Hidup yang Ketiga

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 30 Mei 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

11.2 K Wilayah Umum
Hidup yang Ketiga

Sahur Hari Keempat

Hidup Yang Ketiga
Denny JA

Dua kali sudah ia hidup
Dua kali pula ia mati

Khusyuk berdoa Sidarta
Memohan datang cahaya
"Tunjukkan aku jalan yang lurus
Jalan yang Kau ridhoi"

Iapun berzikir
Tasbihnya ikut berzikir
Sajadahnya ikut berzikir
Pintu dan jendela di kamarnya
Lampu dan lantai di ruangnya
Semua ikut berzikir

La Ilaha Illallah, La illaha Illallah
La ilaha Illallah, La Illaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Illaha Illalah

Kemana aku harus melangkah?
Kemana harus kuarahkan jiwa?
Niat di awal tentukan segala
Niat itu ibu duka
Niat itu ibu makna

Sidarta termangu di atas sajadah
Datang penglihatan batin
Nampak dua makam dari dua jasad
Terbayang dua hidupnya yang lalu

Hidup ketiga datang sudah
Ini hidup terakhir kalinya
Karena kuasa Tuhan semata
Ia diberikan berkah
Menyelami dunia
Menggali hikmah
Untuk hidup tiga kali
Dan mati tiga kali

-000-

Dipandangnya makam paling tua
Ini hidupnya yang pertama
100 tahun lalu
Ia Sidarta yang perkasa
Selalu ingin raksasa
Ingin mengubah dunia
Ingin membalikkan sejarah

Saat itu bagi Sidarta
Tak penting segala
Apakah menjadi saudagar?
Apakah menjadi ilmuwan?
Apakah menjadi pemimpin?

Yang penting ia hidup di kanvas besar
Semua serba bersinar
Ia ingin dicatat sejarah
Ingin nama dihafal sekolah
Dikenang mampu goyangkan samudra
Diingat gerakkan gunung nan perkasa
Dikelilingi tepuk tangan membahana
Puji di sini, puja di sana
Oh Sidarta yang kuasa
Tanpanya, peradaban tak lah cerah

Namun apa yang terjadi?
Ia tua dan mati
Tiada tugu buatnya
Tiada perolehan kelas dunia

Nampak Sidarta lelah dan sedih
Terbungkuk jiwa pikul ambisi
Hingga renta dibebani mimpi
Merangkai waktu dengan ilusi
Mati dalam sepi

Selesai sudah hidup pertama
Sidarta dimakamkan sederhana
Ambisi sia sia
Mimpi beranak duka

-000-

Sidarta teteskan air mata
Telat mengambil hikmah
Dilihatnya makam lainya
Ini Sidarta yang kedua
Ia hidup 50 tahun lalu
Sudah bedakah Sidarta?

Dalam hidupnya yang kedua
Ia belajar sudah
Sidarta turunkan ambisi
Tak berarti tidak bermimpi

Tak perlu mengubah dunia
Cukup ia ubah negara
Tak perlu warnai benua
Cukup ia warnai kota

Tak perlu guncangkan samudera
Cukup ia aduk aduk telaga
Tak perlu ia gerakkan gunung
Cukup ia daki aneka puncak

Dalam hidupnya yang kedua
Tetap hidup Sidarta yang sama
Hanya beda kanvas saja
Tak lagi serba raksasa

Ia tetap ingin tepuk tangan
Walau tak seheboh dulu
Ia tetap ingin masuk sejarah
Walau tak sebesar dulu

Tapi apa yang terjadi?
Kembali Sidarta renta dan mati
Tepuk tangan tiada mengiringi
Tiada pula heboh prestasi

Jiwanya terbungkuk memikul
mimpi
Walau tak sebungkuk dulu
Wajahnya lelah beban ambisi
Walau tak selelah dulu

Selesai sudah hidup kedua
Tiada Sidarta berkuasa
Tiada pula ia bermakna
Mati dengan merana

-000-

Tinggal sekali lagi kesempatan Sidarta
Memulai hidupnya yang ketiga
Ia Sidarta masa kini
Niat hidup bagaimana harus tumbuh di hati?

Sidarta ingin hidup sejati
Menggapai makna tertinggi
Berhari hari ia berzikir
Berhari hari ia tapa brata

Oh Tuhan yang kuasa
Sentuhlah aku
Masukkan cahaya
Jadikan aku suling nafasMu

La Ilaha Illallah, La illaha Illallah
La ilaha Illallah, La Illaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Illaha Illallah

Ujar Sidarta
Aku hanya ingin cinta
Lakukan kebaikan saja
Dekati cahaya surya
Hidup yang penuh makna

Kugali ilmu karena cinta
Kuperbanyak harta karena cinta
Kuhimpun kuasa karena cinta
Aku bernafas karena cinta

Kusebar ilmu karena cinta
Kubagi harta karena cinta
Kujalani kuasa dengan cinta
Kubagi hidup karena cinta

Lebih penting sentuh hati
ketimbang guncang samudera
Lebih makna tolong tetangga
Ketimbang pindahkan gunung
Lebih penting tebar kebaikan
ketimbang bunyi tepuk tangan
Lebih utama pancarkan cahaya
Ketimbang kalahkan siapa
Dunia yang damai
Dimulai dari hati yang damai

-000-

Suatu ketika dunia gelap gulita
Manusia meraba raba
Untung di bumi banyak cahaya
Salah satunya memancar di sana
Cahaya jiwa Sidarta

Sidarta justru menjadi cahaya
Ketika itu bukan tujuan utama
Ia justru menerangi dunia
Ketika itu bukan mimpi utama
Ia menjadi obor saja
Cinta menjadi apinya

La Ilaha Illallah, La illaha Illallah
La ilaha Illallah, La Illaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Illaha Illalah

***

 

 

 

  • view 759