba?
Berdua mereka menghadap kepala sekolah
Untuk Lolo, ini bagus kah?

Ajarkan anak anak realita
Walau pahit tapi nyata
Itu titah Kepala sekolah
Ia sampaikan instruksinya
Dongeng dihentikan saja

Ujar Baba sebaliknya
Anak anak butuh fantasi
Mereka perlu imajinasi
Bukan dongeng sembarang dongeng
Tapi dongeng tumbuhkan makna
Dongeng berisi petuah
Dongeng perkaya realita
Anak- anak akan kaya persepsi

Ujar kepala sekolah
Ilmu pengetahuan sudah membunuh dongeng
Jangan dihidupkan lagi
Anak anak jangan diberi ilusi

Kembali menimpali Baba
Mana bisa kita tinggalkan fantasi?
Bukankah demikian kita berevolusi?
Di masa kanak kanak peradaban
Nenak moyang juga penuh fantasi
Dewa dan dewi turun ke bumi
Bahkan ketika ilmu pengetahuan Tiba
Kita tetap butuh imajinasi

Kepala sekolah berbeda pandangan
Baba diberhentikan

-000-

Namun Baba teguh keyakinan
Mendongeng di sini dan di sana
Sungguh kering realita
Oh, hanya fantasi obatnya

Baba tetap diterima di banyak sekolah
Lain sekolah lain kebijakan
Oh, Fantasi jangan disepelekan
Realita harus digairahkan

Sepuluh tahun berlalu sudah
Baba duduk di kantor sendiri saja
Pintu diketuk, Tok tok tok
Masuk seorang gadis belua

Membawa aneka buku karangannya
Oh begitu banyak judulnya
Perkenalkan diri
Saya Lolo
Murid bapak sepuluh tahun lalu

Terkaget Baba
Ini bocah yang dulu duka
Kini tumbuh wajah ceria
Oh betapa bera

Lolo haturkan terima kasih
Kini ia pengarang fiksi
Tak lupa ia dongeng si Baba
Kisah Abu Nawas
Hingga jumpa ibunya di surga

Sambil tertawa Lolo bertanya
Sampaikah karanganku dulu ke Ibu?
Baba ikut tertawa
Itu peristiwa terus menyala

Beranjak remaja semua terbuka
Lolo mulai menyadari realita
Kisah Ibunya fantasi belaka
Tapi saat itu ia butuhkan
Memberinya makna
Membuatnya bahagia
Menggairahkan imajinasi

Baba senyum bahagia
Lolo senyum ceria
Mereka koor bersama

Manusia butuh fantasi
Hidup perlu imajinasi
Keringnya realita
Fantasi obatnya

Baba mengajak Lolo hening cipta
Mengunjungi Ibunya dalam doa
Ke lain alam berfantasi
Seraya zikir bersama
Lolo melihat langit indah
Ibu senyum padanya
Ikut berzikir pula

La Ilaha illlalah, La Ilaha Illallah
La Ilaha illlalah, La Ilaha Illallah
La Ilaha illlalah, La Ilaha Illallah

  • view 147