Kisah Secarik Kertas Doa

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 28 Mei 2017
Puisi Ramadhan

Puisi Ramadhan


Renungan

Kategori Spiritual

10.4 K Wilayah Umum
Kisah Secarik Kertas Doa

Sahur Hari Kedua

Kisah Secarik Kertas Doa
Denny JA

Di tengah malam buta
Di awal bulan puasa
Ketika hening gelap gulita
Pak Ahmad kaget terpana
Ada yang mengetuk pintu
Tok, Tok, Tok
Jam 2.00, awal subuh

Siapakah gerangan itu?
Hujan tengah menderu
Angin keras menggebu
Pintu dibuka
Tak ia kenal seorang tua
Berkuyup basah

Silahkan masuk
Pak Ahmad bertanya, ada apa?
Bertamu jam 2.00 subuh?
Pak tua tak bicara

Pak Ahmad menuntunnya duduk di sofa
Kembali ia bertanya
Ada apa?
Pak Tua tak bicara

Baju diberikan
Badan pak tua dikeringkan
Karena besok puasa
Tak lupa sahur bersama

Istri pak Ahmad bertanya
Anak pak Ahmad bertanya
Ada apa?
Pak Tua tetap tak bicara

Tetapi matanya penuh misteri
Wajahnya welas asih
Ia pamit pulang
Begitu saja
Hanya satu kalimat ia sebut
Akan ada bencana
Dan ia berikan secarik kertas doa

Bencana?
Ini kertas doa untuk apa?

Pak Tua tak bicara
Ia pergi begitu saja
Pak Ahmad dan keluarga terpana
Apa gerangan maknanya?

-000-

Pak Ahmad guru sebuah desa
Hidupnya bersahaja saja
Hatinya sungguh kaya
Penuh doa dan bantu tetangga

Ia suka berderma
Kadang dengan harta
Kadang dengan tenaga
Selalu dengan doa

Suatu ketika Pak Ahmad bersedih
Dalam doa disampaikannya perih
Semakin banyak penduduk desa
Semakin banyak pula derita

Pak Ahmad tafakur sepanjang hari
Mencoba mencari solusi
Seminggu sudah sholat malam
Mohon diberi jalan
Mohon datang keajaiban
Mohon kirim mujikzat
Mohon peristiwa tak biasa

Iapun berzikir sepanjang malam
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah

Hingga datang suatu malam
Pintu diketuk seorang tua
Memberi secarik kertas doa

-000-

Seminggu berlalu
Tak diduga bencana tiba
Banyak roboh rumah di desa
Kelaparan dimana - mana
Oh celaka!
Perlu bantuan segera
Apa yang harus aku lakukan
Pak Ahmad gelabakan

Teringat ia pesan pak Tua
Diingatnya secarik kertas doa
Tapi ini untuk apa?
Pak Ahmad pejamkan mata
Mohon dituntun ia punya langkah

Pagi harinya
Pak Ahmad pergi ke kota
Mengunjungi super market mewah
Harus dibawanya makanan segera
Harus pula banyak jumlahnya
Lapar memenuhi di desa
Lapar dimana mana

Pemilik toko bernama Tingkir
Ia kaya tapi kikir
Bederma, ia mangkir
Hidupnya mencari laba
Hanya laba
Laba Tuhannya
Laba nabinya
Laba agamanya
Jika perlu, rela menghina

Kepada pak Ahmad, ia bersabda
Hanya dengan dana kau boleh belanja
Aku bukan penderma
Tanpa dana, enyah saja

Pak Ahmad sodorkan secarik kertas doa
Diceritakannya desa sedang bencana
Terimalah kertas doa
Sebagai pembayarannya

Kertas doa?
Aku tak perlu
Bayar dengan uang berjuta
Atau enyah segera

Pak Ahmad kembali mencoba
Bayar dengan secarik kertas doa

Begini saja
Ujar Tingkir menghina
Kau boleh ambil makanan
Seberat secarik kertas doa
Kita timbang bersama

Sang pemilik memanggil semua karyawan
Ayo bersama saksikan
Timbangan ia keluarkan
Secarik kertas doa di kanan
Di kiri aneka makanan

Ujar Tingkir dengan menghina
Dengarkan semua
Ini aku punya sumpah
Kujanjikan pada ini pak tua
Gratis semua yang ada
Seberat ia punya secarik kertas doa

Karyawan tertawa bersama
Geli terbahak bahak
Mereka menghina bersama
Tak ada makanan di sana
Yang lebih ringan beratnya
Ketimbang secarik kertas doa

Tapi Tingkir perlu menghina
Penghibur jiwa yang lelah
Pak Ahmad mereka permalukan
Mereka butuh penghinaan.
Sebagai pengusir dahaga
Sebagai pengusir lapar puasa

Adegan menimbang dimulai segera
Pemilik terkaget luar biasa
Karyawan terbelalak mata
Selalu lebih berat secarik kertas doa
Makanan lebih ringan belaka
Sebanyak apapun jumlahnya

Sudah habis separuh toko
Kertas doa lebih berat
Sudah habis isi toko
Kertas doa lebih berat

Habis seluruh makanan ditimbang
Kertas doa lebih berat

Sesuai dengan sumpah
Makanan Pak Ahmad bawa
Semua, tiada tersisa
untuk dibagikan ke desa
Gratis belaka

Pemilik mengurung diri
Merenung berhari-hari
Mencari dan menggali hikmah
Ini aneh tapi nyata

-000-

Pak Ahmad pulang ke desa
Pikirannya kian terbuka
Ternyata secarik kertas doa
Telah menolong bencana

Di perjalanan direnungkannya
Kekuatan sebuah doa
Mujikzat sebuah doa
Keajaiban sebuah doa
Walau hanya tertulis
Di selembar kertas belaka

Ia pun berzikir
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah
La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah